Anjangsana Komunitas Gotongroyong’45 dan Sanggar Merah Putih’45 yang dikemas keakraban halal bihalal serta memaknai hari lahirnya istilah Pancasila 1 Juni 1945 – 1 Juni 2021 berlangsung di lingkungan Setropenganten TMP Kelurahan Tukangkayu Banyuwangi Selasa (01/06/2001) dengan sederhana namun penuh heroik dengan nuansa merah putih.
Dalam kegiatan ini dihadiri oleh seluruh anggota komunitas, selain hadir keluarga penyelenggarah dengan penasehat Hj.Chasiastoeti Soeherman juga undang veteran IGB Sudharma dan tokoh KOPAT Glagah Sanusi Marhaedi didamping Kang Syarpin Kebo-keboan. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Garuda Pancasila bersama-sama.
Acara yang disiarkan langsung lewat FB Aguk Darsono ini diteruskan dengan sekapur sirih oleh Hj. Chasiastoeti Soherman yang sampaikan markas gotongroyong dan studio Bungtomo sebagai kawah candradimuka pelestarian Nilai Semangat Juang’45. Sedang IGB Sudharma seorang veteran Timor Timur menyampaikan bahwa dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan mempertahankan Pancasila banyak sekali yang namanya gangguan-gangguan yang berasal yang berasal dari dalam maupun dari luar, dari dalam contohnya yaitu ada beberapa pemberontakan seperti DI TII, PRRI, Permesta, ada namanya G 30S PKI dan seterusnya. Dari luar contohnya ada juga Agresi Militer Belanda 1 dan 2, kemudian ada juga kedatangan tentara NICA dan Inggris yang intinya ingin menjajah kembali Indonesia. “Alhamdulillah gangguan-gangguan tersebut dapat ditanggulangi oleh Negara Republik Indonesia beserta rakyatnya dengan menggunakan kemampuan yang ada dan itu membuktikan bahwa Pancasila itu Sakti dan Jaya berkat kesadaran bersama serta lindungan Tuhan Yang Maha Esa, ” tegas purnawirawan Brimob ini.

Kemudian Sanusi Marhaedi dari Kopat yang merupakan anak seorang pejuang perang kemerdekaan mengatakan bahwa “Dalam Pancasila terdapat Falsafah yang harus dilaksanakan oleh seluruh warga Negara Indonesia atau seluruh rakyat Indonesia sehingga dalam pembangunan menuju Indonesia merdeka yang berdaulat adil dan makmur dapat tercipta, dan namanya kesejahteraan rakyat dapat tercapai asalkan mau berpegang teguh pada Pancasila, dengan selendang merah putih yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika, “ungkapnya.
Beliau juga menambahkan kata Bhineka Tunggal Ika itulah yang membuat nusantara ini tetap bersatu dan tidak dapat dicerai beraikan. Selanjutnya berdoa bersama-sama dan pemotongan kue puding persembahan Puji Winarsi penyandang difabel kaki tanda rasa syukur harlah Pancasila ke-76 yang dipotong istri pelaku perang 10 Nopember bareng Bung Tomo dan Mas Isman, Hj.Wahyuni Oneng Soedarsono, Pr (85).

“Kami terharu ketemu dan mendengarkan ungkapan herois para pelaku dan sesepuh untuk cinta pencipta dan alam lingkungan untuk generasi penerus bangsa, “ungkap Puji Winarsi yang pinter dongeng dan masak jajanan.
Penampilan baca puisi perjuangan Istiqlah Syukri Ahmad (10) yang punya prestasi jatim dan bercita-cita jadi Bupati Banyuwangi dan Panpampres ini nambah suasana kian semangat 45. Panggung garuda yang didekor Pramoe Soekarno dengan mural Anhar, dipungkasi menikmati dapoer oemoen yang masing-masing bawa dari rumah ada sayur,tempe,sambal,krupuk,ikan asin,dan lain-lainnya jadilah prasmanan pecel,trancam dan tempong serta disiapkan juga resep kuno rawon balungan (Yeti/Yeni/AM)


Komentar