oleh

Camat Singojuruh Iwan Yos Mau Bikin Buku Sejarah dan Toponimi dan Ciptakan Kondisi Bersih Nan Sehat

Gebrakan langka nan cerdas, akan diwujudkan Camat Singojuruh Iwan Yos Sugiarto, S. Sos, M. Si yakni membuat buku berbasis sejarah dan toponimi tentang artefak dan situs di wilayah yang dipimpinnya sekitar 4 bulan ini.

Media ini pertama mendengarkan ide kreatif ini saat menemuinya di ruang kerjanya bulan lalu dan dipertegas saat memberikan pembinaan pada rapat Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Singojuruh dihadapan Kades, PKK, Puskesmas, PLKB dan Kader Peduli pendidikan dan kesehatan, di Aula Kecamatan, Rabu (10/6/26).
“Kami sudah mengundang ahli arkeolog Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi untuk meneliti temuan dan situs serta istilah Singojuruh atau Singo Manjuruh dari Toponiminya serta makam gandrung pertama yang telah ditemukan budayawan yang mantan kades Singojuruh yang ahli tari, Sahuni, S. Sn dan juga kemungkinan tempat kelahiran Wong Agung Wilis di wilayahnya. Kami akan adakan sarasehan dengan Seniman dan pemerhati sejarah sebelum buku terbit dan seminar bedah buku saat sudah terbit. Semoga bermanfaat buat anak cucu generasi penerus! ” tuturnya kalem seraya bertekad Singojuruh BIISA yakni Bersih, Iman, Inovatif, Sehat dan Aman.

Untuk itu Iwan Yos yang 10 tahun tugas di Licin mulai jadi Sekcam melayani 3 Camat hingga jadi Plt itu meluncurkan Inovasi Sidarsih singkatan dari Singojuruh Sadar Bersih yakni Gerakan tiap hari jumat UPTD setingkat kecamatan usai kerja bhakti di instansinya dikumpulkan di Kantor Kecamatan untuk dipilah pilih dan ditimbang seperti bank sampah.

“Saya yang orang luar Singojuruh saja peduli hendaknya yang asli Singojuruh lebih peduli dan semangat. Kok tak mau mendukung praktek baik, ya tak apa dan tak ada teguran. Semua perlu kesadaran dan tanggung jawab moral!” tegasnya.

Saat dibuka tanya jawab usai 2 narasumber dari Forum Banyuwangi Sehat yakni Agus Wahyu Nuryadi yang jelaskan penguatan kelembagaan yang isi personil FKKS dan Pokja Desa Sehat dan Dewi Anggorowati yang paparkan 9 tatanan indikator Kabupaten Sehat dengan juga ungkapkan Pokja Desa Sehat, Pokja IV PKK, Bidan Desa, Kader ATM dan Pemangku Kepentingan Kesehatan di desa lainnya berada di dalam Rumah Desa Sehat yang dikoordinir Kader Pembangunan Manusia, moderator Kasie PMK H. Harry persilahkan Kades Cantuk menyampaikan uneg-unegnya.

Pada prinsipnya segenap Kades mendukung program Camat, Bupati, Menteri hingga Presiden yang bagus buat rakyat. Sebagaimana basuki mawa bea, hendaknya ditengah efisiensi anggaran, tidak mengurangi gaji dan honor kader relawan. “Tambahan honor tentu bisa nambah semangat melaksanakan program. Sebaliknya pengurangan insentif mempengaruhi hasil program yang berdampak pada kesehatan, kesejahteraan dan pelayanan ke rakyat! ” ungkap Kades Cantuk Imam Ghozali, S. Pd yang dimaklumi audiens.
Soal usulan narasumber sebagaimana aspirasi kader desa di kecamatan lain hendaknya dilindungi dan dibayari APBDes sebagaimana perangkat desa hingga RT yakni diikutsertakan BPJS Ketenagakerjaan 2 program senilai Ro 16.800 tampaknya bisa jadi apresiasi yang bisa dipikirkan dan diwujudkan.

Camat Iwan Yos dengan kewenangannya dan Kades dengan tupoksinya siap segera mebuat SK pengurus FKKS dan Pokja Desa Sehat berikut program kerja dan laporan aktivitas kesehatan di Desa seperti stunting, posyandu, sosialisasi dan administrasi yang di rembug di Rumah Desa Sehat yang masuk APBDes. (Aguk/AM/JN-SW).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *