BANYUWANGI, Jurnalnews – Pengusaha tempe di Banyuwangi semakin terhimpit akibat terus naiknya harga kedelai dalam rentang waktu dua bulan terakhir.
Situasi ini tidak hanya menyusutkan ukuran produk mereka, tetapi juga memaksa pengusaha kecil ini mengurangi kapasitas produksi tempe karena tidak mampu menanggung biaya operasional yang terus melonjak.
Sebagian dari mereka bahkan terpaksa menutup produksi karena kesulitan membeli kedelai impor karena harganya terlalu tinggi.

Joko Slamet, seorang pengusaha tempe kelas rumahan di Dusun Krajan Kulon, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur, merasakan dampak langsung dari kenaikan harga kedelai impor.
Usaha rumahan yang telah diwarisi turun temurun selama 20 tahun ini semakin terdesak sebab harga kedelai impor terus meroket dalam dua bulan terakhir.
Harga kedelai impor yang mencapai 13 ribu per kilogram sangat memberatkan bagi Joko. Hal ini berdampak signifikan pada beban biaya produksi tempe bungkus daun miliknya.
“kapasitas produksi per hari hampir berkurang separuh dari sebelumnya, setengah kuwintal kedelai menjadi hanya 20 hingga 30 kilogram tempe,” ungkap Joko Slamet.
Untuk bertahan, Joko harus mencari solusi agar beban biaya produksi yang otomatis mengurangi keuntungan dapat diatasi. Salah satu langkah yang diambilnya adalah dengan mengurangi ukuran tempe, meskipun hal ini mengecewakan sejumlah pelanggan. Namun, langkah tersebut diambil demi kelangsungan usahanya dan menghindari kerugian yang lebih besar.
Joko Slamet, mengaku prihatin terhadap terus meningkatnya harga kedelai impor,”Jika situasi ini terus berlanjut bisa dipastikan kami gulung tikar, kami berharap pemerintah dapat mengambil tindakan untuk meredam kenaikan harga kedelai impor,” jelasnya.

Tidak hanya Joko, sejumlah pengusaha tempe di wilayah lain juga merasakan tekanan yang sama. Banyak dari mereka harus menutup produksi karena tidak mampu menanggung biaya oprational yang melonjak akibat kenaikan harga kedelai impor.
Dalam kesulitan yang dihadapi oleh para pengusaha tempe di Banyuwangi akibat terus naiknya harga kedelai, begitu jelas tergambar betapa besar tantangan yang dihadapi para pelaku usaha kecil ini.
Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh Joko Slamet tetapi juga seluruh pengusaha tempe di berbagai wilayah di Banyuwangi.(Eko/Ron/JN).


Komentar