BANYUWANGI, Jurnalnews – Saat harga cabai meroket, panen cabai mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh periode kemarau yang panjang membuat pohon cabai menjadi lebih rentan terhadap serangan virus dan penyakit.
Menurut Suprayitno Busri, seorang petani cabai yang berasal dari Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, saat ini tanamannya sedang menghadapi serangan dua jenis virus, yaitu virus thrips tabaci dan virus gemini. Kondisi ini disebabkan oleh suhu yang tinggi akibat panas yang berkepanjangan.
“Virus ini umumnya menyerang daun muda tanaman cabai, menyebabkan daun-daun tersebut tidak dapat berkembang secara normal dan cenderung menguning. Apalagi, kemarau yang berlangsung cukup lama kali ini telah mengakibatkan sulitnya pasokan air ke sawah, karena banyak sumber air yang mengering,” ungkap Busri. Rabo (01/11/2023).
Dalam situasi seperti ini, para petani cabai di daerah tersebut menghadapi tantangan besar dalam menjaga kesehatan tanaman cabai mereka dan memastikan pasokan air yang cukup untuk tanaman mereka.
Penurunan produksi cabai telah menyebabkan semakin menipisnya pasokan cabai di pasar, yang pada gilirannya mengakibatkan lonjakan harga cabai rawit yang cukup signifikan. Saat ini, harga jual cabai rawit berkisar antara 55 ribu hingga 60 ribu rupiah per kilogram.
Suprayitno Busri, seorang petani cabai dari Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, mengungkapkan, “Ya, memang ketika stok cabai semakin menipis, harganya terus melambung. Situasi seperti ini telah berlangsung selama sekitar dua minggu terakhir. Selama musim kemarau panjang seperti saat ini, kualitas cabai juga tidak sebaik biasanya.” Terangnya.
Sementara itu, Muhammad Rizal, seorang pedagang bahan pokok di Pasar Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, membenarkan lonjakan harga cabai rawit dalam beberapa pekan terakhir.
“Stok cabai tidak sebanyak biasanya, dan kualitasnya saat ini juga kurang optimal. Harga cabai rawit saat ini berkisar antara Rp 70 ribu hingga Rp 75 ribu per kilogram. Penyebab utamanya adalah musim kemarau dan gagal panen,” ujarnya. (Red//Tim//JN).


Komentar