Acara “Workshop Creative Writing Berbasis Kearifan Lokal” ini digagas oleh tiga universitas besar di Pulau Jawa yakni Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, dan Untag 1945 Banyuwangi. Pelatihan menilus tersebut dinilai amat penting oleh warga sekitar. Apalagi beberapa hasil bumi dan kerajinan tangan buatan warga lokal amat diminati di daerah-daerah lain, bahkan ke luar negeri. Meskipun komunikasi terkadang terkendala oleh sinyal dan jaringan karena kondisi Papring yang jauh dari kota tidak mengurangi semangat warga Papring untuk ikut serta dalam workshop tersebut. Salah satu perwakilan Komunitas Emak Papring sangat bergembira dengan kedatangan tamu pada hari itu. Sebab selain mendapat tambahan ilmu tentang menulis, mereka juga bertukar ilmu marketing dan ekonomi dasar pada bagian pengolahan pangan, pengemasan, dan penjualan produk.
Pagi itu, cuaca nampak kurang cerah. Sisa-sisa becek air hujan masih nampak di jalanan yang menuju Desa Papring. Para tamu dari Universitas Pembangunan Veteran Nasional Surabaya, Universitas Siliwangi Tasikmalaya, dan Universitas 17 Aguustus 1945 Banyuwangi dengan penuh semangat membara bersama-sama melatih dan berlatih menulis bersama Kampung Batara, Papring Banyuwangi. Pelatihan menulis atau bahasa kerennya Workshop Creative Writing diikuti serentak oleh Kelompok Pemuda Papring dan Komunitas Emak Papring, ikut serta juga dalam kegiatan tersebut UKM Literasi Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Diawali dengan seduhan kopi hangat sebagai penambah nikmat pagi yang syahdu di Papring. Dipekenalkan pada sesi pembuka Ibu Mega Prani Ningsih, M.Pd dari Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Ibu Dewi Puspa Arum, M. Pd dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, juga Ibu Muttafaqur Rohmah, M.Pd. pengampu mata kuliah dasar umum (MKDU) di Untag 1945 Banyuwangi sebagai pengisi materi menulis di hari itu. Ketiga tamu dari tiga universitas tersebut disertai founder dan owner Kampong Batara Papring Bapak Widie Nurmahmudy membersamai para pemuda papring untuk giat “berliterasi” dengan membaca situasi dalam hal ini membaca kemudian bisa dan biasa untuk menuliskan kondisi serta situasi terkini dan paling mutakhir dari lingkungan terdekat yakni dengan membicarakan sesering mungkin untuk menuliskan local wisdom.

Komunitas Pengrajin Bambu Papring, Pemuda Kreatif Papring sebagai peserta pada pelatihan hari itu berjalan tanpa kendalan apapun. Para tamu undangan sebagai pemateri dari tiga universitas diakhiri dengan menyantap bersama-sama jajanan khas dari Papring berupa kukusan palawija dan kue lempog yang menambah seru dan nikmat kala itu. Ditutup dengan permainan seru dari mahasiswa UPN Surabaya workshop Creative Writing meninggalkan kesan yang tidak bisa dilupakan. Bapak Widie dan semua pemateri berharap ada kegiatan lanjutan yang mengiringi kegiatan menulis agar menjadi ritme yang manis dipadu dengan olahan-olahan kata dan kalimat dari pemikiran-pemikiran warga masyarakat Papring yang dinamis.

Bapak Widie Nurmahmudy sebagai owner Kampung Batara menegaskan bahwa meskipun tanpa teori menulis berangkat dari keinginan yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik. Apalagi menurut beliau para Pemuda Papring adalah warga masyarakat yang produktif dilihat dari umur dan pemikirannya. Ditambahi pernyataan Ibu Mega Prani Ningsih, M.Pd dari Universitas Siliwangi Tasikmalaya yang menjelaskan bahwa menulis bisa dari hal-hal kecil apa yang menjadi kebiasaan di sekitar kita, hal itu digarisbawahi oleh pemateri kedua yakni Ibu Dewi Puspa Arum, M. Pd dari Surabaya bahwa menulis itu ala biasa karena terbiasa mencatat hal-hal kecil dan mencatat apapun, bisa berangkat dari menulis resep untuk ibu-ibu atau menulis diary yang sekarang sudah mulai lama ditinggalkan. Sejalan dengan pernyataan kedua materi Ibu Muttafaqur Rohmah, M.Pd. pengampu mata kuliah dasar umum (MKDU) di Untag 1945 Banyuwangi menambahkan bahwa sebetulnya menulis itu tidak membutuhkan teori, beliau menyatakan bahwa dengan prinsip 3T (tulis tanpa teori) menulis menjadi tidak beban, menulis menjadi mengalir seperti air. Sebab dengan teori 3T ini kita menjadi lebih ringan untuk memulai menulis.(Uut/Ilham Triadi)


Komentar