oleh

KOPI BANYUWANGI Aromanya Sampai Mendunia

“Sawwadi karp Sawwadi Ka”, saat Aekanu Hariyono menyapa rombongan tamu Thailand dan para tamu kaget kemudian menjawab sambil tangannya seperti menyembah. Para tamu ini adalah para dosen dari Mae Fah Luang University Thailand yang dikomandani Prof Bussaba Sitikarm. Para tamu lebih menghargai lagi saat Aekanu bercerita bahwa beliau sudah datang ke Thailand pertama kali tahun 2004 yang lalu dan juga mengatakan bahwa anak nya adalah seorang dosen dan pernah diundang seminar di Thailand.

Momen ini adalah merupakan yang ke sekian kalinya bagi Aekanu untuk bercerita kepada tamu dari berbagai negara yang tertarik tentang “Coffee Java” yang mempunyai hubungan dengan sistim budaya masyarakat setempat.
Mereka mencatat penjelasan yang diberikan oleh Aekanu, “For Osingnese people,the original occupants who regarded to have maintained their original lifestyle tradition and culture. They live in some villages on the slope of Mont Ijen,here coffee is not only for beverage but it is served for welcoming and honour the guest.Even black coffee has a certain purpose if it is sacreficed for respecting their ancestors”.

IMG-20221223-WA0049

Athitaya salah seorang dari rombongan dosen dengan serius mendengar cerita dari Aekanu yang mendapat predikat sebagai tukang ceritra dan seorang Pemerhati Adat Budaya Osing.

Aekanu makin antusias dan melanjutkan ceritanya lagi “You may also learn more about coffee processing,  I am able to demonstrate the traditional method, which begins with the freshly-picked cherries dried in the sun. Next, the dried cherries are hulled by hand to remove the dried outer fruit layer and the parchment that covers the bean. The remaining product is the green-hued coffee beans. Then hand roasting process, which utilises a traditional clay pan over an open wood fire. The beans are kept moving throughout the entire process to keep them burning.The temperature continues to rise, the colour of bean change that from green to golden yellow to dark brown.About 10 minutes under the effect of the heat, the bean releasing a gas which produces a crackling sound and it smells of an incredible aroma.Pour them on the bamboo pan,make the roasted coffee cool as soon as possible to keep the quality not to be over roasted and lost the aroma as well as changing to worst taste !”, tangan Aekanu turut bergerak seperti aktor yang membuat para tamu semakin tertarik.

“Very interesting, and I would like to invite you to come to Thailand ,to my University “, ucap Prof. Bussaba begitu tertariknya tentang kopi dan akan mengundang Aekanu ke Thailand untuk sharing pengalaman, sambil ia menghadiah kan ke Aekanu sebungkus kopi AKHA NOI COFFEE dari tataran Doi-PangKhon.

Aekanu yang juga sebagai pengurus Kopat (Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi) Banyuwangi, lalu memberikan syal dan udeng sebagai tanda ikatan persaudaraan. Aekanu memohon do’a, semoga bisa berdiplomasi Budaya lagi ke Thailand.
(AWI-Kiling Osing

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *