Merayakan malam tahun baru bagi umat Islam sudah menjadi tradisi dan budaya.
Pergantian malam tahun baru Islam 1444-H (29 Juli 2022) dilaksanakan dengan berbagai acara.
Ada yang melakukan seremonial lengkap dengan upacara, bahkan pawai dan arak2 an berhias keragaman yang bersumber dsri kearifan lokal. Semisal di masyarakat Jawa budaya membersihkan pusaka/jamasan tosan aji (keris, tombak, cambuk, dan pusaka bentuk lainnya).

Kalau di Bali istilahnya melukat/ membersihkan dari kotoran .Jika malam 1 Muharam yang dilaksanakan di masyarakat muslim mungkin akan berkesan meriah dan sangat berwarna karena melibatkan banyak warga sekitar berkumpul dan membuat satu kebiasaan yang jadi budaya jika terus dilakukan oleh mereka.
Hal yang sama pula dilaksanakan oleh Kampoeng Santri Bali. Meskipun mayoritas pendatang dari luar pulau Bali berstatus pekerja wiraswasta serta bukan domisili tetap( warga perantau), namun kegiatan ibadah dan keagamaan khususnya hari besar Islam tetap dilaksanakan dengan skala prioritas bagi warga kampoeng santri dan masyarakat muslim sekitarnya.
Tidaklah sesulit dan serumit yang dibayangkan jika malam 1 muharam 1444-H yang dilaksanakan ala Kampoeng Santri Bali.
Menurut Ustazd Widodo sebagai pengasuhnya, ini sudah diterapkan pada santriwan/santriwati yang rutin belajar ngaji untuk nderes Al-Qur’an dengan membacanya setiap hari. Kegiatan yang dilakukan saat malam 1 Muharam adalah, sore hari khotmil Qur’an, sholawat zikir dan bertasbih serta membaca doa tutup tahun dan usai sholat magrib berjamaah doa awal tahun dilanjutkan dengan bersholawat zikir tasbih serta doa dan munajat bersama, ditutup tauziah dan tasyakuran membagikan susu putih dan berkat untuk dikonsumsi para jamaah.

Menurut ketua Ranting NU Munggu (Timbul), acara ini adalah acara bersama yaitu dengan Muslimat NU, Majlis Taklim Mas Agung Wilis dan bertempat disekber TPQ Kampoeng Santri Bali, Jl. By Pas Tanah Lot Sahadewa 6 br. Pempatan Munggu, Mengwi, Badung. Ketua Muslimat NU Munggu Siti Cholifah juga menyatakan bangga dan puas dengan kerjasama semua warga muslim yang terlibat baik moral/materialnya.
Khususnya ibu2 pengurus muslimat yang sudah menyiapkan konsumsi berupa paket nasi lalapan.
“Tahun ini kami tidak buat tumpeng karena malam Jumat manis kemarin (28 Juli 2022), juga ada istigosah dan sudah 2 hari ini masak untuk acaranya, “kata bu Anik Sekretaris Muslimat.
Bunda Yuni pengasuh KSB menyatakan tradisi tumpeng, bubur jenang suro, minum susu putih tiap tahun baru islam selalu istiqomah, hanya khusus tahun ini tradisi minum susu putih yang tetap dilaksanakan agar khajad dan filosofi tentang kebersihan hati, fikiran, perbuatan terus hidup dan menjadi budaya bagi santri khususnya dan jamaah umumnya. Sebagai refleksi hijrah dari masa lalu ke masa depan ( meninggalkan yang tidak baik menjalankan hal yang lebih baik).
Masih ada hari lain di sepuluh hari kedepan tradisi tumpengan dan bubur jenang suro kami laksanakan pungkasnya mengakhiri pembicaraan. Dari kegiatan yang dilaksanakan sejak jam 16.00-21.00 WITA berjalan dengan tertib. Tampak nilai2 keislaman para penerus generasi bangsa ini ditandai dengan doa mulai awal sampai akhir acara, mereka istiqomah dan tawadluk kepada gurunya. Mutiara yang nantinya bersinar dan bisa menjadi harta berharga bagi kedua orang tuanya, penyelamat dikehidupan dunia dan akhirat.
Dari Kampoeng Santri Bali, Ambarwati Soenarko.


Komentar