oleh

Menelusuri Sejarah dan Kehidupan di Pondok Pesantren Al-Ashriyah, Tempat Syaikhona Kholil Bangkalan Menuntut Ilmu

-Berita-2.274 views

BANYUWANGI, Jurnalnews – Pondok Pesantren Al-Ashriyah adalah pondok pesantren tertua di Banyuwangi yang telah berdiri sejak tahun 1882. Kamis (13/04/2023).

Di pondok ini, Syaikhona Kholil Al-Bangkalani, seorang ulama besar, pernah menimba ilmu agama Islam.

Pondok ini diakui oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan dianugerahi penghargaan kategori pondok pesantren berusia lebih dari 100 tahun saat Peringatan Satu Abad NU pada 31 Januari 2023 di Jakarta.

“Alhamdulillah dapat (penghargaan) dari Jakarta yang diantar langsung perwakilan dari PCNU Banyuwangi,” ujar Pengasuh Ponpes Al-Ashriyah, KH Imam Sadali kepada Wartawan.

Bangunan pondok yang sudah tua terlihat dari beberapa ornamen bangunan pondok dan banyaknya pohon kelapa menjulang tinggi di sekelilingnya.

Pondok ini terletak di seberang sungai Kalisetail, Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng. Banyuwangi.

Menurut cerita di masyarakat NU, Syaikhona Kholil pernah menuntut ilmu di pondok ini selama empat tahun sebelum berangkat ke Makkah.

Kisah ini sebenarnya disampaikan oleh keturunannya yang datang ke pondok pada tahun lalu dan menceritakan bahwa Syaikhona Kholil pernah nyantri di pondok ini selama empat tahun.

Pondok ini didirikan oleh KH Abdul Bashar, pendiri pondok, yang hijrah dari Pandeglang, Banten bersama 7 orang pengikutnya untuk menyebarkan agama Islam di Banyuwangi.

“Saya sebagai cucunya justru tidak mengetahui dan tidak diceritakan secara turun-temurun. Taunya (cerita Syaikhona Kholil) dari keturunannya yang datang tahun lalu dan menceritakan pernah nyantri disini selama empat tahun,” ujarnya.

Setelah sempat berpindah lokasi, akhirnya memantapkan membangun sebuah surau di pinggir Sungai Kalisetail.

Surau ini kemudian berkembang menjadi sebuah pondok pesantren dan dikenal sebagai Pondok Jalen, yang menjadi cikal bakal nama sebuah dusun di wilayah Desa Setail.

“Sempat membuat surau di tempat lain tapi kurang cocok. Barulah di Jalen sini yang posisinya masih hutan belantara dibabat lalu dibuatlah surau,” jelasnya.

Pondok ini memiliki tradisi dan metode pengajaran kepada santri serta pengikut pengajian yang tetap dipertahankan hingga sekarang.

Tradisi pengajian kitab Hikam masih rutin digelar setiap hari Jumat. Syaikhona Kholil dikenal sebagai Waliyullah dengan banyak karomah yang dikenal di kalangan warga Nahdiyin.

“Tradisi pondok dan metode pengajaran kepada santri serta pengikut pengajian tetap dipertahankan sampai sekarang. Termasuk pengajian kitab Hikam yang rutin digelar setiap hari Jumat,” terang KH Imam Sadali.

Sebagai salah satu peninggalan sejarah agama Islam yang kaya, Pondok Pesantren Al-Ashriyah harus terus dipertahankan dan dirawat.

Penghargaan yang diberikan oleh PBNU merupakan pengakuan atas usaha pondok pesantren dalam melestarikan warisan keagamaan dan budaya di Indonesia.

Pondok ini menjadi saksi bisu sejarah perjuangan agama Islam dan semangat keagamaan yang masih terus dijaga hingga saat ini.

Penulis : Eko PR

Editor   : Rony Subhan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *