oleh

Tenaga Ahli Pengkaji Kementrian Keuangan, Lakukan Gerakan Kurangi Sampah Plastik

Tenaga Ahli Pengkaji Kementrian Keuangan, Agung Kuswandono membawa komitmen mengurangi penggunaan plastik saat merayakan Idul Adha di Banyuwangi. Mudik hari raya Idul Adha ke kampung halamannya dimanfaatkan oleh Agung untuk mengajak masyarakat dalam rangka mengurangi sampah plastik.

Dengan memberi tauladan berupa contoh nyata saat merayakan hari Idul Adha 1443 Hijriah yang jatuh pada tanggal 10 Juli 2022 dengan berkurban seekor sapi dan dua ekor kambing yang disembelih dan dibagikan di lingkungan Cungking Kel. Mojopanggung, Kecamatan Giri Banyuwangi.

Komitmen Pria kelahiran 55 tahun lalu di Banyuwangi ini untuk mengurangi penggunaan plastik saat merayakan Idul Adha di kampung halamannya sangat menginspirasi.

IMG-20220710-WA0103

Pada Idul Adha kali ini, tidak hanya melakukan ibadah semata tapi juga dimanfaatkan untuk mengajak warga mengurangi sampah plastik.

Dengan menggunakan wadah anyaman bambu, yang dialasi daun jati sebagai tempat untuk menaruh daging sapi kurban yang dibagikan kepada warga yang kurang mampu, yatim piatu, fakir miskin serta kaum duafa lainnya di lingkungan Cungking Kelurahan Mojopanggung.

Tempat daging kurban menggunakan wadah anyaman bambu, yang dialasi daun jati sebagai tempat untuk menaruh daging hewan kurban yang dibagikan kepada warga

“Kami edukasi, Saat sebagian besar masyarakat masih memilih menggunakan plastik kresek sebagai tampat menaruh daging kurban dapat diganti dengan wadah anyaman bambu, “kata Ny. Yani Agung Kuswandono.

Ny. Yani menambahkan, bahwa khusus tahun ini dilakukan semacam edukasi untuk warga penerima daging qurban terlebih pada pasca pandemi ini.
Pada umumnya masyarakat masih memilih memakai plastik kresek yang dianggap lebih praktis sebagai wadah daging kurban, tambahnya.

Plastik yang digunakan sebagai kemasan makanan harus memenuhi standar food grade jadi tidak boleh sembarangan, sementara plastik dengan standar food grade harganya umumnya tidak semurah kantong kresek biasa.

Agung Kuswandono menegaskan kalau plastik kresek dapat diganti dengan wadah anyaman bambu.
“Plastik bisa diganti anyaman bambu dan dialasi daun jati. Bentuknya lebih manis dan berkelas, yang paling penting, tentunya lebih ramah lingkungan, ” ujarnya

Lebih lanjut, Agung menambahkan, bahwa penggunaan anyaman bambu dengan daun jati lebih aman karena menggunakan bahan alami.

“Tentu terjamin(kualitasnya). Bahan yang dipakai alami, langsung dari alam. Ada yang bilang kalau daging dibungkus daun jati rasanya akan lebih enak dan empuk, ” kata Agung.

Ini memberdayakan perajin anyaman bambu juga memberdayakan ekonomi masyarakat kecil. Anyamannya buatan pengrajin lokal di Dusun Papring, Kalipuro Banyuwangi.

“Alhamdulillah, berkat dorongan pemerintah untuk mengurangi sampah plastik, pesanan anyaman bambu membludak, rezeki pengrajin lokal, ” Kata Agung.

Kemasannya lebih manis, lebih ramah lingkungan. Setelah dipakai, kemasan ini bisa dipergunakan untuk tempat bumbu dapur atau kebutuhan lain. Potret pembagian daging kurban menggunakan wadah anyaman bambu oleh Tenaga pengkaji Kementrian Keuangan, ujarnya.

Menurut Agung Indonesia sudah darurat sampah plastik. Plastik sekali pakai seperti kantong kresek hanya akan menjadi sampah yang susah diurai secara alamiah.

“Komitmen pengurangan pemakaian plastik harus terus dilakukan, tidak hanya untuk mencapai target Indonesia bebas sampah plastik , melainkan harus menjadi prilaku sehari-hari.“Mari kita bersama-sama mengurangi penggunaan plastik. Mari kita mulai dari diri sendiri, ”ajak Agung.

“Kali ini digunakan tas anyaman bambu untuk wadah daging kurban. Ini salah satu bungkus yang ramah lingkungan. Wajib harus pakai bahan tanpa plastik,”tambahnya.

Tas anyaman bambu dialasi daun jati ini bukanlah kemasan sekali pakai. Tas ini cukup kuat untuk dimanfaatkan ulang sebagai kemasan bumbu dapur atau keperluan lain misalnya.

“Anyaman bambu dibentuk sedemikian rupa mirip tas , sehingga gampang dibawa. Bawa banyak pun tidak repot menentengnya, “ujarnya.

Agung turut membantu membagikan daging kurban kepada warga di sekitar lingkungan Cungking Banyuwangi.

“Ini isinya daging ya bu, bukan tape,” kelakar Agung kepada penerima daging hewan kurban.

Hal ini merupakan bentuk ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia agar setiap individu bisa bergerak bersama untuk lebih peduli mengurangi produksi sampah dan mengelola sampah harian, khususnya sampah plastik lebih baik lagi.

“Intinya kita berusaha untuk tidak memakai bahan plastik, ” tegasnya.

Agung menambahkan pihaknya telah konsisten dalam beberapa tahun terakhir ini memakai tas anyaman bambu sebagai wadah daging kurban.

“Unik ya. Kalau dulu pakai tas kresek. Kalau sekarang pakai tas ini bagus. Selain ramah lingkungan juga bagus tidak bocor.
“Ini gerakan kita bersama dan kita harus memulainya dari diri sendiri, ” pungkas Agung.

Sementara itu, Mak Epuk 78 tahun warga sekitar mengaku senang mendapatkan daging kurban dari Pak Agung.
Sehari sebelumnya dirinya mendapatkan jatah kupon antrean. Terkait wadah besek untuk daging kurban, Mak Epuk menyebutnya sebagai sesuatu yang unik.
Sebab baru pertama kali dirinya mendapatkan daging kurban yang dibungkus dengan tas anyaman bambu.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *