oleh

Ditemukan Reruntuhan Gapura Meru, Bukti Kutharaja Macan Putih Di Bumi Blambangan Pernah Jaya

BANYUWANGI, Jurnal News – Temuan bersejarah berupa reruntuhan struktur bata berukuran jumbo yang diperkirakan berusia lebih dari tiga  abad dalam kondisi 50 % ditemukan oleh penduduk setempat saat membersihkan lokasi yang akan dijadikan lounching Pasar Sawah Meru.

Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten  Banyuwangi masih terus melakukan serangkaian upaya penelitian dan pengkajian untuk mengidentifikasi terhadap artefak yang diduga obyek cagar budaya.

Mohammad Khotibin warga setempat yang ikut mendampingi penelitian oleh tim ahli cagar budaya mengatakan keberadaan potensi cagar budaya di sejumlah lokasi itu sering ada temuan artefak kuno.

“Di lokasi ini sering ada temuan semacam artefak kuno karena kurangnya pengetahuan warga akan pentingnya upaya penyelamatan sehingga seluruh artefak dibiarkan dan  belum mampu diselamatkan,” jelasnya.

Lokasi Dusun Meru berdekatan dengan Desa Macan Putih yang masih satu Kecamatan. Minimnya data tertulis sejarah Desa Tambong membuat kesulitan mengungkap temuan artefak.

Sementara itu, Titien Fatimah (arkeolog) ketua Tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi mengungkapkan beberapa pemilik lokasi yang berpotensi cagar budaya yang sah tidak hanya memiliki hak untuk menikmati. Tapi juga harus mempunyai kewajiban ikut serta menjaga keberadaan temuan arkeologi sebagai potensi cagar budaya.

“Termasuk hak untuk mengelola sesuai aturan yang berlaku, instansi terkait dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata harus merekomendasikan agar potensi arkeologi di Dusun Meru Desa Tambong akan senantiasa memperhatikan hak-hak generasi selanjutnya untuk menikmatinya.” Terangnya.

Nama Meru secara toponim tentunya tidak akan lepas dari keberadaan  bukit-bukit yang sudah disulap menjadi petak-petak sawah dan bekas produksi bata merah.

“Dilokasi itu, terdapat reruntuhan bata-bata besar berukuran tinggi 1,5 meter,  lebar 3 meter dan panjang 5 meter.” Ungkap Titin

Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Meru berpotensi sebagai peninggalan cagar budaya yang berlokasi diatas bukit. Tim ahli cagar budaya menduga batu bata berukuran besar itu bekas reruntuhan Gapura batas masuk Desa Tambong.

Cerita Babad Tawang Alun Setelah Kutharaja Macan putih dibangun dalam waktu lima tahun antara tahun 1660-1665, diantaranya Tambong dan yang lain yang masuk dalam kawasan Jawi kutha.

Pengembangan Kutharaja ke arah utara dilakukan oleh tokoh bernama Ki Anggajaya dia adalah salah satu pejabat kerajaan yang mendapat bagian tanah di sebelah utara sungai Desa Tambong.

Kala itu wilayahnya banyak ditumbuhi Bambu Tambong, kemudian dikenal dengan Padukuhan Tambong dan bagian wilayah utara di sekitar perbukitan Macan Putih dibangun benteng bernama Meru. Disitu juga dibangun Gapura berfungsi untuk pintu masuk kedaton dari arah utara.

Keberadaan reruntuhan gapura Meru berada ditengah persawahan tepatnya dilingkungan Dusun Meru desa Tambong Kecamatan Kabat  Banyuwangi. Menurut sejarah nama Meru berasal dari perbukitan (gumuk), lokasi itu sekarang berubah menjadi persawahan warga.

Mohammad Khotibin ketua Bumdes Desa Tambong bercerita bahwa tak jauh dari Taman Meru Sonya kurang lebih 100 meter pada tahun 1970 an masih ada gapura dengan bata-bata berukuran besar.

“keberadaan potensi cagar budaya di sejumlah lokasi didusun Meru diduga juga bekas reruntuhan benteng kerajaan Macan Putih, disebelah utara kini terancam punah seiring  dampak pembuatan petak-petak sawah,” terangnya.

Meski ada upaya penyelamatan tapi tidak seluruh  potensi cagar budaya  mampu diselamatkan, sebagian potensi cagar budaya kini terdampak pembuatan sawah- sawah baru oleh warga.

Situs Meru Sonya adalah Peninggalan Cagar Budaya di Banyuwangi (Gumuk/bukit tertinggi) Melihat reruntuhan bata merah berukuran besar yang dipasang seperti pintu gerbang di timur Taman Meru Sonya.

Taman Meru yang berada di Desa Tambong memang perlu mendapatkan perhatian khusus baik dari Pemerintah Daerah khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata karena itu dapat dijadikan objek wisata sejarah.

Kepala Desa Tambong Agus Hermawan nama Meru berasal dari bukit, nama itu salah satunya adalah Situs Meru Sonya. Namun situs itu kini terancam punah akibat aktifitas pertanian sporadis dan pembuatan bata merah yang dilakukan warga sekitar.

“Potensi benda bersejarah itu tidak hanya ditemukan di kawasan perbukitan dan lembah yang berada di kawasan Meru Sonya. Tapi juga gapura dan reruntuhan bekas benteng kerajaan Macan Putih di sebelah utara,” kata Agus.

Agus berharap ada perlakuan penelitian lebih lanjut dengan melakukan eskavasi dengan melibatkan semua institusi terkait.

Reporter : Ilham

Editor      : Subhan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *