Prosesi pelaksanaan Adat tradisi Perang Bangkat yang dilaksanakan Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT) Banyuwangi pada hajatan Pernikahan anak bungsu dari keluarga Bapak Sutris di desa Telemung Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi, berjalan sukses dan meriah Jumat (04/03/2022).
Pelaksanaan upacara Perang Bangkat ini biasanya dilaksanakan pada keluarga masyarakat Osing yang akan menikahkan anak bungsunya atau anak sulungnya, menurut Fatah Yasin “Masyarakat suku Osing meyakini bahwa seandainya upacara ini tidak dilaksanakan akan membawa dampak buruk pada perjalanan hidup anaknya yang mengarungi bahtera rumah tangga, ” katanya.

Tujuan Perang Bangkat menurut Sanusi Marhaedi selaku pembawa acara dalam ritual adat tradisi perang bangkat ini mengatakan Adalah untuk mempertemukan pengantin pria dengan pengantin wanita yang menggambarkan kisah Joko Tarub dengan Dewi Nawang Wulan. Dalam Prosesi Perang Bangkat ini menceriterakkan orang tua yang mencari- cari keberadaan anak laki-lakinya yang meninggalkan rumah berhari-hari, dan setelah mencari kabar ternyata anak nya berada di rumah seorang perempuan. Akhirnya datanglah bapak dari anak laki- laki ini ke rumah anak perempuan, dengan marah-marah sambil membawa senjata parang lalu terjadilah perang mulut dengan keluarga pihak perempuan. Bapak dari pihak Perempuan tidak terima atas tuduhan yang dilontarkan dari pihak laki-laki, akhirnya terjadilah perang bangkat. Dalam peperangan ini, kemudian datanglah pihak pemisah (dalang) dan menanyakan maksud tujuan kedatangan nya, setelah dijelaskan barulah pihak bapak dari pihak perempuan meminta bukti kalau anak laki-laki yang ada dirumahnya adalah anaknya. Dengan menunjukkan bukti ciri fisiknya dan ternyata benar adanya, lalu pihak orang tua perempuan meminta untuk dinikahkan.
Akhirnya prosesi pernikahan dilangsungkan dengan melaksanakan Ngosek Punjen yaitu “Pihak pengantin meminta uang seikhlasnya kepada saudara- saudaranya (mupa) dengan maksud mengakui ikatan tali persaudaraan, uang yang terkumpul ini baru boleh digunakan pada saat selapan untuk kegiatan selametan (syukuran), ” cetus Teguh Eko Rahadi.
Sanusi Marhaedi menambahkan “Dalam pelaksaan upacara ritual Perang Bangkat ini banyak barang barang yang dipersiapkan diantaranya Peras Pikul yang berisi Kayu, daun ketira, seperangkat alat dapur, padi, kelapa, bantal guling dan lain lain, ” tambahnya.
Upacara adat Perang bangkat diakhiri dengan menarik ketupat luar yang artinya orang tua dari pengantin sudah tidak lagi punya tanggungan terhadap beban hidup anaknya dengan ditandai selamberan (pelepasan ayam).

Wowok Meirianto selaku Ketua KOPAT mengatakan “Perang Bangkat” merupakan salah satu adat tradisi Osing Banyuwangi yang akan punah apabila tidak kita lestarikan, karena tergerus oleh modernisasi dan tradisi-tradisi lain, oleh karenanya, KOPAT sebagai Organisasi Sosial nirlaba yang mendukung Masyarakat dan Pemerintah dalam hal pelestarian adat tradisi, mengucapkan banyak terimakasih kepada Kang Sutris sebagai tuan rumah yang meminta bantuan KOPAT untuk menyelenggarakan pernikahan putrinya, dengan melaksanakan acara ritual adat tradisi Perang Bangkat ini, ” katanya. (Hariyanto)


Komentar