oleh

Panen Singkong Harga Kosong, Petani Ini Garuk Garuk Kepala

-Berita-1.007 views

BANYUWANGI – Tanaman Holtikultura jenis ketela atau singkong tidak seperti era tahun 60 an. Mungkin saat itu tanaman jenis ini sangat digemari oleh masyarakat karena sulitnya beras pada jaman itu, bisa jadi singkong jadi bahan pokok untuk makanan sehari – hari. Sabtu (01/05/2021).

Tidak seperti jaman melenia seperti sekarang, tanaman singkong mundur di deretan paling akhir dari tanaman pokok. Mungkin disebabkan warga keseluruhan sekarang lebih banyak makan nasi.

Singkong sendiri lebih banyak dijumpai dimarket atau toko yang sudah berbentuk kemasan yaitu kripik singkong, atau hanya dapat dijumpai di meja pedagang kopi, itu pun tidak semua tempat warung kopi ada singkong yang sudah digoreng.

Seperti keluh petani penanam pohon singkong di Desa Sembulung Kecamatan Cluring, Jaenudin (52) petani holtikultura ini mengeluh karena hasil panen singkong setiap tahunnya merugi.

“Lahan saya tidak luas, hanya seperempat hektar, selain saya tanami singkong dibagian tengah lahan saya tanami buah jeruk. Tapi dikala saya panen singkong harga selalu kosong, artinya singkong tidak laku.” Keluhnya.

Menurutnya, konsep bertanam sudah sesuai petunjuk ahli tanaman singkong dan hasil panennya tidak buruk, bahkan satu pohon singkong berbuah sampai sepuluh batang.

“Hasil panen cukup baik, tapi harga yang tidak pantas, karena singkong didesa saya hampir tidak laku, hasil panen kali ini saya bagikan ke tetangga dan teman saya yang mau.” Terangnya.

Tanaman singkong yang ditanam Jainudin berjenis singkong ketan, kuning dan trembesi. Masa panen dilahan Jaenudin berumur 9 sampai 10 bulan.

“Ini saya panen umur 9 bulan, dan buahnya sangat memuaskan, ukuranya pun sangat besar berbeda dengan yang pernah saya tanaman waktu diperkarangan rumah hasil buahnya kecil – kecil padahal bibitnya sama.” Kata Jainudin yang biasa akrap dipanggil Mbh din.

Bulan sekarang mbh din tiap sore memanen singkong, karena tidak laku hasil panen selalu dibagikan ke orang lain yang mau. Sebab lahan miliknya akan segera ditanami jenis holtikuktura yaitu kacang panjang dan cabai rawit. (Ron//JN).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *