oleh

Perang Bangkat sebagai Ritual Upacara Pengantin Osing

Prosesi pelaksanaan ritual Perang Bangkat pada hajatan Pernikahan Rama dengan Shinta . Rama anak bungsu dari keluarga budayawan M. Syarpin di desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi, berjalan sukses dan meriah Sabtu (03/09/2022).

Seperti sebuah peperangan, itulah sebabnya mengapa upacara ini dinamakan Perang Bangkat. Meskipun dinamakan Perang Bangkat, namun perang dalam upacara ini bukanlah sebuah peperangan fisik.
Dilaksanakannya ritual Perang Bangkat ini dilakukan apabila ingin menikahkan anak kemunjilan (anak bungsu) dengan sesama kemunjilan atau sebagainya. Tradisi ritual Perang Bangkat ini juga syarat akan wejangan-wejangan (nasihat) dari tetua adat )

Perang dalam upacara ini ialah perang argumentasi yang berisi petuah-petuah. Perang dalam upacara ini dikemas seperti sebuah drama antara pihak mempelai laki-laki sebagai raja dan pihak mempelai perempuan sebagai ratu.

IMG-20220904-WA0044

Tata caranya, yaitu kedua belah pihak dipisahkan selembar kain. Kemudian mereka mengadu pusaka mereka masing-masing. Pusaka tersebut diambil dari perbekalan sebagai syarat yang diminta pihak ratu.

Misalnya saja ayam, sendok sayur, bantal, sebutir ayam kampung, satu buah kelapa, setandan pisang, seperangkat alat menginang atau disebut juga wanci kinangan, beras kuning, dan lain-lain. Adu pusaka ini merupakan sebuah pertanda rumah tangga calon pengantin.

Upacara ini dipimpin oleh ( Budi Cs ) , turut hadir dan menyaksikan budayawan dari DKB ( Dewan Kesenian Blambangan ) , tetua adat dari Kopat ( Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi ) sebagai orang yang mewakili pihak laki-laki.Pelaksanaan upacara Perang Bangkat ini biasanya dilaksanakan pada keluarga masyarakat Osing yang akan menikahkan anak bungsu atau anak sulungnya.

Wejangan tersebut tersirat pada setiap pelaksanaan prosesi yang sedang berlangsung dan beberapa sesaji yang telah ditentukan. Adapun sesaji tersebut berupa : Ponjen, Cengkalangan, kromongan/ polo pecah (alat dapur), kendi, rempah-rempah dan tumbuh-tumbuhan pertanian yang di utamakan padi dan tebu, peras pikul,bantal kloso, wanci kinangan, rokok, telur beserta pitik angrem, petarangan, sapu korek, sewur, tali lawe,dan uang logam.

IMG-20220904-WA0046

Menurut Sanusi Marhendi tetua Adat Kopat , “Masyarakat suku Osing meyakini bahwa seandainya upacara ini tidak dilaksanakan akan membawa dampak buruk pada perjalanan hidup anaknya yang mengarungi bahtera rumah tangga, ” katanya.

Tujuan Perang Bangkat menurut Sanusi Marhaendi selaku sesepuh Kopat dalam ritual adat tradisi perang bangkat ini mengatakan untuk mempertemukan pengantin pria dengan pengantin wanita yang menggambarkan kisah Joko Tarub dengan Dewi Nawang Wulan. Dalam Prosesi Perang Bangkat ini menceriterakkan orang tua yang mencari- cari keberadaan anak laki-lakinya yang meninggalkan rumah berhari-hari, dan setelah mencari kabar ternyata anak nya berada di rumah seorang perempuan. Akhirnya datanglah bapak dari anak laki- laki ini ke rumah anak perempuan, dengan marah-marah sambil membawa senjata parang lalu terjadilah perang mulut dengan keluarga pihak perempuan. Bapak dari pihak Perempuan tidak terima atas tuduhan yang dilontarkan dari pihak laki-laki, akhirnya terjadilah perang bangkat. Dalam peperangan ini, kemudian datanglah pihak pemisah (dalang) dan menanyakan maksud tujuan kedatangan nya, setelah dijelaskan barulah pihak bapak dari pihak perempuan meminta bukti kalau anak laki-laki yang ada dirumahnya adalah anaknya. Dengan menunjukkan bukti ciri fisiknya dan ternyata benar adanya, lalu pihak orang tua perempuan meminta untuk dinikahkan.

IMG-20220904-WA0045

Akhirnya prosesi pernikahan dilangsungkan dengan melaksanakan Ngosek Punjen yaitu “Pihak pengantin meminta uang seikhlasnya kepada saudara- saudaranya (mupa) dengan maksud mengakui ikatan tali persaudaraan, uang yang terkumpul ini baru boleh digunakan pada saat selapan untuk kegiatan selametan (syukuran), ” cetus Sanusi.

Sanusi Marhaendi menambahkan “Dalam pelaksaan upacara ritual Perang Bangkat ini banyak barang barang yang dipersiapkan diantaranya Peras Pikul yang berisi Kayu, daun ketira, seperangkat alat dapur, padi, kelapa, bantal guling dan lain lain, ” tambahnya.

Upacara adat Perang bangkat ini diakhiri dengan menarik ketupat luar ( kolo janur ) yang artinya orang tua dari pengantin sudah tidak lagi punya tanggungan terhadap beban hidup anaknya dengan ditandai selamberan (pelepasan ayam) sebagai pamungkas perang bangkat juga dimeriahkan dengan gebyar sekar tanjung.

Sementara menurut Juwono selaku Pembawa Acara mengatakan “ Perang Bangkat ini, yang terdapat di suku Osing. Upacara adat suku Osing ini cukup menarik untuk diketahui. Sebab upacara ini sarat dengan nilai-nilai filosofi perkawinan, sebelum kedua mempelai resmi menjadi pasangan suami istri. Juga merupakan salah satu adat tradisi Osing Banyuwangi yang akan punah apabila tidak kita lestarikan, karena tergerus oleh modernisasi dan tradisi-tradisi lain, Oleh karena itu Masyarakat dan Pemerintah harus peduli dalam hal pelestarian adat tradisi. Pria yang populer dipanggil Kang Ju inimengucapkan banyak terimakasih kepada M. Syarpin yang telah menyelenggarakan tradisi pernikahan putra bungsunya dengan melaksanakan acara adat tradisi perang bangkat, ” pungkasnya.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *