Perubahan status ekonomi warga negara Indonesia dapat dipastikan berubah setiap tahunnya, ada yang dahulunya kaya setahun kemudian statusnya menjadi hampir miskin dan adapula yang kebalikannya di tahun 2020 miskin di tahun 2021 mendadak menjadi milyader, juga ada yang pindah domisili dan ada warga yang baru menetap. hal ini berdampak pada penerimaan keluarga penerima manfaat (KPM) dari kementrian sosial itu, baik Program Keluarga Harapan (PKH) maupun penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan juga termasuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Kemensos.
Hal inilah yang menjadi carut marutnya proses penerimaan bantuan di tingkat desa apalagi ketika ada pencoretan sepihak yang dilakukan oleh dinas Sosial Banyuwangi terhadap KPM di beberapa desa di kabupaten Banyuwangi. Dalam menanggapi perihal tersebut kepala desa Purwodadi kecamatan Gambiran Banyuwangi Drs. Suyanto angkat bicara.
“Seharusnya ada standarisasi pada ID DTKS atau aturan resmi mana itu yang termasuk orang miskin mana yang tidak, sehingga ada pijakan resmi ketika ada warga yang protes terkait bantuan dari Kemensos itu kami bisa menjawab secara pasti, selama ini hanya sebatas kesepakatan yang dianggap miskin ya itu yang menerima, ” katanya. Kamis (25/03/2021) kepada wartawan diruang kerjanya.
Tidak hanya itu Suyanto juga berharap kepada Dinas terkait agar selalu berdampingan dengan pemerintah desa karena menurutnya pemerintah desalah yang tahu tentang warganya untuk menentukan siapa-siapa dari warganya yang wajib di bantu .
“Dalam hal ini saya kira pemerintah desa yang tau, RT dan RW lanjut kepada kepala dusun lalu ke kepala Desa, ” harapnya.
Harapan Suyanto bukan tanpa alasan namun ada faktor faktor yang sudah di timbang salah satunya yaitu faktor pengakuan miskin,karena menurut Suyanto orang sekarang jika di data untuk dapat bantuan semuanya mengaku miskin.
“Selain yang tahu kondisi warga hanya pemerintah desa, juga orang sekarang jika di data untuk menerima bantuan mereka semua ngaku miskin ,padahal jika kita lihat terkadang rumah mereka dari anyaman bambu, tapi sawahnya banyak di mana mana, ” tutupnya.(Mbah Din)


Komentar