oleh

Kisah Kemanusiaan: Rumah Gubuk Syamsul dan Jejak Bantuan dari Desa Benculuk, Banyuwangi

BANYUWANGI, Jurnalnews – Sorotan kemanusiaan tertuju pada rumah gubuk Syamsul Ma’arifi (45 tahun) dan istrinya, Inayatul Fitriah (31 tahun), yang bersama kedua anak mereka, Nikmatul Aluia (7 tahun) dan Nailul Ifatah (3 tahun), menjadikan mereka perhatian Pemerintah Daerah Banyuwangi.

Keluarga ini menempati gubuk sederhana di lingkungan RT 05 RW 02, Dusun Pancursari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Keadaan tempat tinggal mereka yang sangat sederhana menjadi panggilan untuk tindakan segera dari pihak Pemerintah.

Pemerintah Daerah Banyuwangi diharapkan segera mengambil langkah proaktif dengan mengalokasikan anggaran untuk membangun rumah layak huni bagi keluarga Syamsul.

Dengan demikian, diharapkan kehidupan mereka dapat diperbaiki dan kondisi hunian yang layak menjadi hak setiap warga. Selasa (26/12/2023).

Kepala Desa Benculuk, Ahmad Mudofir, Menyampaikan Solusi dan Rencana Bantuan bagi Warga Kurang Mampu, ia dengan tegas menjelaskan bahwa mereka sudah mendapatkan bantuan dari BLT DD dan bantuan beras tahun ini.

“Syamsul disini pendatang, sudah mendapatkan BLT DD dan juga beras, BPNT dan beras yang harusnya untuk KPM lain saya alihkan ke Syamsul, untuk bedah rumah kita upayakan tahun 2024 kita masukkan program bedah rumah, nanti melalui anggaran dana desa,” jelasnya.

Ahmad Mudofir memastikan bahwa kebijakan ini diambil untuk meningkatkan kualitas hidup warga desa dan memastikan bahwa bantuan tersedia bagi mereka yang membutuhkan.

“Ketika Syamsul dan keluarganya masih menetap di Desa Benculuk maka kita upayakan kebutuhan mereka, kita tidak tau di desa sebelumnya sudah mendapat bantuan apa belom, jika sudah disini kita upayakan,” tambahnya.

Langkah proaktif dari pihak desa ini diharapkan dapat memberikan bantuan lebih lanjut kepada Syamsul Ma’arifi dan warga lainnya yang membutuhkan.

Syamsul Ma’arifi (45 tahun) dan anak balitanya saat di depan rumah gubuk. (Foto: Rony Subhan).
Syamsul Ma’arifi (45 tahun) dan anak balitanya saat di depan rumah gubuk. (Foto: Rony Subhan).

Cerita rumah sederhana milik Syamsul beberapa hari menjadi fokus perhatian masyarakat, rumah sederhana tersebut mempunyai lebar sekitar 5 meter dan panjang 7 meter.

Rumah kecil itu berdinding bambu dibelah, lantai tanah, dan genting esbes. Sayangnya, kerangka rumah yang terbuat dari bambu tampak sudah mulai lapuk.

Syamsul bercerita, rumah saya ini hanya memiliki satu ruang tamu dengan dua kursi dari bambu, serta satu ruang kamar dan dapur. Untuk dapur istrinya memasak memakai tungku dan kayu.

“kita tidak punya kompor dan tabung gas elpiji, kita memasak dengan tungku dan kayu,” jelasnya.

Agar angin malam tidak masuk, Syamsul melapisi kamarnya dengan terpal plastik karena bambu sudah mulai berongga, diduga karena terus terkena sinar matahari.

Syamsul, mengakui bahwa bantuan yang diterima dari pemerintah, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), baru dua kali dalam satu tahun, dan beras 10 kilogram hanya satu kali seterusnya tidak dapat.

“saya mendapat BLT, 2 kali dalam satu tahun. Sedangkan beras hanya 1 kali seterusnya tidak dapat,” kata Syamsul Ma’arifi kepada Jurnalnews.com..

Syamsul menetap di rumah sederhana mengaku sudah 2 tahun, ia pindah datang dari dari Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari.

Syamsul menggunakan tungku dan kayu untuk memasak. (Foto: Rony Subhan).
Syamsul menggunakan tungku dan kayu untuk memasak. (Foto: Rony Subhan).

Rumah gubuk yang didirikan diatas milik tanah sendiri itu sebelumnya tidak difasilitasi dengan sumur dan kamar mandi.

Syamsul mengungkapkan bahwa pembangunan kamar mandi dan sumur pada saat itu merupakan inisiatif warga Desa Sumberayu, Kecamatan Muncar. Sebelumnya, keluarga Syamsul sering mandi di rumah tetangga atau bahkan di sungai.

“Iya, sumur dan kamar mandi dibangun oleh warga Desa Sumberayu, Muncar, bukan melalui bantuan dari pemerintah,” jelas Syamsul.

Dalam kehidupan sehari-hari, Syamsul mengais rezeki untuk menafkahi keluarganya sebagai buruh serabutan. Tanpa ada tugas khusus, ia sering kali mencari nafkah dengan mencari kerang dan ikan di tepi pantai cacalan di Desa Kedungasri.

“Saya bekerja sebagai buruh serabutan, mas. Kadang ada yang mengajak bekerja, kadang juga tidak. Jika sedang tidak ada pekerjaan, saya mencari kerang di tepi laut,” paparnya.

Meskipun pemerintah telah meluncurkan program bedah rumah yang melibatkan banyak warga, namun rumah Syamsul hingga saat ini belum mendapat sentuhan, bahkan tidak tercatat dalam program bedah rumah. (Rony//JN).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *