oleh

Galang “Petisi” Penolakan Persatuan Dukun Nusantara, Banyuwangi

BANYUWANGI – Reaksi beragam Penolakan” terhadap Ormas “Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. rupanya makin meluas.”Penolakan datang dari perbagai elemen masyarakat, pemerhati budaya, Lsm, Ormas. MUI Tokoh Mssyarakat bahkan kalangan Aktivis dan Pengacara yang di motori oleh La Lati, SH. Senin, (22/2/2021).

Sejak Deklarasi berdirinya Perdunu bahkan sampai di selenggarakanya diskusi bertempat di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisa Kabupaten Banyuwangi mayoritas peserta diskusi mengungkapkan “Kekhawatiran” akan dampak negatif berdirinya Persatuan Dukun Nusantara di Banyuwangi.

Namun sampai saat ini rupanya para pendiri “Persatuan Dukun Nusantara” kelihatannya tidak terima begitu saja sekalipun di tentang oleh berbagai pihak.

IMG-20210222-WA0084

Mereka tetap kekeuh mempertahankan berdirinya Perdunu bahkan berencana menyelenggarakan “Seminar Internasional ” dengan tema: “Dukun & Perdamaian Dunia”.

Tidak tanggung-tanggung Pendakwah kawakan Gus Miftah turut di catut namanya dalam wacana Seminar Internasional tersebut. Gus Mistah dalam klarifikasinya yang di unggah dalam kolom Youtub dan instalgram pribadinya menyatakan tidak tahu menahu dengan kegiatan tersebut.

Wacana Seminar Internasional bertemakan “Dukun & Perdamaian Dunia” rupaya kembali menuai reaksi Penolakan dari La Lati SH. dengan menggalang “Petisi” penolakkan terhadap Persatuan Dukun Nusantara tidak sendrian “petisi” penolakan Perdunu rupanya di dukung oleh gabungan para Aktivis .Lsm & bahkan dari kalangan Pengacara.”Kata La Lati SH, saat dikonfirmasi via ponsel.

Menurut La Lati “Petisi” merupakan pembuktian jawaban publik. apakah Persatuan Dukun Nusantara di terima oleh masyarakat Banyuwangi atau tidak. Apakah dukun dan perdukunan sesuai dengan akidah kemurnian tauhid, Apakah dukun dan Perdukunan tidak merendahkan marwah ulama.

“Apakah layak Ulama, Kyai, Gus  dan Ustadz memiliki KTA dukun atau menjadi bagian dalam organisasi Dukun? Biarlah Petisi yang bicara.”Kalau bukan kita siapa lagi- kalau bukan sekarang kapan lagi” jangan lagi terulang peristiwa kelam pembunuhan dukun santet seperti tahun 1998 yang justru turut memakan korban para kyai-kyai kesohor kita, “terangnya.(Mbah Din)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *