Puncak Syakban bertepatan dengan purnama hari suci bagi umat hindu, merupakan babak baru bagi sejarah perkembangan Kampung Santri Bali. Sejak berdiri kurang lebih 4 tahun lalu (2019-2022) baru pertengahan bulan kemaren para perangkat desa Munggu( perbekel,kelian dinas desa,bendesa adat, Babinsa,Kamtibmas,pecalang ) duduk bersama di Kampung Santri Bali. Moment sya’ban tahun ini adalah berkah,menurut pengasuh Kampung Santri Bali sekaligus owner Ustazd Widodo.
Karena baru tahun ini adanya Pengurus MWC-NU & PAC Muslimat NU kecamatan Mengwi yang baru berdiri bisa menjadi jembatan komunikasi (dilantik November 2021)antara pejabat,ulama dan umara’. Disaat malam Nisfhu Sya’ ban dimana umat Islam yang bermunajat dan berdoa meminta kepada RabbNya tentang segala sesuatu pasti dikabulkan hajat mulianya,malam itu juga adalah purnama sasih dasa yang merupakan hari suci umat hindu darma.

Ketua MWC NU, Tanfidzyah H. Moh Sugeng hadir beserta istrinya yang juga Ketua PAC Muslimat NU, Hj. Sri Wahyuningsih beserta Komandan Koramil 164 Mengwi Mayor Moh. Sutopo, dikawal 4 banser dibawah pimpinan korlap banser sahabat Alvin. Kehadiran 3 tokoh pimpinan di Kecamatan Mengwi itulah yang membuat perangkat desa Munggu bisa duduk bersama dan ikut acara sya’ banan ala santri lengkap dengan ngaji yasin tahlil dan juga doa tasyakuran tumpengan santunan dan pembagian tali asih.
Dari perangkat desa Munggu yang hadir klian dinas bpk Yoga,bendesa adat 2 orang,pak babinsa,pecalang 2 orang dan juga beberapa warga lokal sekitar. Dalam sambutannya bendesa adat merasa senang adanya tempat belajar agama bagi anak-anak dan warga yang perantauan khususnya muslim,karena memang di desa adat aturan agak ketat,adanya koordinasi dengan setempat dan toleransi tinggi dari umat merupakan langkah baik menjawab pertanyaan selama ini tentang keberadaan Kampung Santri di wilayah desa Munggu.

Setelah adanya penjelasan dan juga penegasan ketua NU serta komandan koramil bahwa tempat belajar ini dibawah bendera organisasi Nahdatul Ulama yang berjuang bersama pemerintah sebelum lahirnya NKRI dengan UUD 45′ dan pancasila sebagai semboyan harga mati dan dasar Negara. Selesai saling memberikan argumen dan pesan baiknya maka diberikan santunan dan pemberian tali asih dari Pengasuh Kampung Santri kepada:
- pecalang (2)
- Banser. . (4)
- Santriwan /wati yatim/piatu. (40)
- Duafa dan janda (4)
Total bingkisan 50,sembako 3,santunan uang 3+6=9 Amplop. Yang unik adalah saat santunan dibagi semua jamaah merasa bangga iringan sholawat nabi membuat suasana jadi hidmat dan mengharukan. Pecalang diberikan tali asih dan santunan uang oleh pak ustazd widodo,sementara banser diberi santunan uang dan bingkisan oleh bendesa adat,dan Babinsa. Bpk komandan koramil menyerahkan uang tunai kepada yatim dan duafa didampingi ketua MWC NU.
Ketua Muslimat menyerahkan sembako pada yatim duafa (3orang) serta pembagian bingkisan tali asih sebanyak 40- an oleh MWC,PAC NU dan komandan koramil ( kurma,blue band,teh botol sosro,snack wafer tango). Adat megibung bagi masyarakat bali sudah biasa,makan tumpengan bersama baru kali ini dilakukannya oleh perangkat desa,pecalang, banser,kepolisian dan TNI serta Tokoh ulama NU.di kecamatan Mengwi.
Menikmati hidangan kuliner tradisional banyuwangian tumpeng pecel pitik dan juga menbawa berkat nasi lalapan khas sego tempong banyuwangi,dengan buah dan jajanan tradisional menjadi saksi keberagaman umat dalam perbedaan dan keyakinannya tidak membuat jarak selama ada pengijat kuat Bhineka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangroa,serta adanya sendi kokoh falsafah budaya Pancasila dan UUD ’45 dibawah bendera NKRI.
Akhir acara dari Kampung Santri bergeser keZiarah wali makam seseh ( Syeh Hamdun Hamid Khairus Sholeh) tepat pukul 21.45-22.45 WITA . Kaut pantai seseh malam sya’ban itu jadi saksi pertemuan sakral ulama,umara,dan umat yang berdoa dengan keyakinan masing-masing bahwa Tuhan yang dipuja adalah Tuhan Yang Maha Esa. Pemberi kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh umat Nya. Catatan Bulan Maret,15 Sya’ban 1443-H.Ambarwati Soenarko


Komentar