Perempuan melihat dengan pikiran
Lalu muncul kata Cantik itu seksi
Seksi itu rok mini
Tidak melihat dengan mata
Buka-bukaan itu obral diri
Untuk umpan “bercinta” lelaki
Ketika saya berbagi pengalaman di Sekolah Literasi Gratis STKIP PGRI Ponorogo pada tanggal 18 Desember 2016 yang lalu, salah seorang peserta bertanya tentang fenomena para TKW yang pulang dari bekerja di luar negeri.
“Mbak Eni kok beda dengan para TKW yang pulang dari luar negeri. Mereka kebanyakan mengecat merah rambutnya, kulit diputihkan dengan white cleansing, dan gaya berpakaian pun seksi dengan rok mini.”
Ada baiknya kita melihat kegemaran perempuan di masyarakat kita yang suka dengan bintang-bintang sinetron yang berkulit putih atau pun yang Indo- Blasteran dengan gaya rambut kemerahan dan pakaian serba mini. Tak heran, mereka lebih mengidolakan perempuan kulit putih dengan segala atributnya daripada perempuan di masyarakatnya sendiri, yang berkulit cokelat, rambut hitam, dan berpakaian sopan. Mereka yang putih dengan memamerkan lekuk tubuh, dianggap lebih cantik, modern, dan berkelas.
Atas kecenderungan itu, sadar atau tidak, para TKW di luar negeri yang merasa asli hidup di masyarakat yang putih dan seksi, terang-terangan ingin disamakan dan lebih suka dianggap sebagai bagian dari masyarakat tersebut. Mereka ingin dilihat dan kemudian diidolakan.
Setiap orang, juga perempuan, pasti ingin menunjukkan jati dirinya di depan publik. Demikian juga dengan para TKW kita di luar negeri. Penampilan dan tingkah laku yang mengobral tubuh, tak lain adalah pencerminan rasa rendah diri yang justru merendahkan harga diri mereka. Pujian dan kekaguman secara fisik hanya omong kosong. Coba tanya kepada banyak kaum Adam. Mereka sudah sangat bisa dipastikan bahwa mendekati mereka hanya iseng belaka.
Alternatif Manusia Pembelajar
Mestinya para TKW itu memiliki kesadaran bahwa jati diri, sejatinya diperoleh dengan cara memberdayakan diri sendiri. Mengolah potensi diri dengan karakter dan kompetensi agar berprestasi. Ini tidaklah mudah. Sungguh, ini butuh proses pembelajaran. Pembelajaran yang memakan waktu tidak sebentar. Mestinya mereka berpikir bagaimana cara berkemampuan dengan meningkatkan keterampilan, belajar ilmu pengetahuan, dan menambah pengalaman.
Masalahnya di sini para TKW tidak memiliki keberanian untuk menjadi manusia pembelajar. Berubah untuk hidup mandiri dan bermartabat masih menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka. Mereka takut gagal. Padahal tidak ada pembelajaran yang sia-sia. Tentang ini pun mereka tidak percaya. Kenyamanan digaji tinggi telah membentuk mental “suka dijajah”. Mereka tidak berani memerdekakan mental. Mereka tidak memiliki awareness bahwa menjadi TKW boleh, asal hanya untuk sementara, hanya sebagai batu loncatan saja. Sebagai modal dalam pengembangan potensinya. Sebagaimana kata Buya Hamka: “Kalau hidup sekadar hidup, kera di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kerbau juga bekerja.”
Tapi kita manusia merdeka, yang berbeda dengan binatang yang hanya memiliki insting saja. Manusia adalah makhluk yang istimewa karena dikaruniai akal sehat dan kearifan, yang harus terus bertumbuh dan berkembang. Jika hanya bekerja sekadar mendapat imbalan, di mana asyiknya? Only work, work, work and nothing, untuk apa? Membudakkan diri dalam bekerja akan mematikan rasa. Tidak selaras dengan akal dan budi yang telah dikaruniakan. Tidak sejalan dengan ciri-ciri manusia yang ingin mengaktualisasikan potensi pada diri.
Untuk mencapai pengembangan diri yang diinginkan, pastilah kita harus mengembangkan budaya “belajar”. Setiap orang, juga perempuan, terlebih para TKW pasti bisa belajar untuk berubah menjadi pribadi berprestasi yang membanggakan. Pribadi yang telah bermetamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu yang indah.
Seperti halnya ketika masih bayi yang belajar merangkak, berjalan, dan berlari. Ketika sudah bisa berlari, melihat ke belakang saat merangkak kita pasti akan tersenyum. Sebagaimana halnya belajar membaca dan menulis semasa sekolah. Ketika kita sudah bisa membaca lancar dan menulis bagus, saat melihat pertama kali kita menulis, kita akan tertawa mendapati tulisan kita yang sangat jelek.
Demikian juga dengan pengembangan pola pikir kita. Kita akan terpingkal setelah tahu bahwa harga diri dilihat bukan dari fisik yang kita pamerkan. Namun karena prestasi yang kita torehkan. Di sini, penunjukan jati diri dengan penampilan rok mini benar-benar akan kehilangan maknanya. Yang memang tidak bermakna sama sekali. Beda halnya dengan penunjukan jati diri dengan prestasi akan memesona siapa saja. Karena inilah seksi yang sebenarnya.
Lalu, sekarang bagaimana? Mungkinkah para TKW kita lebih menginginkan “diperbudak” dengan sejumlah uang dari pada memerdekakan mental dan berani belajar? Uang, berapa pun banyaknya akan cepat habis, bagaimana pun caranya. Tak heran, mereka akan kembali lagi bekerja ke luar negeri. Sebaliknya, hasil pembelajaran tidak saja akan menghasilkan uang tetapi juga jati diri dan kehormatan diri. (*)
~ Eni Kusuma, Mantan TKW Hong Kong, Penulis buku “Anda Luar Biasa!!!”, “Mitra Kerja Tanpa Pamrih”, “Karate in You”, “Karate with You”, Peraih Penghargaan Tupperware “She Can Award” 2009 dan Liputan 6 SCTV Award 2015 sebagai Tokoh Inspiratif di bidang Sosial Pendidikan, Pendiri Bimbel “Rumah Cerdas”, Pendiri Sekolah (Gratis) Paud “Melati”, Seorang karateka, Pendiri Dojo Karate Laskar Arum Banyuwangi & Jurnalis Inkai Jatim.


Komentar