Banyuwangi memang tidak pernah berhenti untuk berkreasi. Mengawali denyut nadi literasi Banyuwangi di tahun 2022, mengadakan kegiatan literasi yang merupakan bagian dari roadshow safari literasi duta baca Indonesia dengan Bapak Gong A Gong selaku sasatrawan dan duta baca literasi Nasional Selasa, (08/02/22).
Acara yang diselenggarakan di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten banyuwangi bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi dan Kominfo.
Bupati Banyuwangi, Ibu Ipuk Festiandani membuka secara langsung acara dengan penuh harap dan bahagia. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa “Banyuwangi sudah beberapa kali mengadakan kegiatan literasi, diantaranya dengan IDN Times dengan menghadirkan Najwa Sihab di tahun 2019. Selanjutnya guru-guru mengadakan kegiatan Tukar Tugu (Satu Karya Satu Guru) dan karyanya digebyar pada 28 Oktober 2020 di Pendapa Banyuwangi.” Masih dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa selayaknya orangtua dan guru harus sering kali mengawasi putra putrinya, karena saat ini literasi yang dibaca lbeih banyak literasi digital yang tidak ada editornya. Sehingga menurut Ibu Ipuk, berbicara literasi tidak hanya tentang bagaimana menulis, membaca dan bercerita, namun bagaimana kita membudayakan pada diri sendiri dan anak didik agar dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik, begitu juga mana yang benar dan salah.
Dengan datangnya para pakar literasi diantaranya, Teguh W. Utomo selaku penulis dan trininer MEP, Yusron Aminulloh yang juga merupakan tokoh literasi Nasional, serta Aditya Akbar Hakim selaku Sekjen Iqro’semesta. Harapan Ibu Ipuk selaku Bupati, lebih banyak menghadirkan siswa dan mahasiswa, agar mereka lebih termotivasi dan menginspirasi dari pakar-pakar yang ilmu dan pengalamannya luar biasa.
Menurut Drs. Zen Kostoloni, M.Si selaku Kepala Dinas Perpusip Kab. Banyuwangi dalam sambutannya menyampaikan, peserta pada acara ini dengan mengundang 8 pelajar, 10 Mahasiswa, 10 komunitas dan 80 guru. Beliau juga melaporkan bahwa Perpusda Banyuwang saat ini sedang mempunya program Lare Using yang kepanjangannya “layanan Referensi Using Singkat”.
Program ini berguna untuk membantu segala usia pengunjung perpusda yang ingin menulis baik itu tugas, karya ilmiah, skripsi maupun tesis. Beliau berharap, dengan adanya kegiatan ini, akan semakin banyak guru terinspirasi menambah referensi bagi calon-calon tulisannya akan datang.
Acara pembukaan kegiatan tersebut juga disuguhkan generasi literasi pencerita dan pembaca puisi bahasa Using yang menjuarai kegiatan lomba literasi using. Nazwa Adila Zelita dari SDN 1 Dadapan Kabat Banyuwangi dengan judul puisinya “Bahasa Using Sisik Melik Banyuwangi”.
Ada dua pencerita yakni Wina Leksi CA dari SDN 1 Olehsari dengan judul Asal-Usul Sukma Ilang dan pamungkas Faiza Al Safira dari SDN 1 Model dengan judul Asal-Usul Banyuwangi. Ketiganya menggunakan bahasa Using dan mereka merupakan siswa kelas V di sekolah masing-masing.
Bapak Gong A Gong dalam kegiatan tersebut juga mengapresi program ”Banyuwangi Reabound” yang merupakan jargon terbaru Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Dengan 3 pilar Banyuwangi Reubound Pemkab mengajak masyarakat untuk tangguh menghadapi pandemi. Begitu juga dengan komitmen birokrat Pemkab yang mengutamakan “Pelayanan Prima”, akan menciptakan Banyuwangi menjadi lebih baik dan llebih baik lagi. Beliau menyampaikan dan berharap, utamanya peserta yang didominasi oleh guru, tidak terjebak pada penilaian orang luar Indonesia yang menempatkan Indonesia pada angka kesekian dlam bidang literasi. Karena berdasarkan hasil survey serta perjalanan yang dilakukan oleh BApak Goang A Gong, ternyara sangat banyak sekali baik itu pelajar, guru, ibu rumahtangga ataupun dari berbagai macam profesi yang sudah dapat melahirkan buku.
Salah satu contohnya yang ditemukan di Mojokerto, beliau menemukan ada siswa SD yang sudah menulis 220 buku. Masih dari BApak Gong, memang senjata dari seorang penulis itu banyak membuka wawasan dan banyak membaca serta sekali waktu menyempatkan diri berobservasi. Minimal saat melakukan kegiatan perjalanan, tentu ada semesta yang ditangkap untuk bisa dijadikan bahan tulisan. Di Banyuwangi, beliau melakukan survey kecil-kecilan selama melakukan kegiatan safari literasi di Banyuwangi sejak 18 Januari 2022. Beliau mengambil satu kesimpulan, buku yang tersedia di Banyuwangi 1 banding 90 orang. Sehingga perlu ada evaluasi kedepan, apa yang selayaknya harus dilakukan dan ditingkatkan dalam menarik minat baca dan menambah referensi buku bagi banyak orang di Banyuwangi dengan berbagai inovasi mengadirkan buku sebagai kebutuhan agar menjadi budaya dalam kehidupan sehari hari. (Yeti Ch)


Komentar