oleh

Konservasi Laut dan Pantai: Kolaborasi PT BSI dan Taman Nasional Meru Betiri

-Berita-1.041 views

BANYUWANGI, Jurnalnews – Pada tanggal 10 Agustus 2023, PT Bumi Suksesindo (BSI) bersinergi dengan Taman Nasional Meru Betiri menggelar sebuah inisiatif konservasi lingkungan yang berlokasi di indahnya Pantai Muara Mbaduk Sarongan, di wilayah Pesanggaran, Banyuwangi. Kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia 2023.

Muara Mbaduk adalah tempat bertemunya Sungai Buyuk dengan lautan, yang alirannya melalui Desa Kandangan dan Sarongan. Pemandangan di area ini mencakup hamparan pasir yang luas dengan semak-semak pandan laut yang tumbuh subur di beberapa sektor. Di sisi timur, terhampar pegunungan hijau yang menjadi penanda Sungai Buyuk. Perjalanan dari situs PT BSI hingga ke Muara Mbaduk memiliki jarak sekitar 27,5 kilometer.

Dalam rangkaian kegiatan konservasi ini, ada tiga agenda utama yang dilaksanakan di destinasi wisata yang tengah diminati ini. Pertama, rilis sekitar 500 tukik ke habitat aslinya, sebagai langkah pelestarian satwa laut yang penting. Kedua, dilakukan penanaman pohon cemara guna memperkuat ekosistem pantai. Dan yang ketiga, pembersihan pantai untuk menjaga keindahan alaminya.

Tidak hanya dihadiri oleh tim manajemen dan staf dari kedua belah pihak, acara ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Pesanggaran, para pelajar berprestasi, serta masyarakat sekitar yang peduli akan lingkungan. Dengan kolaborasi ini, diharapkan pesan tentang perlunya konservasi lingkungan dapat lebih luas dan lebih dalam menciptakan dampak positif bagi alam dan komunitas setempat.

Penerapan prinsip-prinsip teknik pertambangan yang terencana dan berkualitas melibatkan beberapa aspek krusial, di antaranya meliputi aspek teknis pertambangan, konservasi, keselamatan serta kesehatan kerja, keselamatan operasional, pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan teknologi yang canggih.

Sebagai bagian nyata dari pelaksanaan komitmen ini, Perusahaan merasa mendesak untuk memberikan perhatian serius terhadap kelangsungan populasi penyu di wilayah pesisir selatan Banyuwangi. Peranan yang dimainkan oleh penyu dalam menjaga ekosistem laut yang seimbang tak dapat diabaikan. Kelestarian laut yang terjaga dengan baik akan menjadi habitat bagi beragam jenis ikan yang memiliki peran kunci sebagai sumber protein yang vital bagi masyarakat.

Manager of Government Affairs (PT BSI), Iwa Mulyawan, mengatakan bahwa pemilihan jenis kegiatan ini berkaitan erat dengan komitmen PT BSI untuk menjalankan prinsip-prinsip environment, social, and governance (ESG) sebagai penerapan kaidah teknik pertambangan yang baik (good mining practices) di Tujuh Bukit Oprational.

“Ikhtiar kami dalam mengamalkan prinsip-prinsip teknik pertambangan yang berkualitas tak hanya bersifat formalitas mengikuti peraturan dan regulasi semata. Namun, hal ini telah menjadi tekad kokoh Perusahaan dalam merintis pengelolaan pertambangan yang bertanggung jawab, serta menjadi komitmen perusahaan menuju penglolahan pertambangan yang proper,” jelas Iwa dengan tegas.

Menggali lebih dalam pada esensi kaidah-kaidah teknik pertambangan yang merangkumi dimensi teknis, konservasi, keselamatan, operasional, lingkungan, dan teknologi, membawa kita pada panggilan penting untuk menyatukan upaya dalam satu sinergi yang berarti.

Tidak sebatas konsep semata, tetapi sebagai implementasi konkret, Perusahaan merangkai tindakan yang memberi suara bagi penyu-penyu di perairan selatan Banyuwangi. Area pesisir ini menjadi panggung penting dalam menjaga harmoni ekosistem laut. Seperti lembaran penting dalam buku alam, laut yang dijaga keberagamannya akan membangun habitat yang subur, menjadi kawasan pemeliharaan jutaan ikan yang mewakili sumber protein krusial bagi warga.

“Upaya yang kami lakoni dalam menegakkan norma-norma teknik pertambangan ini tak hanya sekadar rutinitas mematuhi berbagai aturan hukum. Lebih dari itu, ini adalah komitmen kuat kami dalam mengawal arah pertambangan yang penuh tanggung jawab,” terang Iwa.

Lebih dari sekadar strategi, pemilihan tempat kegiatan di taman rekreasi telah menjalin aliran manfaat kepada masyarakat. Jejak penanaman pohon dan kerja keras membersihkan pinggir pantai telah merubah wajah kawasan wisata menjadi lebih memesona. Rupanya, aroma segar konservasi mampu merangsang minat para wisatawan untuk menjajaki area ini lebih mendalam.

Suara Iwa pun terbawa dalam aliran waktu. Konservasi yang dihembuskan di Muara Mbaduk menjadi peluit pengingat untuk Hari Lingkungan Hidup yang tampil berbeda dalam bingkai acara PT BSI. Sebelumnya, tengah menggema pada 10 Juni 2023, PT BSI terlibat kolaborasi dengan pengelola area wisata Parang Semar Buluagung di Siliragung, Banyuwangi. Ribuan pohon bakau (mangrove) merajut harapan hijau, sementara kerja teliti membersihkan kawasan wisata menegaskan kehadiran keseimbangan.

Tak berhenti di situ, jejak langkah Perusahaan terus beriringan dengan harmoni alam. Pada 21 Juni 2023, semangat membersihkan pantai tak hanya sekadar aksi individu. Perusahaan menyatukan semangat dengan masyarakat yang mengisi suasana di Pulau Merah, sebuah surga wisata yang tersembunyi. Bersama-sama, mereka melibas setiap jejak yang tak sepantasnya berada di pantai, menjadikannya semakin mengundang.

Namun, tak hanya indah pesisir yang menjadi saksi. Pada lanskap yang berbeda, matahari pun bermain di antara sayap burung-burung yang menjelma penjaga langit. Di sekitar Tambang Tujuh Bukit Operations, kegiatan pemantauan dan pengamatan burung (bird watching) membuka cerita baru. Alam tak hanya menjadi latar, tetapi pemeran utama dalam drama ini.

“Hari Lingkungan Hidup adalah pesta alam yang kami rayakan setiap tahun. Kegiatan konservasi bukan sekadar kewajiban, tapi cerminan dari kepedulian yang kami bawa dalam setiap langkah,” papar Iwa.

Di tengah gemuruh alam, suara Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri, Nuryadi, S.Hut., M.P., mengalun tegas. Alasannya untuk memilih Muara Mbaduk sebagai pusat peringatan Hari Konservasi Nasional mengandung esensi mendidik masyarakat tentang urgensi konservasi lingkungan.

Dalam tema Hari Konservasi Nasional yang dirangkai dengan puitis “Hapungkal Himpa Kalingu (jiwa yang damai dalam harmoni rimba belantara),” Nuryadi mengarahkan sorotannya pada semangat pelestarian yang terus merosot dalam kesadaran generasi muda. Oleh karena itu, Taman Nasional Meru Betiri tak henti-hentinya melibatkan pemuda dan pelajar dalam rangkaian kegiatan konservasi.

“Tetaplah memancarkan semangat untuk menjaga, merawat, memanfaatkan dengan bijak, serta mengelola pariwisata dengan orientasi pada harmoni lingkungan,” kata Nuryadi.

Dalam kalimat terakhir, semangat Nuryadi menyebar dalam angin, mengingatkan akan tanggung jawab bersama dalam menjaga alam. Suaranya menjadi panggilan bahwa setiap saat, di mana saja, konservasi adalah tugas yang mesti dikerjakan. Dari tindakan sederhana hingga bentuk yang lebih kompleks, seperti menjaga sampah agar tak merajalela sembarangan, setiap langkah mewarnai kanvas peradaban kita dengan jejak-jejak kebaikan.

Mengakhiri dialog, sosok dari Yogyakarta ini memberikan pesan kepada seluruh masyarakat, tetaplah menghidupkan semangat konservasi dalam setiap aspek keseharian. Konservasi tak terbatas pada kawasan-kawasan yang dirancang untuknya atau hanya terjadi dalam perhelatan acara khusus. Setiap individu memiliki kapasitas untuk menjalankan konservasi di mana pun berada.

“Marilah kita mengawali langkah konservasi dari sekitar lingkungan kita, dengan melakukan tindakan-tindakan sederhana, tidak membungan sampah sembarangan,” tegsnya. (Red//JN).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *