oleh

RANGKAIAN KEGIATAN “KOMUNITAS OSING PELESTARI ADAT TRADISI” BANYUWANGI

Komunitas pecinta benda pusaka melaksanakan tradisi “Jamasan” di Sekretariat Kopat (Rabo 11.08.2021 yang bertepatan dengan tanggal 02 bulan Suro atau bulan Muharram 1443 Hijriyah). Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun kebiasaan ini digunakan untuk merawat serta menghargai peninggalan nenek moyang mereka yang berupa benda pusaka diantaranya tombak, keris dan benda benda keramat lainnya. Penghargaan ini oleh mereka diwujudkan dengan melakukan tradisi jamasan pusaka yang mereka dimiliki. Jamasan pusaka sendiri berasal dari bahasa Jawa Kromo yaitu jamas yang artinya membersihkan atau memandikan, Sedangkan kata Pusaka menjadi sebutan bagi benda-benda yang dikeramatkan atau dipercaya memiliki kekuatan tertentu.

Kegiatan Jamasan pusaka ini, mereka lakukan secara turun temurun, karena kegiatan jamasan pusaka ini sendiri merupakan tradisi mencuci benda-benda peninggalan nenek moyang mereka. Benda-benda peninggalan yang dijuluki sebagai pusaka akan dibersihkan di bulan Suro atau bulan Muharram menurut penanggalan kalender Jawa. Biasa nya pada malam satu Suro digelar tirakatan di kampung-kampung untuk memanjatkan do’a kepada Allah SWT dan kegiatan ini juga merupakan bentuk guyub dan rukunnya antar sesama warga.
Tanggal 1 Suro atau tanggal 1 Muharram dipilih karena tanggal ini menjadi penanda tahun baru Islam.

IMG-20210811-WA0054

Selain itu, bulan Suro juga adalah bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang diyakini sebagai bulan keramat, penuh larangan, dan pantangan. Karenanya, masyarakat Jawa biasanya selalu menghindari bulan ini untuk melakukan kegiatan besar. Karena takut terkena kesialan atau keapesan.

Pusaka atau benda-benda peninggalan yang dibersihkan atau dimandikan dalam ritual jamasan ini diantranya keris, tombak, kereta kencana, gamelan dan berbagai peralatan upacara yang mereka sakralkan. Masyarakat Jawa meyakini bahwa jamasan pusaka menjadi cara untuk menghargai secara penuh peninggalan nenek moyangnya.

KRT Drs. Haji Ilham Triadi M.Pd. yang punya keahlian untuk menjamas benda benda pusaka mengatakan :

Salah satu benda pusaka yang kerap dijamas saat Bulan Suro adalah keris. Keris bagi pemiliknya tidak hanya berfungsi untuk melindungi diri, namun punya sejarah dan makna filosofisnya sendiri-sendiri.

IMG_20210811_170457_716

“Sehingga, pemiliknya selalu merawatnya khususnya pada waktu-waktu tertentu. Biasanya dengan melakukan jamasan yaitu membersihkan pada Bulan Suro,” katanya.

Dalam ritual jamasan, benda-benda yang tersebut terlebih dahulu di cuci dengan menggunakan Kembang Setaman dan Ubo rampe yang terdiri dari Setangkel pisang raja, Siri kinangan ayu, Kelapa, Lawe, Bedheg ketan hitam, Darah ayam, Telor ayam, Bumbu dapu lengkap, Beras, Empunya kunir, Jenang lima warna (merah, putih, hitam, kuning dan hijau). Setelah pusaka yang akan dijamas dicuci dengan bahan tersebut diatas, lalu pusaka nya direndam dengan larutan kimia yang berasal dari perpaduan jeruk nipis dengan serbuk arcenicum.

“Masyarakat Jawa percaya bahwa dengan melakukan jamasan pusaka, mereka akan dihindarkan dari berbagai kesialan. Karena tradisi pencucian benda pusaka bertujuan untuk menghilangkan energi negatif atau pengaruh jahat yang coba melekat pada pusaka tersebut,” imbuhnya.

Sambiono salah satu orang akan menjamas pusakanya, mengatakan : “Bapak Ilham sebelum menjamas keris pusaka, beliau harus menjalani laku semalam suntuk dengan tujuan tafakur memasrahkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa dan sekaligus menyampaikan rasa syukurnya melalui alam di malam 1 Suro atau malam 1 Muharram. Beliau juga menjalankan puasa di malam suro semalam suntuk dan rutin menjalankan puasa sunah Senin Kamis. Tujuan Jamasan ini adalah untuk membersihkan pusaka dari kekuatan jahat yang menempel pada benda pusaka tersebut maupun mengolah jiwa pemiliknya agar jauh dari hal yang negatif” katanya. Lebih lanjut, Sambiono mengatakan, apabila dicermati lebih dalam, jamasan mengandung nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila pemilik pusaka tidak menjamas pusakanya, maka energi negatif nya berpengaruh terhadap pemilik nya yakni bisa berbentuk nafsu amarah.(Hariyanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *