oleh

Fenomena Desa Kalang Kabut dengan Jargon “Adya Ta”

Ungkapan sederhana, apa adanya , dipadu dengan gaya ndeso, songkok miring dan mimik unik, menggelitik pasti menjadi daya tarik sendiri. Di kota Banyuwangi khususnya siapa yang tidak tahu dengan konten video khas :

“Adya ta… Adya ta…Kadung ada isun tak merono… (Apa ada? jika ada Saya akan kesana)

Demikian jargon atau ucapan khas kang Juned yang saat ini sedang hits di Banyuwangi.  Walaupun ingin menonjolkan aksen osing deles namun dengan bahasa campuran Indonesia dan plesetan/intonasi khas osing menjadi sesuatu yang sering disebut dan lantunkan mulai anak-anak hingga dewasa. Adalah si Juned atau yang bernama asli Fahrul Rozik asal desa Kalang Kabut, kecamatan Banyu Buthek, si aktor dalam konten sketsa komedi yang sedang viral di jagad medsos masyarakat Banyuwangi. Sebutan desa Kalang Kabut serta kecamatan Banyu Buthek (air keruh), kabupaten Banyu Bening di Negeri _absurd_ antah berantah adalah nama sebuah tempat khayalan untuk konten parodi dalam format video, (lihat chanel Faisal Ende,) menyisir kalangan bawah yang muncul dari kegelisahan masyarakat di situasi pandemi, dimana semua sektor dibuat kalang kabut dengan kondisi perekonomian yang jauh dari harapan…seperti sedang menyelam di air yang keruh, tanpa bisa melihat keadaan di sekitarnya. Si aktor yang berperawakan sedang dan sedikit tambun ini kesehariannya berprofesi sebagai sopir Ekspedisi terkenal dan legendaris di Banyuwangi, ini pun merasakan hal yang sama seperti orang lain, prihatin dengan situasi yang ada.

IMG-20211026-WA0102

Pria 43 tahun yang aslinya tinggal di RT 2 /1 Dusun Kertosari, desa Pendarungan, kec. Kabat, kabupaten Banyuwangi ini tidak menyangka bahwa jargon “Adya Ta” bisa begitu fenomenal di kalangan masyarakat luas, disamping itu tampilan khas songkok hitam yang dikenakan agak miring di kepala sangat pas dan khas ketika menyebut jargon tersebut.

Suami dari Iskanah ini menuturkan jika semenjak sering muncul di medsos, kesehariannya sedikit berubah, orang lebih banyak mengenalnya dibanding sebelumnya, sering disapa orang yang tidak dikenalnya, malah sering orang yang tidak dikenalnya tersebut mengajak foto bersama ketika ada kegiatan di desannya. Anak semata wayang kang Fahrul yang bernama Abdul Latif Arozik yang masih duduk di bangku SD kelas 3 pun sudah paham tentang aktivas apak’e (ayahnya ) yang sering kali syuting pembuatan konten film pendek, sehingga jarang sekali ada dirumah dan bangga karena ayahnya sering muncul di medsos sampai harus dibuat emo sticker di grup whatsapp.

IMG-20211026-WA0099

Ada satu lagi sosok yang sangat penting dibalik menggemanya jargon “adya ta” dan pembuatan film pendek desa Kalang Kabut beserta aktivasnya, yaitu Faisal Ende yang sekaligus nama chanel youtube konten ini. Pria lulusan ISI Yogyakarta ini sangat jeli melihat peluang ditengah dinamika kehidupan masyarakat di saat badai pandemi melanda, serta dampak bagi perekonomian masyarakat kelas bawah itu sendiri khususnya kabupaten Banyuwangi. Kang Faisal bisa dibilang dalang alias Sutradara atas pengerjakan video parodi ini, mulai menemukan talent, mencari lokasi pengambilan gambar yang berkutat di desa pendarungan dan mengeksplorasi potensi desa ini secara baik ditunjang masih menjaga kearifan lokal untuk meneruskan tradisi leluhur desa ini.

Ditemui di home base “Faisal Ende” di area rumah milik salah satu aktor Ustadik alias ustad Gebros dengan ciri khas tongkat dan kacamata hitamnya, Senin (25/10/2021) kang Faisal bercerita bahwa kakeknya nya memang berasal dari desa Pendarungan ini, sehingga seperti ikatan batin dirinya untuk memberikan sumbangsih terhadap kemajuan desa ini melalui jalur pembuatan film pendek yang menonjolkan keragaman masyarakat nya dan potensi alamnya yang luar biasa. Salah satu kru bernama kang Dullah pun mengamini bahwa peran natural apa adanya dan kekompakan team yang berjumlah hampir 15 orang ini bisa dijaga. Walaupun kadang dengan biaya patungan bersama team, untuk penggarapan film pendek ini, namun sistem kekeluargaan dan kebersamaan yang kental itulah yang selalu dijaga semangat plus niat baik dari team atau kru film pendek ini. Harapan dari team chanel Faisal Ende nantinya ingin sekali merambah ke TV swasta nasional ditambah ingin memberikan yang terbaik dan bermanfaat untuk team yang terlibat disini juga untuk mengharumkan asal daerah sendiri, yaitu desa Pendarungan khusus nya dan mengangkat citra nama baik Banyuwangi secara nasional. (Leo Prada)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *