BANYUWANGI – Sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Banyuwangi mengalami krisis siswa diantaranya terdapat di SDN 3 dan 4. Sekolah SDN tersebut bertempat di wilayah Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur. Minggu (16/10/2022).
Krisis siswa itu dialami oleh Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Tegalarum yang berlokasi diwilayah Dusun Tegalyasan, Desa Tegalarum jumlah siswa yang bersekolah saat ini kelas 1 sampai kelas 6 berjumlah 34 anak. Yang sangat menyedihkan tahun ini 2021-2022 hanya mendapat 1 siswa saja.
Sekolah Dasar (SDN) 3 Tegalarum, tahun ini siswa yang terdaftar hanya berjumlah 34 anak. Kelas satu 1 siswa, kelas dua 7 siswa, dan kelas tiga 5 siswa, kelas empat 7 siswa, kelas lima 6 siswa dan kelas enam 8 siswa.
Nanik Sri Utami Kepala Sekolah SDN 3 Tegalarum mengaku sangat kesulitan untuk megajar mengingat anak diusia mereka butuh banyak teman didalam kelas.
Maka untuk membuat siswanya nyaman pemilihan kelas diserahkan kepada siswanya sendiri yang mau bergabung dikelas mana saja.
“Untuk teknik belajarnya maka digabung dengan kelas lain dan untuk yang hanya satu siswa dijadikan satu dengan didampingi guru kelas satu.” Terang Nanik.
Selama ini para dewan guru sudah melakukan berbagai upaya agar siswanya bertambah, salah satunya langsung pendekatan kepada masyarakat lingkungan agar anaknya yang akan masuk sekolah bisa disekolahkan di SDN 3 Tegalarum.
Minimnya siswa juga dirasakan oleh Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Tegalarum yang juga berlokasi di Dusun Tegalyasan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu.
Sekolah tersebut hanya memiliki 27 siswa, jumlah itu dari kelas 1 hingga kelas 6. Data jumlah siswa SDN 4 meliputi: kelas satu berjumlah 3 siswa, kelas dua 8 siswa, kelas tiga 5 siswa, kelas empat 2 siswa, kelas lima 2 siswa, sedangkan kelas enam 7 siswa.
Kepala Sekolah SDN 4 Rambat, mengatakan minimnya siswa yang bersekolah lantaran posisi sekolah jauh dari jalan raya.
Selain itu, persaingan dengan sekolah – sekolah swasta yang menyediakan jasa antar jemput siswa secara gratis juga mempengarui sekolah negeri kehilangan siswa.
“sekolah kita memang jauh dengan jalan raya, selain itu kemungkinan yang menjadi sebab adanya sekolah-sekolah swasta yang menyediakan jasa antar jemput siswa secara gratis.” Jelasnya.
Kondisi minimnya siswa disekolah tersebut belom diketahui jelas factor apa yang terjadi, apakah karena banyaknya Sekolah Dasar diwilayah tersebut atau memang kurangnya anak – anak di Desa itu.
Pemerhati pendidikan, Ketua Umum Pendopo Semar Nusantara (PSN) Banyuwangi, Uny Saputra mengatakan minimnya siswa yang dialami sejumlah Sekolah Dasar di Banyuwangi diduga karena banyaknya sekolahan diwilayah tersebut.
Sehingga, mengakibatkan calon siswa terbagi-bagi. Dan tentunya, bisa dipastikan sekolah tersebut mendapatkan murid sedikit karena harus terbagi.
Seperti diwilayah Kecamatan Cluring, Sekolah Dasar Negeri (SDN) berjumlah 40 lebih, dampaknya beberapa tahun lalu sekolahan banyak yang tutup karena tak dapat siswa.
“menurut saya factor sekolahan yang terlalu banyak sehingga membuat calon siswa terbagi – bagi. Maka wajar ada sekolahan yang tidak mendapat murid dan akhirnya sekolah itu tutup karena tidak mendaptkan murid.” Terang Uni. (Han//Ry//JN).


Komentar