oleh

Nelayan Muncar dan Masyarakat Desa Wisata ingin Tim Universitas Indonesia Terus Mendampingi

Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Melaksanakan Pengabdian dan pemberdayaan kepada masyarakat di dua tempat yang berbeda di kabupaten Banyuwangi yaitu di desa Tembokrejo, Muncar dengan sasaran masyarakat nelayan dan di Desa wisata Tamansari, Licin dengan waktu yang berbeda, (21/10/22).

Judul Pengmas dengan masyarakat nelayan Muncar berjudul : ” PELAMPUNG K3 (Program Pelatihan Kampung Nelayan): Pembinaan Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi Nelayan sebagai Upaya Menurunkan Risiko Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja”.

IMG-20221023-WA0011

Judul Pengmas di Desa wisata yaitu: “Penguatan Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Desa Wisata Tamansari Kabupaten Banyuwangi dalam Mendukung Program Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf”.

Pengmas ini dari Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bekerjasama dengan UPT Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) Universitas Indonesia.

Tim pengmas Universitas Indonesia terdiri dari: Abdul Kadir SKM., M.Sc. (Ketua Tim), Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D,
Dr. Dadan Erwandi, S.Psi., M.Si
Dr. Ir. Sjharul M. Nasri., M.Sc.
drg. Baiduri Widanarko, M.KKK., Ph.D, Devi Partina Wardani, SKM. M.KKK dan Nida Hanifah Nasir, SKM., M.Sc.
Tim Instruktur: Malik Ibrahim, Sugino dan Gumi Mani Saputra.

IMG-20221022-WA0077

Hadir dalam dua kegiatan yang berbeda antara lain: Nelayan Muncar, perwakilan Dinas Perikanan Banyuwangi dan Bappeda Banyuwangi, di Wakili oleh Dr. Kundofir, M.Pd. Kegiatan yang kedua dihadiri perwakilan Bappeda Banyuwangi, Perwakilan Pengelola objek wisata, Linmas, Bumdes desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi.

Abdul Kadir, SKM., M.Sc dalam sambutannya menyampaikan bahwa
Sektor perikanan laut dan aktivitas wisata memiliki potensi resiko yang sangat tinggi. Maka yang perlu dilakukan dengan mengurangi risiko ke tingkat serendah mungkin”.Ungkap Koordinator program pengemas UI.

Abdul Kadir juga menambahkan “Penerapan aspek Keselamatan dan Kesehatan (K3) disemua tempat kerja penting untuk diterapkan. Budaya K3 memiliki nilai positif yang dapat mencegah cedera, menyelamatkan nyawa, dan meningkatkan produktivitas kerja. Ketika budaya keselamatan dipraktikkan secara aktif dan dianggap sebagai nilai inti penting oleh, karena hal itu memberikan rasa percaya diri dan kepedulian pada semua orang yang bekerja di sana, “Tambahnya.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahaya dan risiko K3 serta upaya dalam meningkatkan pengetahuan baik soft kill maupun hard skill kepada masyarakat nelayan dan pelaku wisata terkait prinsip dasar K3.

Fokus program ini melalui beberapa aktivitas kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), dan pembinaan terkait melakukan kajian risiko terhadap aspek keselamatan dan kesehatan pada semua aktivitas nelayan dan pelaku wisata di Banyuwangi.

Luaran dari kegiatan ini adalah dokumen manajemen risiko K3 berdasarkan aktivitas nelayan, hal ini dapat dijadikan acuan untuk menjalankan pekerjaan dengan sehat dan selamat.

Masyarakat nelayan Muncar dan pelaku wisata sangat antusias karena narasumber sangat interaktif dan mengajak nelayan untuk mempraktekan langsung antisipasi berbagai bahaya dan keselamatan kerja.

Dari dua kegiatan ini, masyarakat di dua tempat memiliki harapan yang sama, hal ini juga di dukung materi yang dijelaskan oleh Tim K3 UI tidak hanya berhenti di tataran teori melainkan mengajak masyarakat mempraktekkan langsung yang dibantu oleh instruktur yang belum pernah didapatkan sebelumnya.

Harapan Masyarakat Banyuwangi meminta tim untuk kembali lagi ke Banyuwangi.

“Pak Saporana Mon bisa dheteng pole ka Banyuwangi, polana pelatihannya bagus dan manfaat ka cakanca” ( pak mohon maaf jika bisa datang kembali karena pelatihannya bagus dan bermanfaat untuk teman-teman), Ungkap nelayan Muncar, ” Supriadi.

Hal yang sama juga disampaikan oleh pelaku wisata desa Tamansari, Dewi mengatakan ” ditunggu ke Banyuwangi lagi pak dengan program-program yang berbeda”.

Terakhir Abdul Kadir, SKM., M.Sc. memberikan support kepada masyarakat nelayan dan sekaligus memiliki harapan yang sama untuk kembali lagi mendampingi masyarakat Muncar dan sekitarnya dengan menggunakan bahasa Madura. (Miska).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *