Banyuwangi, Jurnalnews.com – Pemerintah Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, memberikan dukungan terhadap upaya peningkatan kesehatan masyarakat melalui kegiatan sosialisasi penanganan dan pencegahan penyakit AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria (ATM), sekaligus rembuk stunting. Kegiatan tersebut digelar di Pendopo Desa Bimorejo, Senin (26/10/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kader Posyandu, bidan desa, pendamping desa Kecamatan Wongsorejo, serta pihak terkait lainnya. Pembahasan difokuskan pada upaya pencegahan dan penanganan stunting, peningkatan pemenuhan gizi anak, serta pentingnya pengawasan terhadap pelaksanaan program dan penggunaan dana desa agar tepat sasaran.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Bimorejo, Maksum, menegaskan pentingnya penanganan stunting sejak dini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan pertumbuhan anak.
Menurutnya, pemenuhan gizi yang cukup menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak, termasuk pertumbuhan fisik yang optimal. Ia menilai persoalan stunting perlu mendapatkan perhatian bersama agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Maksum berharap, melalui kegiatan tersebut, seluruh pihak yang terlibat dapat memperkuat upaya pencegahan stunting mulai dari tingkat desa, keluarga, hingga pelayanan kesehatan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya penanganan yang berkelanjutan, tidak hanya berfokus pada penurunan angka stunting, tetapi juga pada perbaikan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak.
“Harapan kami, penanganan stunting ini bisa dilakukan secara sungguh-sungguh, sehingga ke depan tidak ada lagi anak yang mengalami stunting. Setelah itu, pemenuhan gizi dan pertumbuhan anak juga harus terus diperhatikan,” demikian inti harapan yang disampaikan dalam sambutannya.
Sementara itu, ahli gizi dari Puskesmas Bajulmati, Nurin Iktikafi, memaparkan perkembangan data status gizi anak di Desa Bimorejo pada 2026. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, jumlah anak yang mengalami stunting tercatat sebanyak 10 anak, menurun dibandingkan periode sebelumnya yang pernah mencapai 18 anak dan 13 anak.
Meski menunjukkan penurunan, Nurin mengingatkan agar kondisi tersebut tidak membuat semua pihak lengah. Pasalnya, masih terdapat persoalan status gizi lain yang perlu mendapatkan perhatian, terutama anak dengan kondisi berat badan kurang atau underweight.
Ia menyebutkan, jumlah anak dengan kategori underweight di Desa Bimorejo tercatat sebanyak 26 anak, sedangkan anak dengan kondisi wasting mencapai 13 anak.
Nurin menjelaskan bahwa underweight tidak secara otomatis berarti stunting, karena keduanya merupakan kategori masalah gizi yang berbeda. Oleh sebab itu, setiap anak perlu mendapatkan pemantauan dan penanganan sesuai kondisi serta faktor penyebabnya.
Dalam pemaparannya, ia juga menyampaikan data penanganan anak dari tujuh desa dengan total 90 anak yang mengalami stunting. Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 anak telah dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan terhadap anak-anak yang dirujuk menunjukkan adanya sejumlah kondisi yang membutuhkan perhatian, di antaranya anemia dan tuberkulosis (TB). Selain itu, data yang dipaparkan mencatat 20 anak sering mengalami sakit, 11 anak memiliki riwayat berat badan lahir rendah (BBLR), 11 anak berkaitan dengan kondisi ibu yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK), serta empat anak memiliki penyakit penyerta.
Melalui kegiatan sosialisasi dan rembuk stunting ini, Pemerintah Desa Bimorejo berharap koordinasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader PKK, kader Posyandu, dan pendamping desa semakin kuat. (Venus).


Komentar