oleh

Bedah Buku “Obrolan Lockdown” di Hore Cafe

Spread the love

Bedah buku Obrolan Lockdown karya Moh. Husen berlangsung khidmat dan penuh makna, dihadiri oleh seniman, budayawan yang tergabung dalam Dewan Kesenian Blambangan, Lesbumi PCNU Banyuwangi, beberapa aktifis sastra mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Banyuwangi, sastrawan muda dari berbagai komunitas seperti Komunitas Uni Santri Situbondo, Komunitas milenial pemerhati sastra, Komunitas seniman dan budayawan bersemangat mengikuti awal hingga berakhirnya acara di HORE angkringan dan apresiasi Jln. Letnan Sanyoto no 8 utara TMP – Tukangkayu Banyuwangi (8/4/2021).

Lounching dan bedah buku ” Obrolan Lockdown ” Karya Moh. Husen yang dikemas dengan Gesah budaya itu bertema seputar pembicaraan ngalor- ngidul pada sastra lainnya. Spesial untuk malam kamis malam jumat , dimulai pukul 19.00 -23.00 Wib.

IMG-20210409-WA0043

Suasana malam yang dingin berubah menjadi hangat dalam menyimak pemaparan Penulis bernama Moh. Husen dalam mendeskripsikan bukunya hingga dipenuhi kritik artistik para sastrawan dan budayawan yang hadir.

Buku yang dibedah karya Moh Husen berjudul ” Obrolan Lockdown ”
Dalam kesempatan ini hadir Hasan Basri , Ketua DKB dan Fatah Yasin Noor, sebagai pembedah buku sekaligus budayawan Banyuwangi, Aekanu Hariyono, Kjn. Ilham Triadi sosok Empu Keris, para pelukis Banyuwangi Abd. Azis dan Hari Momo, arkeolog Titien Fatimah, pegiat Budaya Kemendikbud Dwiki Nugroho M, Udik Bejo , komunitas Uni Santri Situbondo serta para milenial pecinta sastra.

IMG-20210409-WA0044

Moh. Husen penulis buku Obrolan Lockdown menyatakan bahwa buku ini temanya sosial yang Saya tangkap dari sesuatu yang ada pada diri saya sendiri, dari kumpulan esay sejak pandemi korona diumumkan pemerintah awal 2020 lalu diterbitkan dan menjadi buku yang ketiga sejak 2019 lalu. Dalam bukunya, pria penggemar karya Emha Ainun Najib ini menawarkan konten mengenai kehidupan sosial dan masyarakat dibalut dengan agama yang berkembang di tengah masyarakat, dengan menggunakan bahasa yang renyah, mudah dipahami pembaca.

Moh. Husen penulis buku Obrolan Lockdown menyatakan menulis bagi dirinya adalah refleksi dari apa yang dilihat, sebuah perenungan dengan melihat dari persfektif yang lain.  “Kehidupan membutuhkan dinamisasi, mengkomparasikan sebuah renungan, misalnya guyonan dengan cara bertutur,  ” jlentreh Husen.

Husen menjelaskan , Ia menekankan judul yang ia angkat sekilas memang tentang ketakutan akan korona, namun dalam konteks tidak seutuhnya menyinggung lockdown akibat pandemi korona, melainkan mengacu pada nilai-nilai inspiratif dalam kehidupan sehari-hari sosial bermasyarakat.

“Insyallah ke depan dalam menerbitkan buku berikutnya , dari pengalaman buku sebelumnya Saya menemukan banyak pengalaman yang menjadikan bahan evaluasi Saya, karena setiap seminggu sekali saya menulis melalui media online dan ketika nulis saya reflektif. Ada momen ya saya ikut beropini,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini hadir Hasan Basri, Ketua DKB dan Fatah Yasin Noor, sebagai pembedah buku sekaligus budayawan Banyuwangi, Aekanu Hariyono, Kjn. Ilham Triadi sosok Empu Keris, para pelukis Banyuwangi Abd. Azis dan Hari Momo, arkeolog Titien Fatimah, pegiat Budaya Kemendikbud Dwiki Nugroho M, Udik Bejo , komunitas Uni Santri Situbondo serta para milenial pecinta sastra.

Dalam pemaparannya dengan santai Fatah Yasin Noor menyatakan, “Husen adalah penyair yang cukup produktif, penulis yang merdeka, mau laku atau tidak karyanya di pasaran , Husen terus menulis, dalam teks’ kompilasi sudah bisa menyelesaikannya jadi sudah multitafsir tentang isi buku tidak ada gesekan antara yang pro dan kontra karena sudah sesuai dengan etika menulis, “tambah Fatah.

Ketua DKB Hasan Basri,
dalam sambutannya menyebut visi dari penulis adalah untuk meningkatkan semangat literasi untuk penerbitan sebagai pemicu semangat menulis sehingga bagi penulisnya sebagai pemantik untuk terus menghasilkan karya- karya yang best seller , Hasan juga sangat berharap agar audiens mau membeli buku ini sebagai penghargaan ‘bukan harga tapi nilainya, agar Moh. Husen bisa menciptakan karya-karya yang terbaik. Hasan Basri sangat mengapresiasi Obrolan Lockdown melalui dialog-pemikiran dengan gaya bahasa kekinian.

Sementara Moh. Husen penulis buku Obrolan Lockdown menyatakan menulis bagi dirinya adalah refleksi dari apa yang dilihat, sebuah perenungan dengan melihat dari persfektif yang lain.

” Kehidupan membutuhkan dinamisasi, mengkomparasikan sebuah renungan, misalnya guyonan dengan cara bertutur ” jlentreh Husen.

Husen menjelaskan , Ia menekankan judul yang ia angkat sekilas memang tentang ketakutan akan korona, namun dalam konteks tidak seutuhnya menyinggung lockdown akibat pandemi korona, melainkan mengacu pada nilai-nilai inspiratif dalam kehidupan sehari-hari sosial bermasyarakat.

Sementara Taufiq Wr Hidayat memaparkan bahwa “Husen me-launching buku “Obrolan Lockdown” ini dengan dibalut study gesah dan pesan yang tersimpan dalam buku ini yakni soal kemanusiaan , buku ini bertemakan kejadian sehari-hari perlu pendalaman sebagai adonan yang kental sehingga komposisi karya menjadi matang, sehingga sebuah karya harus dipoles terus menerus, “ucapnya.

Menurut Taufiq, orang yang menulis dan membuat buku itu adalah bunuh diri karena otak dan pikiran diperas untuk menciptakan sebuah karya indah yang luar biasa.

“Ya saya rasa, bagi yang ingin menulis ya ditulis saja, jadi caranya menulis itu..ya menulis! Bagi yang ingin melukis..,ya melukis! Jadi mengalir saja, nanti akan menemukan dengan sendirinya, kalaupun tulisan ataupun lukisan itu laku anggap sebagai bonus, gamblang pria yang Ketua Lesbumi Banyuwangi.(Ilham Triadi)