Banyuwangi yang raih wistara 2 dan sering dapat kunjungan studi tiru, kini giliran Banyuwangi yang sharing refresing replikasi kabupaten untuk target raih Swasti Saba Wistara 3 sebagaimana tekad Bupati dalam sambutannya pada Hari Kesehatan Nasional Jatim lalu yang dipusatkan di Banyuwangi.
Dalam kunjungan ke Kabupaten Gianyar ini salah satu fokus tatanan yang ingin dipelajari adalah pada tatanan pasar sehat serta pariwisata dan pemukiman Sehat.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 25-26/11/22 Terdiri dari unsur pembina Dinas Kesehatan dan Bappeda serta anggota dan relawan Forum Banyuwangi Sehat (FBS).
Rombongan FBS disambut di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar oleh Kabid Yanmas Dinkes Kabupaten Gianyar Ibu Oliva Rao, SIP, MAP dan Forum Gianyar Sehat. DR. H. Soekardjo selaku ketua FBS menyampaikan kunjungan ini selain bentuk menjalin silaturahmi juga karena kami ingin sharing dan berbagi info terkait pelaksanaan kabupaten sehat khususnya soal regulasi dan sistem penilaian yang baru.

“Mungkin ada trik strategi khusus dari Pembina Bali juga. Termasuk yang pentingkan stunting hingga relatif berhasil, ” ujarnya.
Lalu FGS memberikan paparan tentang profil maupun keberhasilannya dibidang yang ingin distudi tiru Banyuwangi.
“Namun kami juga ingin belajar ke Banyuwangi karena sudah sukses meraih Swasti Saba Wistara ke 2 di era pandemi serta berhasil deklarasi Bebas ODF lewat festival kali bersih dan toilet bersih, ” ungkap Made S.
Bupati Gianyar yang diwakili Oliva Rao, SAP, MAP menyampaikan bahwa Kabupaten Gianyar mendapatkan sebuah kehormatan karena di Kunjungi Kabupaten Banyuwangi karena ada beberapa indikator yang masih belum terpenuhi untuk bisa mengikuti verifikasi kabupaten sehat di tahun 2023 untuk kategori Wistara yang dicapai 2019 sebelum pandemi. Gianyar sedang fokus untuk pelaksanaan tatanan masyarakat sehat mandiri khususnya pada pengelolaan sampah karena memiliki TPS3R dan stunting yang didukung CSR, kader PKK memberikan TMP kreasi kelor dan para bekel di Banjar. Dalam mewujudkan Kabupaten sehat tentunya perlu adanya keterlibatan masyarakat dan stakeholder sehingga bisa menciptakan lingkungan yang nyaman, aman dan bersih tentunya. Usai dialog tanya jawab terbuka kekeluargaan,ditandai bertukar cinderamata.Banyuwangi memberikan ornamen gandrung, dibalas logo Pemkab berukir.
Setelah itu, rombongan FBS yang dipandu Gede Dasuki Rahmat asal Loloan Jembrana, juga mengunjungi beberapa lokasi yang ada di pulau Dewata ini diantaranya adalah Desa Panglipuran, sebuah desa di Bangli yang ditetapkan sebagai 3 besar desa terbersih di dunia, disana juga ada Pura Penataran dan sistem biopori. penduduk di sana punya pokdarwis yang didukung CSR.
“Kami dari dulu memang bangun tidur sebelum cuci muka adalah bersihkan sampah lalu buang di TPS sesuai organik maupun anorganik.Jam 6 DLH sudah angkut sampah.

“Kehidupan kami normal saja, usaha umkm pariwisata,ibadah juga berumah tangga, ” ungkap Wayan Soler sambil melayani pembeli salak gulapasir dan kaos dan kerajinan.
Di desa yang punya minuman khas cem-cem dapat ketemu rombongan Kedokteran UI, Tim Promotor UKS Stikes Berbagai kampus bareng aktivis Roni dari NGO Spektra yang berkenan lakukan giat pemberdayaan kesehatan masyarakat di bumi Blambangan.
“Kami tunggu dengan senang hati, ” ungkap Dr. H. Soekarjo yang juga Ketua Stikes Banyuwangi dengan senyum bahagia.
Selanjutnya rombongan FBS mengunjungi Pura Uluwatu dengan Tari Kecak khasnya, lewati tol laut Bali Mandara menuju Nusadua dan GWK layaknya delegasi G20, Dinner Jimbaran, inap di kawasan Kuta. Di hari kedua rombongan menikmati dan mengkaji potensi Pantai Melasti serta kunjungi pusat oleh-oleh untuk bahan kajian mengembangan usaha keluarga nelayan maupun petani serta mengoptimalkan Kawasan Terminal Wisata Terpadu Sobo. (Desika/Aguk/JN).


Komentar