oleh

Anggarkan Dana, Kepala Desa Labanasem Kabat Buat Terobosan Pengelolaan Sampah

Kabat Permasalahan pengelolaan sampah merupakan fenomena yang hingga saat ini masih menjadi momok bagi pemerintah mulai dari Pusat, Provinsi, Daerah, Desa / Kelurahan hingga sampai ke wilayah RW dan RT. Bahkan akibat dari pengelolaan sampah yang sembarangan mengakibatkan tumpukan sampah tidak terkendali serta mengakibatkan kondisi lingkungan menjadi tercemar dan terancam kelestariannya. Padahal jika sampah sampah tersebut dikelola dengan baik dan bijak tidak menutup kemungkinan akan menghasilkan nilai manfaat yang tinggi dan memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat. Hal inilah yang mendorong Pemerintahan Desa Labanasem Kabat Banyuwangi untuk turut membantu meringankan beban pengelolaan sampah yang selama ini ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi. Melalui program yang digagas oleh Kepala Desa Labanasem Kabat Maimun Ali Nasih, mengalokasikan anggaran untuk membuat tungku pembakaran sampah. Menurut Sekretaris Desa (Sekdes) Labanasem Kabat Muhammad Aslim selama ini warga Labanasem membuang sampahnya ke sungai atau di lahannya sendiri.

“Iya buangnya ada yang sungai, ada yang ke lahannya sendiri, yang dibakar sendiri gitu sementara. Makanya untuk menertibkan itu, Kepala Desa punya terobosan terkait itu, “tutur Sekdes Aslim saat dijumpai jurnalis di ruang kerjanya, Rabu (24/03/2021)

IMG-20210325-WA0022

Lebih lanjut, Sekdes Muhammad Aslim mengatakan, untuk tahun anggaran 2021 ini Pemerintah Desa Labanasem Kabat mengalokasikan anggaran dari Alokasi Dana Desa (ADD) maupun Dana Desa (DD) sebesar 88 juta. Anggaran sebesar itu diprioritaskan untuk pengelolaan sampah dan peningkatan UMKM.

IMG-20210325-WA0023

“Untuk sementara ini di Tahun 2020 sampai 2021 ini mayoritas pertama, kita kan sesuai aturan, aturan penggunaan Dana Desa juga, disitu kita pelajari. Dan pertama ini, terkait pengelolaan sampah dulu kemudian setelah pengelolaan sampah baru kita ke pertama UMKM. Kalo di ADD sendiri di DD sendiri itu ada kurang lebih sekitar 88 juta, disitu memang peruntukkannya untuk satu terkait pengelolaannya juga, pembangunannya juga, terkait tambahan insentif atau honor pengelola terus pemungut, “kata Aslim.

Selain itu, Sekdes Muhammad Aslim juga menyampaikan bahwa terobosan yang dilakukan Kades Labanasem ini juga sudah diketahui oleh Bupati Ipuk beberapa waktu lalu saat diadakan teleconference, dimana Bupati Ipuk berpesan bahwa sampah itu pengelolaannya harus di desa bukan lagi di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) karena DLH sudah penuh. Namun kendala yang dihadapi pemerintahan Desa Labanasem saat ini adalah sulitnya mencari petugas pemilahnya.

“Untuk sementara ini yang kita agak kesulitan yaitu terkait pemilahnya Pak, yang minat tidak ada padahal sudah kita sosialisasikan, “kata Sekdes muda tersebut.

Untuk diketahui, Desa labansasem sendiri memiliki 4 Dusun yakni Dusun Krajan Timur, Dusun Krajan Barat, Dusun Labansukadi dan Dusun Kawang. Dimana penduduknya mayoritas berprofesi sebagai petani dan wirausaha. Yang mana selain pertanian, masing-masing wilayah empat dusun itu memiliki sektor usaha berbeda. seperti di Dusun Krajan Timur dan Barat adalah sektor kerajinan Handycraf seperti ulek-ulek yang terbuat dari kayu pohon kelapa, Dusun Labansukadi adalah industri tahu sedangkan di Dusun Kawang adalah industri ternak burung puyuh. Dan sebagai wacana, di tahun anggaran 2022 hingga 2023 desa yang juga memiliki banyak Pondok Pesantren dan santri itu kedepan akan menjadikan wilayahnya sebagai sentra atau kawasan Desa Santri dan destinasi tempat wisata religi dengan cara membuat tugu atau tetenger.

“Kemarin memang ada destinasi, istilahnya tadi Pak tetenger, tetenger tadi untuk apa ya istlahnya wene weruh (Red. Biar tau), bahwa memang Laban iki ono destinasi siji wisata religi ma terus memamg desone deso santri, ” ungkap Sekdes Aslim dengan logat osingnya. (Bas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *