oleh

ICMI Banyuwangi Siapkan Kepengurusan Baru 2026-2031, Fokus Jadi Organisasi Peradaban

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Banyuwangi menggelar rapat konsolidasi pembentukan kepengurusan baru periode 2026-2031 pada Kamis, 31 Oktober 2024.

Rapat yang berlangsung khidmat tersebut menghasilkan sejumlah poin strategis untuk memperkuat peran ICMI sebagai motor penggerak peradaban di Bumi Blambangan.

Ketua Sidang Formatur ICMI Orda Banyuwangi menyampaikan bahwa kepengurusan baru harus diisi oleh figur-figur yang aktif dan memiliki komitmen keummatan dan keindonesiaan.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah Banyuwangi Periode 2023-2026, Dr. Haya, S.HI., M.PdI., menegaskan jati diri ICMI sebagai organisasi yang memiliki tiga pilar utama.

Menurutnya, ICMI bukan sekadar perkumpulan akademisi, melainkan gerakan intelektual yang memikul tanggung jawab peradaban.

“ICMI adalah rumah besar. Rumah peradaban, rumah keindonesiaan, dan rumah keislaman. Siapapun cendekiawan muslim yang ingin berkontribusi untuk Banyuwangi, pintunya terbuka di ICMI, ” pungkas Dr. Haya.

Ia menjelaskan, konsep rumah peradaban berarti ICMI harus hadir memberikan solusi atas persoalan umat dan bangsa, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga penguatan karakter.

Sementara rumah keindonesiaan dan keislaman dimaknai sebagai komitmen ICMI untuk menjaga harmoni antara nilai-nilai Islam yang moderat dengan semangat nasionalisme dan kearifan lokal Blambangan.

“Untuk membangun Banyuwangi ICMI tidak bisa bisa berjalan sendiri tetapi harus dengan kekuatan cendekiawan, “tambahnya.

Dalam rapat konsolidasi tersebut, agenda utama adalah Pembentukan Formatur Kepengurusan ICMI Orda Banyuwangi periode 2026-2031. Formatur tersebut diberi mandat untuk menyusun komposisi pengurus yang inklusif, melibatkan akademisi, profesional, birokrat, dan pengusaha muda Banyuwangi.

“Kita tidak perlu menunggu besar untuk bergerak. Perlu langkah-langkah kecil untuk menciptakan hal-hal besar. ICMI Banyuwangi harus mulai dari hal sederhana tapi konsisten, ” ujar salah satu pengurus senior ICMI.

Tujuh poin penting mengemuka dalam rapat tersebut:

  1. Pengurus Harus Aktif dan Kontributif
    Rapat menegaskan, pengurus ICMI tidak boleh hanya nama. ICMI harus mampu berkontribusi nyata untuk masyarakat Banyuwangi, terutama dalam isu pendidikan, ekonomi keummatan, dan pengentasan kemiskinan.

“ICMI jangan jadi organisasi papan nama. Kita harus hadir di tengah masyarakat,” tegas salah satu pengurus senior lainnya.

  1. ICMI sebagai Organisasi Peradaban dan Keindonesiaan
    Disepakati bahwa positioning ICMI Banyuwangi adalah sebagai organisasi peradaban dan keindonesiaan. Artinya, ICMI menjadi jembatan antara nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan untuk kemajuan daerah.
  2. Digitalisasi Organisasi
    Untuk menjawab tantangan era digital, ICMI Orda Banyuwangi mendorong untuk segera memiliki website resmi dan media sosialisasi sebagai sarana dakwah intelektual dan publikasi gagasan cendekiawan.
  3. Konsolidasi Rutin
    Minimal dalam satu bulan sekali, harus ada komunikasi internal antar pengurus, baik secara offline maupun online, untuk menjaga soliditas organisasi.
  4. Jejaring Kampus
    ICMI juga akan memperluas jejaring ke kampus-kampus di Banyuwangi. Tujuannya untuk merekrut cendekiawan muda dan menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam.

Rapat ditutup dengan komitmen bersama untuk menjadikan ICMI Orda Banyuwangi sebagai rumah besar cendekiawan Muslim yang solutif dan tidak elitis.

“ICMI Banyuwangi harus jadi mitra strategis pemerintah daerah, tapi juga tetap kritis dan menjadi moral force pembangunan,” pungkasnya. (prs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *