Mulanya bulan Oktober 2021 yang lalu, Tim Dinas Pariwisata Pemerintah Daerah Banyuwangi Pak Iswanto, Pak Darmanto dan Bu Endang datang ke Waroeng Kemarang di Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, menawari untuk ikut serta dalam East Java Tourism Award (EJTA) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur.
Dalam pertemuan sosialisasi EJTA tersebut dijelaskan bahwa persyaratan untuk mengikuti EJTA cukup banyak, antara lain: Semua Surat Perijinan, Struktur Organisasi Kepegawaian dan Job Description, Sertifikat CHSE, Sertifikat Laik Sehat, Standard Operating Procedure (SOP) Operasional yang lengkap, memiliki kelengkapan Resep Menu, Video Profile, serta kreatif menerapkan teknologi untuk menunjang operasionalnya.

Sebagai owner Waroeng Kemarang, Wowok Meirianto merasa tertantang dan menyanggupi tawaran keikutsertaan EJTA 2021 tersebut, tentunya dengan bimbingan dan pembinaan dari Dinas Pariwisata Banyuwangi.
Berkompetisi dalam kategori Resto Non Bintang di EJTA pastinya tidak mudah karena di kota lain seperti Malang, Batu, dan Surabaya sangat banyak restoran yang sudah lama berdiri, berpengalaman dan sangat kreatif dalam menambahkan daya tarik.
“Yang penting, kami bisa ikut berpartisipasi dan dapat mencari pengalaman dahulu, ” kata Wowok bersemangat dalam menyusun dokumen yang diperlukan dan mempersiapkan segala sesuatunya sebelum datangnya Dewan Juri ke lokasi untuk meninjau dan menilai, pada akhir Nopember 2021 yang lalu.

Hari Jumat, 10 Desember 2021, di Hotel Grand Mercure Malang, Waroeng Kemarang Banyuwangi dinobatkan sebagai Pemenang Terbaik Kategori Resto NonBintang EJTA 2021 oleh Gubernur Jawa Timur Ibu Khofifah Indar Parawansa dengan nilai tertinggi ke-2, didampingi Resto Taman Indi Malang dengan nilai tertinggi ke-1, dan Resto Mang Engking Juanda Sidoarjo dengan Nilai tertinggi ke-3. Selesai maju ke panggung menerima Piagam, Piala dan Uang Rp.6.000.000,- Wowok mengatakan: “Kami sungguh tidak menyangka, sebagai restoran yang baru 3 tahun lebih berdiri di Banyuwangi sudah bisa sejajar dengan resto yang sudah 18 tahun beroperasi seperti Resto Taman Indi Malang dan juga dengan Resto Mang Engking yang adalah resto berkelas Nasional yang hampir ada di kota-kota besar Indonesia, ” cetusnya.
Hal yang memperkuat penilaian dewan juri, selain dokumen yang lengkap, juga adalah “menjual menu khas tradisional Osing Banyuwangi, memberikan daya tarik seni budaya, Waroeng Kemarang juga menerapkan applikasi Teknologi Informasi Eresto, dimana Tamu yang datang dapat melakukan Self Order (Memesan Sendiri) menggunakan HP sendiri dengan scan QR Code, sehingga intetaksi tamu dengan waiter dapat dikurangi, dengan demikian penularan dan penyebaran virus covid-19 dapat dihindari, ” demikian imbuh Wowok.
Ditanya tentang apa kesan dan harapan kedepan tentang EJTA, Wowok yang hadir bersama Istrinya di Hotel Grand Mercure Malang mengatakan bahwa: “Hendaknya ajang seperti EJTA ini diselenggarakan oleh Pemerintah agar pengusaha bidang Pariwisata dapat berkompetisi secara profesional untuk meningkatkan kualitasnya dan secara formal dihargai oleh Pemerintah, walaupun nilai ukuran sebenarnya pada usaha pariwisata yang ujung-ujungnya adalah jumlah kunjungan tamu dan multiplier effect pada ekonomi masyarakat pada umumnya, ” katanya.
Semoga Pariwisata di Banyuwangi terus bangkit mendukung tumbuhnya Pariwisata Jawa Timur dan Indonesia pada umumnya.
(Hariyanto)


Komentar