oleh

Kades Bajulmati Tegaskan Larangan Sound Horeg pada Karnaval Tahun Depan

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Pelaksanaan Karnaval dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, pada Minggu (23/8), menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Desa Bajulmati.

Karnaval yang diikuti pelajar dan masyarakat umum tersebut turut dimeriahkan sejumlah peserta sound horeg. Namun, setelah kegiatan berlangsung, muncul berbagai respons dan keluhan dari masyarakat serta tokoh agama terkait penggunaan sound horeg dengan suara yang dinilai terlalu keras.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Bajulmati, Achmad Thoha, menyatakan bahwa Pemerintah Desa Bajulmati akan meniadakan sound horeg dalam pelaksanaan karnaval serupa pada tahun depan.

“Awalnya saya tidak keberatan dengan kreativitas dan adanya sound horeg. Namun setelah dilaksanakan, banyak protes dari warga. Untuk tahun depan, saya melarang sound horeg turun di Bajulmati. Kalau karnaval, harus menggunakan sound biasa,” ujar Achmad Thoha, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, penggunaan sound horeg dinilai tidak memiliki keterkaitan dengan substansi peringatan Hari Kemerdekaan. Ia berharap kegiatan HUT RI lebih diarahkan untuk menumbuhkan rasa syukur sekaligus mengingat perjuangan para pahlawan.

Achmad juga mengaku merasakan langsung dampak suara keras dari sound horeg saat kegiatan berlangsung. Menurutnya, suara yang menggelegar dapat mengganggu masyarakat, termasuk warga yang sedang sakit dan membutuhkan ketenangan.

“Saya sendiri sampai menutup telinga ketika sound horeg melintas. Suaranya sangat keras, bahkan setelah kegiatan masih terasa mengganggu dan ada masyarakat yang tidak bisa tidur,” jelasnya.

Ia juga menyoroti keberadaan hiburan berupa joget atau dansa yang menurutnya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam peringatan kemerdekaan, khususnya kepada generasi muda.

Selain persoalan kebisingan, Achmad mengingatkan adanya potensi dampak suara keras terhadap kesehatan pendengaran, terutama bagi anak-anak yang menyaksikan karnaval dari jarak dekat.

“Sound horeg itu sangat membahayakan bagi telinga, terutama anak-anak yang menonton. Kalau kegiatannya berlangsung mulai Maghrib hingga malam, seperti yang terjadi di Bajulmati sampai sekitar pukul 11 malam, itu saja baru 2 sound horeg, tentu sangat mengganggu masyarakat,” imbuhnya.

Achmad menegaskan, keputusan tersebut bukan untuk membatasi kreativitas masyarakat, melainkan sebagai bentuk evaluasi agar kegiatan peringatan HUT RI tetap memiliki nilai edukasi dan penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan.

“Saya sebagai kepala desa wajib menjaga desa saya. Bajulmati siap melarang horeg tahun depan karena tidak mencerminkan Hari Kemerdekaan itu sendiri. Kita ingin kegiatan yang bermanfaat bagi generasi penerus, agar mereka mengingat perjuangan para pejuang terdahulu dan meneruskan semangat perjuangan tersebut,” tegas Achmad Thoha.

Dengan keputusan tersebut, Pemerintah Desa Bajulmati memastikan bahwa pelaksanaan karnaval pada tahun depan akan diarahkan menggunakan konsep yang lebih sesuai dengan semangat peringatan kemerdekaan, sekaligus mempertimbangkan kenyamanan masyarakat. (Venus).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *