Sejak ditahannya Mursyid, SE, kepala desa Tegalharjo kecamatan Glenmore tiga hari lalu oleh Kejaksaan Negeri Banyuwangi ternyata menyisakan duka yang mendalam bagi seorang warga.
Sebut saja Musiyah (80) alias mbah Arman, ibu tua yang bertempat tinggal dibelakang kantor desa Tegalharjo ini tidak menyangka jika orang yang selama ini dikenal baik dan dekat dengan keluarganya harus menjalani proses hukum bahkan masuk penjara.
“Saya melihat foto pak lurah dari HP,” ujar Musiyah dengan sesenggukan sambil mengusap air matanya.
Dikatakan Musiyah, sosok Mursid selama ini dikenal sebagai orang yang sangat ramah dan baik.
Bahkan emosinya meledak-ledak ketika bercerita tentang orang-orang yang sering menjelek-jelekan Mursid.
“Belum tentu mereka lebih baik daripada pak lurah,” jelas Musiyah.
Perempuan yang mengaku mengenal Mursid sejak lama ini mengaku tidak mengerti tentang persoalan atau perkara yang menyebabkan Mursyid ditahan.
“Kalau pak lurah bersalah yang pantas Gusti Allah yang mengadili,” ujar Musiyah dengan air mata yang semakin deras.
Permintaan Musiyah harusnya mereka jangan melihat kejelekannya saja, karena Mursid dinilainya sebagai pribadi yang baik.
Perempuan yang berjalan menggunakan tongkat itu menganggap apa yang dialami Mursyid adalah suatu ujian, dia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah memvonis seseorang bersalah, bagi Musiyah ada cara lain dengan tidak menghukum seseorang masuk penjara.
“Salam saya ya nak, apabila menyambangi pak lurah, suruh bersabar, bangun malam dan jangan lupa ebajang (sholat),” pinta Musiyah terbata-bata kepada koresponden media ini.
Perempuan yang mengaku memiliki anak dan tinggal dinegeri Belanda itu seharian klesotan di Pendopo Kantor Desa Tegalharjo sejak pagi sampai siang (Sabtu, 29/5) hanya ingin mendengar kabar baik tentang Mursyid.
“Namun semuanya yang saya dengar hanya menjelek-jelekan, seperti orang yang tidak ada baiknya saja,” kata Musiyah.
Bagi Musiyah belum tentu mereka yang mencaci itu lebih baik.
“Semoga pak lurah segera mendapatkan pertolongan Allah,” harap Musiyah.
Banyak kenangan yang terlalu panjang yang tidak akan cukup untuk diceritakan, selain dekat sambung Musiyah, Mursyid juga sering mengajak ngobrol dan menyambanginya.
“Engkok tak tego cong (saya tidak tega nak, dengan logat Madura yang kental).” ucap Musiyah.
Seperti diketahui, Mursyid SE, kepala desa Tegalharjo ditahan Kejaksaan Negeri Banyuwangi setelah statusnya dinaikkan dari saksi menjadi tersangka akibat terbukti menyelewengkan dana bansos Kanggo Riko senilai 1,4 miliar.(Yud)


Komentar