oleh

Taujan Alias Muhyidin Alias Jiteng, Mantan Heiho Usia 1 Abad

MUNCAR – Taujan, seorang buyut penuh semangat dari Desa Wringinputih Muncar, baru saja merayakan hari ulangtahunnya yang ke-100 pada tanggal 10 Agustus tahun lalu. KTPnya buktikan klaim tersebut, meski tampak seperti hanya berumur 80-an tahun.

Umurnya yang panjang, kesehatan relatif baik, dan kemampuan membaca Al-Qur’an tanpa bantuan kacamata menunjukkan betapa luar biasanya kekuatan dan vitalitas orang ini.

“Saya berharap umur saya bisa lebih panjang lagi, agar bisa melihat anak cucu tumbuh dan berkembang. Ayah saya sendiri Koseren Wariomerjo Bin Suro hidup sampai 142 tahun dan ibu Ghoniyah 96 tahun saat meninggal, ” ungkap Taujan dengan penuh semangat kepada jurnalnews dan majalah keboendha saat kami berkunjung ke rumahnya di RT 04 RW 05 Desun Kabatmantren Desa Wringinputih Kecamatan Muncar pada hari Rabu (17/5/23).

IMG-20230529-WA0029

Taujan, seorang cucu modin dan anak petugas keamanan aset Belanda yang berada di bawah kepemimpinan Ratu Yuliana, adalah seorang alumni sekolah dasar Belanda. Saat Jepang menduduki Indonesia, ia bergabung dengan wajib militer Heiho di Tulungagung, lalu berlanjut menjadi anggota PETA di Blitar. Selain fisiknya yang kokoh, Taujan juga merupakan pendekar seni bela diri Cimande, ilmu bela diri yang diajarkan ke Kyai Badjuri Campurdarat Tulungagung.

Selama agresi militer Belanda kedua, Taujan berhasil lolos dari sergapan Belanda dan naik kereta api ke Banyuwangi pada tahun 1949 setelah sempat bertemu dengan Ahmad Yani di ibu kota. Dia bertujuan bertemu dengan Kyai Mannan di Sumberberas, Muncar. Saat bertemu, ia diberi pilihan untuk memilih julukan antara Fauzan atau Taujan, dan pilihan jatuh pada Taujan yang berarti keberanian.

“Ke Banyuwangi tanpa bawa surat berkas apapun termasuk surat tugas sebagai prajurit BKR, ” lanjutnya tanpa ada guratan menyesal.

IMG-20230529-WA0030

Pada tahun 1953, Taujan menikahi Muntamah, seorang santriwati yang saat itu masih berusia 14 tahun.

“Saya tidak pernah berani menyatakan cinta pada seorang gadis karena takut ditolak. Tapi, ketika wanita cantik ini ditawarkan sebagai calon istri, saya langsung setuju. Saya menikah di hadapan keluarga dan Kyai Badjuri. Nama asli saya, Muhyidin, disodorkan oleh Kyai Badjuri kepada wali dan modin. Jadi, Jiteng hanyalah nama samaran saat saya menjadi Heiho dan gerilya. Untuk KTP, saya menggunakan nama yang diberikan oleh Kyai Mannan, ” jelas Taujan, kakek dari 19 cucu dari 6 anak.

Taujan, seorang petani dan pebisnis nonformal, juga pernah melakukan tirakat relatif lama di Alas Purwo.

“Jaga sholat wajib 17 rakaat, jaga kelestarian alam dan bisa bermanfaat bagi sesama, ” pesan Taujan. Mengenai pesan untuk pemimpin bangsa dan daerah baik lokal maupun nasional. Taujan menuturkan, “Tidak perlu memberi pesan, mereka itu sudah pintar dan kuminter. Saya juga tidak pernah meminta bantuan dari pemerintah, tapi jika ditawari ya saya terima. Anak 6 dan 19 cucu saya pesani untuk terus berjuang untuk agama dan bangsa,tanpa berharap pada sesama maupun pejabat.Mari kita jaga tauhid pada Tuhan Yang Maha Esa dan menjaga persaudaraan serta gotong-royong agar kehidupan kita semakin sejahtera, ” ujarnya sambil tersenyum.

Dari 6 anaknya, anak kedua Imam Sabuki sempat belajar agama 9 tahun ke Syekh Alawi al-Maliki Rosefa Arab Saudi.

“Mbakyu Sulung Mutiaul Khasanah domisili teng Brunai Darussalam, lainnnya ngumpul satu RT sambil mengelola PAUD dan MI Bustanul Ulum dan PKBM Cahaya Ilmu dan merintis UMKM panganan olahan dari hasil laut, ” kata putri kelima alumni IAIN Tulungagung Nurhidayati, S.PdI., (42) yang ingin hari lanjut usia (Halun) yang secara nasional diiperingati tiap tanggal 29 Mei ayahnya diundang panitia dinas sosial atau Yayasan Gerontologi Abiyoso seraya sebut nomer hpnya 085222859000. (Bung Aguk/AM/JN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *