oleh

Remaja Tanpa Nikah Muda Tajuk Jumat Cerdas SMPN 2 Rogojampi

Pendidikan seksual merupakan suatu keterampilan dan pengetahuan yang perlu diberikan sedini mungkin kepada anak mengenai perilaku seksual untuk menghadapi hal-hal yang akan terjadi di masa depan seiring bertambahnya usia serta membentuk karakter dan pola perilaku agar mampu terhindar dari perilaku-perilaku yang beresiko terhadap pelecehan seksual maupun perilaku seksual menyimpang. Pernikahan dini adalah salah satu contohnya.

Maraknya pernikahan dini yang dialami remaja berusia di bawah 20 tahun masih menjadi fenomena di beberapa daerah di Indonesia. Dengan pengetahuan tentang seksual kepada anak, bisa memenuhi rasa ingin tahu anak. Hal ini, berguna untuk mencegah anak melakukan aktivitas seksual yang tidak benar.

IMG-20230214-WA0097

Seperti Halnya yang dilakukan SMPN 2 ROGOJAMPI yang melakukan kegiatan Jumat Cerdas yang bertemakan “Pernikahan Dini” [10/02/2023]. Jumat Cerdas kali ini dipandu oleh Ibu Wiwik Sri selaku guru Bimbingan Konseling. Ibu Wiwik memberikan informasi seputar Pernikahan Dini. Selain itu, didukung juga oleh Ibu Nur Hidayah selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang memberikan pencerahan dari segi agama tentang dosa dari perzinaan. Tak hanya itu, Bapak Made Artho selaku guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam juga turut serta memberikan edukasi tentang seks dan bahaya yang akan didapat apabila kita melakukan seks diluar nikah.

Selain para guru, teman kami juga mempresentasikan hasil diskusi tentang Pernikahan Dini dan juga dampak-dampaknya beserta cara mencegah terjadinya Pernikahan Dini. Presentasi tersebut diwakili oleh Febriana Putri Indah Wulandari (9A) dan Ellok Mazidah (9F), mereka sangat berantusias mempresentasikan materi ini.

Kegiatan ini dilakukan untuk membekali pendidikan agama tentang seks sebelum usia remaja agar anak memahami bagaimana cara bergaul dengan teman dan sahabat yang baik. Karena di era globalisasi sekarang ini, anak anak cendrung memahami konsep pacaran lebih cepat dibanding zaman dahulu.18% penduduk dunia adalah remaja, sekitar 1,2 miliar jiwa. Rentang usia ini merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat secara fisik, psikologis, maupun intelektual. Rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk mencoba hal-hal baru merupakan ciri khas remaja. Hal tersebut tak jarang disertai dengan pengambilan keputusan yang ceroboh atau tidak berpikir panjang, seperti menikah muda/pernikahan dini misalnya.
Pernikahan dini masih banyak ditemui di seluruh dunia. Setiap tahunnya sebanyak 10 juta perempuan di dunia menikah pada usia <18 tahun. Hal ini menyebabkan angka kematian ibu dan anak, penularan infeksi menular seksual, dan kekerasan semakin meningkat bila dibandingkan dengan perempuan yang menikah pada usia >21 tahun.

IMG-20230214-WA0100

Untuk mencegah bahaya kesehatan akibat pernikahan dini, pendidikan bisa menjadi salah satu hal yang berperan penting. Pendidikan dapat memperluas wawasan anak dan remaja serta membantu meyakinkan mereka bahwa menikah haruslah dilakukan di saat dan usia yang tepat. Menikah bukanlah sebuah paksaan dan juga bukan sebuah jalan untuk terbebas dari kemiskinan. Pendidikan dapat memberi informasi mengenai tubuh dan sistem reproduksi diri sendiri ketika nanti akan menikah. Mari kita cegah Pernikahan Dini, dengan menguatkan iman dan taqwa, bersemangat sekolah dan raih prestasi setinggi mungkin.

Sementara Menurut Kepala SMPN 2 Rogojampi , Marhenyantoro, S.Pd. SH, MM ” Pencegahan pernikahan dini sangatlah penting untuk para generasi
muda saat ini. Dalam rangka upaya pencegahan pernikahan dini, orang tua dan sekolah mempunyai peranan yang sangat penting untuk melihat lebih banyak manfaat atau mudharatnya, sebelum orang tua memberikan ijin untuk melangsungkan pernikahan dini tersebut. Untuk itu pemerintah mempunyai kebijakan dalam mengatasi hal tersebut yaitu adanya penguatan karakter pendidikan yang melibatkan semua komponen yang ada dalam dunia pendidikan, dimulai pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah, urainya.

Lanjut Marhen, Anak anak juga perlu dibekali pendidikan agama tentang seks sebelum usia remaja agar anak memahami bagaimana cara bergaul dengan teman dan sahabat dapat diketahui anak sejak dini, apalagi di era globalisasi sekarang ini, anak anak cendrung memahami konsep pacaran lebih cepat dibanding zaman dahulu.

Seperti halnya kegiatan yang diadakan di SMPN 2 Rogojampi yaitu, Jum’at cerdas yang bertujuan untuk mendidik anak-anak agar lebih memperkuat iman di era pergaulan yang mulai melenceng pada norma agama, pungkas Marhen.

PERNIKAHAN DINI NO!, SEKOLAH YES!

*( ilham / tim jurnalis Sempida )*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *