Banyuwangi – Cuan bisa mengalir dari sisi manapun asalkan pintar membuat peluang usaha.
Pun halnya yang dilakukan Sutekad (53), petani asal Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi.
Berawal dari iseng, kotak kayu tak terpakai Sutekad manfaatkan menjadi sarang lebah buatan penampung tawon jenis Klanceng.
Jutaan rupiah mengalir ke kantongnya meski berlabelkan usaha sampingan.
Sebulan, Sutekad mengaku mampu meraup keuntungan Rp1 juta sampai Rp2 juta.
“Ini sebenarnya usaha sampingan, yang utama buruh tani,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (26/10/2022).
Ide budidaya tawon Klanceng ini muncul ketika Sutekad merasa penghasilannya sabagai buruh tani tak cukup untuk menghidupi anak istrinya.
Mengingat ia hanyalah buruh kedok yang hasil panennya dibagi dengan pemilik sawah.
Akhirnya rasa nekat itu berubah menjadi kebulatan tekad yang membawanya menekuni budidaya tawon Klanceng.
“Hasil pertanian tidak cukup, pada tahun 2000, saya belajar ternak tawon,” katanya.
Awal ternak tawon ini, Sutekad membuat kotak dari papan kayu.
Selanjutnya, kotak itu dioles madu tawon klanceng untuk memancing tawon.
“Kotak yang sudah diolesi madu tinggal ditaruh di tengah kebun,” ucapnya.
Dari usahanya itu, Sutekad bisa memanen setiap bulan dan dijual ke pasaran.
Sekali panen, ia bisa mendapat hingga 10 botol madu.
“Itu kalau pas musim bunga seperti Juli, kalau tidak musim bunga biasanya hasilnya sedikit berkurang,” katanya.
Untuk sebotol madu ukuran 80 mililiter, Sutekad membanderol harga Rp 200 ribu.
Madunya itu, biasanya diambil oleh konsumen dari berbagai wilayah, baik dari Banyuwangi hingga luar daerah.
“Dari Surabaya juga ada yang beli, biasanya dari luar daerah itu beli secara online, nanti kami kirim,” ucapnya.
Tidak hanya menjual madu saja, agar tiap bulannya tetap mendapat untung, meski sedang tidak musim bunga, Sutekad juga membudidaya lebah biasa untuk dipanen larvanya.
“Biasanya dibuat botok, kalau itu bisa dipanen tiap 20 hari,” tandasnya.
Reporter: Eko Purwanto


Komentar