Surabaya, JurnalNews.com – Pendiri yang juga sesepuh Komunitas Spiritual Kawruh Budi Wijayanti, Romo Tjahja Tribinuka, Minggu (09/11/2025), berkunjung ke Sanggar Penerangan di Jalan Serayu Surabaya.
Sanggar Penerangan adalah salah satu tempat berkumpul dan beraktivitas anggota
Persatuan Warga Theosofi Indonesia (Perwathin).
Ada 16 Sanggar Perwathin di Pulau Jawa.
Yakni Sanggar Penerangan Surabaya, Sanggar Penataran Blitar, Sanggar Wishnu Malang, Sanggar Shanti Malang, Sanggar Sala Surakarta, Sanggar Wjaya Kusuma Semarang, Sanggar Dharma Yogyakarta, Sanggar Adiwerna Tegal, Sanggar Mangir Bantul, Sanggar Dewaruci Kudus, Sanggar Sophia Bandung, Sanggar Bogor di Bogor, Sanggar Saraswati Jakarta, Sanggar Blavatsky Jakarta, Sanggar Luxor Jakarta dan Sanggar Cetho Karanganyar.
Keberadaan warga Theosofi di suatu kota memang ditandai dengan adanya sanggar, tempat berkumpul bersama secara periodik.
Perwathin AHU 2023, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025) menggelar Kongres ke-62 di Hotel Cakra, Pasar Kliwon, Kauman, Solo. Kongres diikuti 13 dari 16 pengurus Sanggar Theosofi.
Dalam Kongres ke-62 di Solo, dari 15 sanggar, 9 pengurus hadir langsung, sedangkan yang mengirimkan wakil dengan surat mandat pengurus sanggar ada 4 orang. Total ada 13 sanggar yang hadir.
Ketua Perwathin AHU 2023, dr. Dany Syumanjaya menjelaskan, berdasarkan jumlah kehadiran pengurus sanggar, Kongres ke-62 diikuti 86 persen pemilik hak suara.
“Dengan demikian semua keputusan yang diambil dalam kongres ini sah. Karena peserta kongres memenuhi kourum,” katanya.
Meskipun keberadaan warga Theosofi di suatu kota ditandai dengan adanya sanggar, banyak anggota Theosofi yang tinggal di kota yang tidak ada sanggarnya.
“Warga Theosofi itu ada di mana-mana, hampir di seluruh kota besar di Indonesia ada anggotanya. Ada juga organisasi Theosofi tingkat internasional di beberapa negara di dunia,” tutur Hernowo Adiwarna, warga Theosofi asal Bogor, yang menerima kunjungan Romo Tjahja Tribinuka di Sanggar Penerangan.
Romo Tjahja datang ke markas Theosofi Surabaya bersama Ibu Ragil, Ketua Ajaran Kawruh Budi Wijayanti, Kakung Yatmin, Kakung Tris dan Kangmas Ari.
Hernowo juga mengungkapkan hasil Kongres Perwathin di Solo tahun 2025.
Kongres ke-62 Perwathin di Solo antara lain menyepakati perubahan Anggaran Dasar Perwathin, perubahan status kepengurusan beberapa sanggar di tahun 2025, pelantikan pengurus Sanggar Cetho Karanganyar dan pemberian mandat kepada pengurus Perwathin AHU 2023 untuk mengatasi masalah hukum di pengadilan mana pun di Indonesia.
Organisasi tua
Organisasi Theosofi didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky bersama Henry Steel Olcott pada tahun 1875 di New York, Amerika Serikat.
Nama organisasi awalnya Theosopichal Society atau Perkumpulan Theosofi.
Tujuan berdirinya Perkumpulan Theosofi adalah mempelajari ajaran spiritual dari berbagai agama dan budaya serta memahami hukum-hukum alam semesta.
“Jadi tidak usah kaget kalau anggota Theosofi berasal dari penganut agama apapun. Di Theosofi kita tidak bicara agama, melainkan bicara soal manusia dan kemanusiaan,” tambah Hernowo.
Pendiri Theosofi Madame Blavatsky dikenal sebagai seorang spiritualis dan penganut okultisme. Sedangkan Olcott yang seorang pengacara dan jurnalis membantu Blavatsky menyebarkan ajaran-ajarannya ke seluruh dunia. Theosofi kemudian berkembang di Amerika Serikat, Eropa serta Asia.
Blavatsky sendiri punya perhatian khusus terhadap aktivitas spiritual dan budaya di Indonesia. Itu sebabnya ia sempat datang langsung ke Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indonesia sebanyak dua kali.
Itu pula sebabnya banyak berdiri Sanggar Theosofi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
Sanggar Penerangan Surabaya misalnya, didirikan pada tahun 1903 di Jalan Serayu. Hingga kini gedung berusia 122 tahun itu masih dalam kondisi baik.
Menurut Rudyanto Philips, pengelola Sanggar Penerangan Surabaya, saat Bung Karno masih berguru pada Tjokroaminoto di Jalan Peneleh Surabaya, sering datang ke Sanggar Penerangan.
“Karena ayah Bung Karno (R. Soekemi Sosrodihardjo) adalah Ketua Theosofi di Blitar,” demikian Rudyanto.
Sementara Sanggar Wijaya Kusuma Semarang berdiri tahun 1908. Bersamaan dengan tahun berdirinya Boedi Oetomo yang didirikan Dr. Wahidin Soedirohoesodo.
Beberapa tokoh penting Theosofi di dunia antara lain Annie Besant, Presiden Theosophical Society setelah meninggalnya Blavatsky dan Olcott.
Nama lain yang dikenal sebagai pegiat Theosofi internasional adalah Charles Webster Leadbeater dan Jiddu Krishnamurti.
Webster bahkan dikenal di dunia gara-gara tulisannya tentang okultisme dan spiritualitas, sementara Jiddu Krishnamurti dikenal sebagai filsuf spiritual yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan spiritualitas modern. (Yami Wahyono)


Komentar