Banyuwangi, Jurnalnews.com – Program ketahanan pangan melalui budidaya ayam petelur di Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, telah berjalan selama kurang lebih Enam bulan. Pengelolaan program tersebut dilakukan secara serius oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bima Sejahtera.
Meski menghadapi tantangan berupa harga telur yang fluktuatif serta biaya pakan yang terus mengalami kenaikan, pengelola BUMDes mengaku tetap berkomitmen mempertahankan usaha tersebut hingga ayam memasuki masa afkir.
Direktur BUMDes Bima Sejahtera, Zainullah, mengatakan bahwa saat ini harga telur ayam masih sering berada di bawah Rp20.000. Sementara itu, harga pakan mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan saat program pertama kali dimulai.
“Kalau harga di bawah Rp20.000, kita masih bisa bertahan dan stabil sampai saat ini. Walaupun harga pakan semakin hari semakin naik. Awalnya Rp6.800 per kilogram sejak ayam masuk kandang, sekarang sudah mencapai Rp7.800 per kilogram,” ujar Zainullah saat ditemui di lokasi kandang, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, karena program tersebut merupakan bagian dari amanah ketahanan pangan desa, pihaknya tetap berupaya menjalankan pengelolaan secara maksimal hingga ayam memasuki masa afkir.
Zainullah berharap program tersebut tidak berhenti pada periode pertama. Bahkan, ke depan kapasitas ayam petelur di Desa Bimorejo diharapkan dapat ditingkatkan secara bertahap.
“Karena ini masih tahap awal, kita anggap sebagai proses pembelajaran. Bisnis ayam petelur merupakan hal yang relatif baru bagi kami di Wongsorejo. Alhamdulillah, dari 400 ekor ayam yang kita kelola saat ini, sudah memberikan pengalaman dan ilmu baru bagi pengurus,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengalaman dari pengelolaan 400 ekor ayam tersebut diharapkan menjadi modal untuk mengembangkan usaha dalam skala yang lebih besar. Target yang ingin dicapai pada periode berikutnya adalah peningkatan kapasitas hingga sekitar 3.000 ekor ayam.
“Insya Allah ke depannya bisa dikembangkan dalam skala yang lebih besar. Kita sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman dari 400 ekor ayam. Mudah-mudahan periode selanjutnya bisa sampai 3.000 ekor,” katanya.
Zainullah juga berharap adanya dukungan program pemberdayaan BUMDes dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan usaha tersebut.
Ia menjelaskan, keberhasilan produksi telur sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan dan perawatan ayam. Karena itu, pihaknya berupaya memberikan pakan secara maksimal serta memastikan tenaga kerja melakukan perawatan kandang setiap hari.
“Kalau ayam itu sebenarnya sama seperti manusia, tidak bisa dibohongi. Kenapa produksi telur kita relatif stabil? Karena pakan yang diberikan maksimal dan tenaga kerja yang kita kerjakan setiap hari di sini juga maksimal,” ungkapnya.
Menurutnya, peningkatan jumlah ayam menjadi penting agar skala usaha semakin besar dan manfaat ekonomi yang dihasilkan BUMDes juga dapat meningkat. Namun, rencana tersebut tetap harus mempertimbangkan harga pakan, kapasitas kandang, biaya operasional, serta tenaga kerja yang dibutuhkan. (Venus).


Komentar