oleh

Bersih Desa Cluring; Ruwatan dan Pengajian Menyatukan Hati Masyarakat

BANYUWANGI, Jurnalnews – Bersih Desa, sebuah acara yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan tujuan untuk berdoa meminta keselamatan bagi seluruh warga desa, merupakan tradisi yang umum dilakukan oleh banyak desa di tanah Jawa.

Tradisi ini dikenal sebagai “ruwatan,” yang dilaksanakan untuk membersihkan serta mohon perlindungan bagi desa dari segala bentuk bencana atau kesulitan.

Salah satu contohnya terlihat di Desa Cluring, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, yang saat ini tengah melaksanakan tradisi tersebut.

Gelar Bersih Desa Cluring dilaksanakan tepat pada bulan peringatan HUT RI yang ke-78, serta masih berada dalam bulan suro. Acara ini berlangsung mulai pukul 05.00 WIB hingga 09.00 WIB.

Kegiatan dimulai dengan khotmil Qur’an, yang kemudian diikuti oleh acara ruwatan Ringgit Murwokolo yang dipimpin oleh Ki Dalang Saji Warsito.

Kepala Desa Cluring, Sunarto, menjelaskan bahwa pada hari ini, Desa Cluring mengadakan pangruatan Ringgit Murwokolo oleh Ki Dalang Saji Warsito yang diselenggarakan di pendopo kantor desa.

“Tujuan dari pangruatan ini adalah sebagai bagian dari upaya spiritual, dengan harapan agar masyarakat Desa Cluring senantiasa terhindar dari berbagai musibah dan juga untuk memperkuat sinergi antara Pemdes (Pemerintahan Desa), Lembaga Desa, dan masyarakat desa dalam mencapai tujuan bersama yang lebih baik,” jelasnya.

Dalam tradisi ruwatan, pelaksanaan upacara ini melibatkan serangkaian ritual dan doa-doa yang ditujukan kepada kekuatan-kekuatan spiritual atau entitas supranatural yang diyakini dapat memberikan perlindungan dan berkah bagi desa dan warganya.

Upacara itu merupakan bentuk pengabdian dan rasa kebersamaan warga dalam menjaga harmoni dan kesejahteraan di lingkungan mereka.

Gelaran “Bersih Desa” berlanjut hingga malam hari, dimulai pukul 19.00 hingga selesai. Malam itu disusuri dengan rangkaian kegiatan yang dimulai dengan zikir Sholawat serta pengajian umum oleh K.H. Nuhhadi, sosok yang dihormati dalam lingkungan masyarakat.

Sunarto, menambahkan, “Acara Bersih Desa dimulai lagi tahun ini setelah terhenti pada masa pandemi Covid-19 sebelumnya. Dampak pandemi telah melumpuhkan berbagai aktivitas, termasuk tradisi ruwatan yang biasanya dilaksanakan pada bulan suro. Dalam kondisi tersebut, acara tidak dapat dilangsungkan.” Uangkapnya.

Penjelasan Kepala Desa, Sunarto, menggarisbawahi pentingnya adaptasi dan kewaspadaan di tengah situasi yang serba berubah akibat pandemi.

Pemerintah dan masyarakat di seluruh dunia telah terpaksa mengubah rencana dan kegiatan, termasuk acara tradisional yang memiliki nilai sakral.

Keputusan untuk melanjutkan acara Bersih Desa pada tahun ini menggambarkan semangat dan tekad masyarakat untuk menjaga keberlangsungan budaya dan kebersamaan. Meski dalam suasana yang berbeda akibat pandemi, upaya ini memperlihatkan ketangguhan dan semangat gotong royong dalam menghadapi cobaan.

Dengan demikian, gelaran “Bersih Desa” pada tahun ini membuktikan bahwa tradisi yang memiliki akar dalam kearifan lokal dapat terus dijaga dan diperkuat, meskipun di tengah situasi yang menantang. Ini juga mencerminkan bagaimana nilai-nilai spiritual dan kebersamaan tetap menjadi pijakan kuat dalam menjaga jalinan sosial dalam komunitas Desa Cluring.

Meski begitu, gelar Bersih Desa Cluring bukan hanya sekadar rangkaian acara, tetapi juga sebuah ekspresi dari rasa kepedulian dan komitmen masyarakat Desa Cluring untuk menjaga keamanan dan kebahagiaan bersama.

Tradisi ruwatan sebagai bagian dari acara ini menggambarkan kedalaman nilai-nilai budaya dan spiritual yang masih terjaga dalam kehidupan masyarakat tradisional di Indonesia.

Penulis : Rony Subhan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *