Dengan demikian untuk memasukkan Sejarah Balambangan yg. valid/ Balambangan realitas, setelah terrekonstruksi secara utuh, terakreditasi secara ilmiah ..oleh pemangku kepentingan untuk itu (Tim Penyusun & Pengkaji) yang komprehensif dan Pemerintah Daerah maupun Lembaga Kompetent ha dir terlibat untuk menghasilkan sejarah lokal yg. tumbuh dari dalam, terbuka dalam penyusunan histo riografi lokal terbebas dari mitos dan legenda, telah memiliki akses nyata.
Judul tulisan ini diharap memiliki pengaruh yang menantang bagi pemangku kepentingan atau siapa saja yang memiliki interest terkait dengan sejarah lokal khususnya sejarah Ker. Balambangan (dulu), sekarang Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi, masih tersisa sebuah desa kuno bernama Balamba ngan itu sendiri, bersebelahan dengan situs Balekambang dan situs sisa bangunan lungur di desa Tembokrejo, yg. mengelilingi Keraton Balambangan ditambah artefacts Ker. Balambangan yg. tersim pan di Museum Balambangan maupun di “Omahseum”, Banyuwangi. Bagian pertama
Minimnya data tertulis maupun artefacts tentang Ker. Balambangan menyebabkan ada kesenjangan sejarah Balambangan untuk waktu yang sangat lama .. semacam ada “ruang kosong” .. yang selama itu terisi/ bisa diisi apa-saja, . . menyebabkan kekaburan terhadap Balambangan selama ini yang se ring terdengar sebagai “Balambangan entah brentah .. Balambangan antara mitos dan realitas”.
Berbekal rasa menggemari sejarah khususnya Balambangan & semangat mengejar pemahaman se suatu entitas, penulis memulai mengutamakan perhatian pada keberadaan lungur sisa peradaban ku no Ker. Balambangan dan mengkoleksi artefacts terkait Balambangan dr. 1971, benda seni dan litera tur khususnya yg. bernuansa/ bersentuhan dengan Balambangan, karena sekecil apapun data benar yang ada akan bermakna besar .. benar itu merupakan sinar lentera yang memancarkan terang un tuk menelusuri jejak-jejak sejarah Balambangan sebagaimana antara lain terdapat dalam Buku Seja rah Nasional Indonesia II, Marwati Djoened Poesponegoro Nugroho Notosusanto, edisi ke-4, DepDik Bud. Balai Pustaka 1993, halaman 432, pada alinea ke 2. Uraian tentang prasasti Jayanegara I :
| “Prasasti yang kedua, yang hanya tinggal satu lempeng, memperingati penetapan daerah Balamba ngan sebagai daerah pendidikan, karena rama daerah Balambangan telah menunjukkan kebakti annya kepada raja dan membantu tegaknya kedudukan raja diatas singghasana, menghancurkan kejahatan di dunia, dan menghapuskan jaman Kaliyuga, 132. Prasasti ini dikeluarkan sehubungan selesainya penumpasan pemberontakan Nambi.” (1316-1318). |
Catatan kaki 132: Poerbatjaraka, “Vier oorkonden in koper”, TBG. LXXVI, 1936, hal 388-389; Muh Ya min, Tatanegara Madjapahit, II, hal. 37-40.
Dari poin ini kita bisa dikonstatir bahwa peristiwanya terkait dengan sebuah kejadian berupa peneta pan seorang Raja kedua Kerajaan Majapahit “ Raja Jayanegara (1309-1328)”, yang dituangkan keda lam sebuah prasasti, karenanya penulis melakukan pendalamannya dan mencoba merangkak pada peristiwa-2 sebelumnya yakni peristiwanya Kerajaan Majapahit itu sendiri sejauh mana wilayah Bala mbangan sudah menjadi perhatian danperhitungannya.
Dengan penetapan Balambangan sbg. wilayah pendidikan, maka wilayah yang mana dan luasnya se berapa besar, terlukis secara pasti, bahkan Pemuka masyarakatnyapun telah disebut sebagai Rama. Sejak itu (1316-1318) wilayah Balambangan menyandang sebuah kedudukan/ status resmi/ legal sta nding sebagai “Wilayah Pendidikan”.
Sementara itu dipahami bahwa Kerajaan Majapahit didirikan pada tahun 1293, Raja pertamanya Ra den Wijaya (menantu/ yg. juga keponakan Raja Ker. Singhasari Kertanegara, dengan nama dan gelar lengkap Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana, ( th. 1293 – 1309). Tokoh penting dan sangat berjasa dalam mendirikan kerajaan Majapahit adalah Aryawiraraja Adipati Sumenep pada pemerintahan Kerajaan Singhasari (Raja Kertanegara), .. karenanya sbg. balas-jasa, Raden Wijaya pada tahun 1294 (dalam Prasasti Kudadu/ Gunung butak ada ketetapan :
IIa.
raduhitāsamāgamasampanna, kṛtarājasajayawarddhananāmarājabhiṣeka, tinaḍh de rakryan mantri katriṇi, rakryan mantri hino, dyah pamasi, rakryan mantri halu, dyah singlar, rakryan mantri sirikan, dyah palisir, ka hiring de rakryan mantri raṇamaddyariputrāsakara, paramasādhuprapanna mapasanggahan sang prāna rāja, rakryan mantri samarakāryyagahanakuśila, mahāśśratwasampanna mapasanggahan sang nayapati, rakryan mantrî dwipāntaraśatrumardanakārana sarjjawalittarañjita, mapasanggahan sangaryyadikara, ma kādi sang mantri mahāwîradikara, wiwidāmitra praṇayakara, sakalāmānujanurāga, mapasanggahan sang aryya wîrarāja, sakṣat suśisya de śrî ma
IIb. ..
mengangkat Beliau menjadi Psangguhan Ker. Majapahit, wilayah Madura/ Sumenep ditarik menjadi wilayah yang dikendalikan/ kontrol langsung oleh pusat kekuasaan Ker. Majapahit.
Disamping itu juga sesuai perjanjian Sumenep kepada Aryawiraraja (.. sesuai juga dengan pasemon yang tersirat dalam kidung Sorandika, kidung Harsa wijaya, Kidung Panji Wijayakrama) diberi hadiah separoh dari wilayah Kerajaan Majapahit yaitu “Lamajang utara, Lamajang selatan dan Tigang Juru (Juru Sadeng, Juru Ketha/ Penarukan & Juru Balambangan), sering disebut sebagai “Lamajang Tiga ng-Juru atau Kerajaan Majapahit Timur”. Diperkirakan baru pada th. 1305 Aryawiraraja menduduki wi layah Lamajang utara-selatan dan Tigang Juru tersebut.
Khusus Juru Balambangan, Pemuka/ Pimpinan masyarakatnya disebut Rama, dan letak tepat wila yahnya (geografis), sebagai wilayah paling timur pulau Jawa, yg. menghadap kelaut timur (selat Bla mbangan/ segoro-rupeg, yang kemudian menjadi selat Bali), terkait erat dengan alas Poerwo; Utara berbatasan sekitar Kalitakus, Banyulandangan, kebarat sampai pada punggung gunung ijen, Gn. Ra ung ke selatan sampai ke pantai laut selatan, di timur Puger. IInilah letak tepat dan luas wilayah Balambangan kuno (mulo bhs. Osingnya), di ujung paling timur pulau Jawa.
Letak tepat dan luas wilayah mana berbeda/bukan “sebagaimana Blambangan yang dimaksud pada/ dlm. awal Prakata Babad Blambangan oleh Winarsih Partaningrat Arifin YBB 024.95, cetakan perta ma, Desember 1995. halaman v.”
| Prakata
Babad Blambangan Judul terbitan ini sebenarnya harus diberi tanda petik. Sebab, meskipun memang ada hubungannya dengan Blambangan —- dan perlu ditandaskan bah wa dengan Blambangan disini dimaksudkan negeri yang dikelilingi laut disebelah utara, timur dan selatan dan di barat dibatasi garis utara-selatan yang melampaui G.Bromo dan Lamajang —-, |
.. dan pada/dlm. akhir Prakata Babad Blambangan oleh Winarsih Partaningrat Arifin YBB 024.95, cetakan pertama, Desember 1995. halaman vii.” .. baris kelima, tertulis :
| .. . “Yang terlingkup ialah masa lima abad, dari abad ke-15 sampai abad ke -19.” |
Kemungkinan yang dimaksud “negeri” disini adalah wilayah Majapahit timur= Lamajang dan Tigang juru disebut sebagai = Blambangan. Sedangkan Balambangan dimaksud oleh penulis disini merupakan wilayah Balambangan kejadian kuno (sebelum abad ke 15), wilayah mana yang merupakan padanan/ identik dengan wilayah Peme rintahan Kabupaten Banyuwangi sekarang. Hal ini perlu penulis sampaikan lebih dahulu karena profil, karakter, hakekat Balambangan kuno/ Ka bupaten Banyuwangi sekarang berbeda dalam banyak hal dengan “negeri” Balambangan yg. dilukis kan dalam Babad Balambangan (abad 15-19). Demikian juga dalam waktu yang sama (abad 15 dan 19) tetap saja profil dan karakter, hakekat kedua Balambangan tersebut berbeda dalam banyak hal, agar kemungkinan kerancuan pemahaman mengenai “Balambangan” sejak dini bisa dihindari, se lanjutnya pada uraian merangkak kemasa setelah peristiwa penetapan Prasasti Jayanegara I, akan diuraikan secara lengkap dan rinci untuk kejelasannya pada tulisan bagian kedua.
Kemudian, menilik dari isi terbitnya prasasti Jayanegara I, perihal hadiah Raja bahwa Balambangan sbg. wilayah pendidikan karena jasanya ikut menanggulangi pralaya, dan membantu tegaknya kedu dukan raja diatas singghasana dari kurun waktu 1294 s/d 1316-1318 (selama 22-24 tahun), Arya wi raraja sepertinya tidak/ belum berhasil merangkul Balambangan menjadi mitranya bahkan ternyata Balambangan tetap setia kepada pada Pusat kekuasaan Ker. Majapahit. Poin ini penting karena stig ma selama ini atas Balambangan selalu dikatakan bahwa “Balambangan sebagai yang memberontak kepada Ker. Majapahit “ pada hal sejatinya/ faktanya tidak demikian;….. dalam pembagian wilayah ter sebut adalah dengan pasti menyebut Balambangan yg. letak geografisnya sebagaimana disebut tadi diatas yg. berstatus sebagai Juru yg. dipimpin oleh Rama. Raden Wijaya tentu sudah sangat mema hami wilayah karena Beliau adalah Punggawa penting Ker Singashari juga sebagai menantu Raja Kertanegara.
Untuk memahami mengenai istilah Juru perlu merangkak kemasa jauh sebelumnya yakni istilah Juru didapati dalam prasasti Mulamalurung (th. 1255), mempunyai 12 lempengan tembaga . Pada lempe ngan VII halaman a baris 1—3 prasasti Mula Malurung menyebutkan “Sira Nararyya Sminingrat, pin ralista juru Lamajang pinasangaken jagat palaku, ngkaneng nagara Lamajang” yang artinya: Dia Nararyya Sminingrat (Wisnuwardhana) dikuatkan menjadi juru di Lamajang diangkatkan menjadi pelindung dunia di Negara Lamajang tahun 1177 Saka .(Data Lumajang dari internet).
Dengan demikian diperoleh gambaran yang pas pada istilah Juru yg. terdapat dalam Prasasti Mula malurung th. 1255, dengan istilah Tigang-Juru dalam implementasi Prasasti Gunung Buthak th. 1294, adalah sama, yakni sebagai pemimpin (Raja bawahan) dalam suatu wilayah.
Penyebutan salah satu Juru dari Tigang Juru, sebagai Juru Balambangan tidak muncul demikian sa ja/ serta merta, melainkan karena oleh Elite (Raja-2 sbg. sumber pengetahuan wilayah turun temu run) Kerajaan Kediri, Singhasari maupun Ker. Majapahit telah lebih dahulu mengenali sebuah wilayah sederhana, yang bernama Balambangan.
Apabila merangkak lebih jauh lagi ternyata ada jejak yg mencengangkan bahwa di jaman Kediri telah dipergunakan kata Balambangan yg. merujuk pada komunitas/ masyarakat sederhana dan merupa kan tempat fungsional sebagai tempat penyeberangan dan tempat singgah .. mari kita ikuti petikan/ fragmen ceritera lesan kuno dalam buku The History of Java oleh Thomas Stamford Raffles, penerbit Narasi, cetakan pertama 2008 pada hal. 443 (atas) mengangkat Ceritera Rakyat yang sangat popu lair, antaranya Legenda Silsilah Raja-2 Hindu, Silsilah Penguasa Hindu, oleh Nata Kusuma Pejabat Panembahan Sumenep; Legenda yg. disusun Kiai Adipati Adi Manggala, bekas Bupati Demak, hal di mulai abad VI. Pasemon yang bisa ditangkap bahwa “Balambangan” sebagai tempat terstruktur se derhana sudah ada sejak jaman kuno, bahkan lebih tua dari jaman Kediri/ Daha, selengkapnya ter tulis sbb. :
“………… yang diceriterakan terjadi diantara Keluarga Sawela Chala dengan Keluarga Aru Bandan, se orang raja dari Maluku dan menetap di Balambangan. Setelah mendengar kedatangan Sawela Cha la, sang raja ini disertai para Pengikutnya menyusul ke Medang Kamulan dan tunduk kepada kekua saan Sawela Chala, dengan syarat bahwa propinsi-propinsi di bagian timur termasuk Balambangan harus diakui dibawah kekuasaannya dan para keturunannya. Tidak mau ketinggalan atas “isu Aji-so ko”, isu harta warisan Mataram kuno yg. merupakan pemerintahan reguler pertama, terkait perobahan kehidupan sosial, dari kehidupan liar memasuki sebuah peradaban/ jaman sejarah.
Seperti yang diakui oleh Thomas Stamford Raffles (444, atas):
| Banyak negeri-negeri dan dinasti-dinasti kecil serta kepentingan-kepentingan terpisah yang tanpa diragukan lagi telah ada di Jawa sejak permulaan sejarah, (termasuk Balambangan). |
“Suasana Ceritera rakyat” tidak lepas dengan fiksinya, namun mengandung bobot kesejarahan sa ngat tinggi yakni “Ceritera Panji Ino Kertapati” dan Anggrene (Dewi Sekartaji) melansir Pelaku/ Tokoh -2 nyata di Daha dan lokasi nyata Daha, Bali dan Balambangan, sekitar tahun 1090-1140, bagaimana pulang-baliknya Panji Ino Kertapati dari Bali singgah di Balambangan kawin dgn. putri Balambangan dan mendapatkan bala-bantuan untuk melanjutkan perjalanan ke Kediri, yg. oleh kehebatan karya Pu jangga di saat itu dan otentisitas sebagai karya Nusantara, mendapatkan pengakuan sbg. warisan bu daya dunia. “Memory of the world (MoW. Oleh UNESCO) pada 31 Okt. 2017; Ceritera Panji adalah kisah murni ala Jawa yang terjadi dalam pemerintahan Kerajaan Jenggala, diduga kuat oleh Pujangga disaat itu..
Menurut C.C.Berg (1928), masa penyebaran ceritera Panji di Nusantara berkisar antara tahun 1277 M (Pamalayu/ Singhasari) hingga +- 1400 M/ Majapahit, ditambahkannya pula bahwa : .. tentunya te lah ada ceritera Panji dalam bahasa Jawa kuno dalam masa sebelumnya. .
Merangkak lebih jauh ketika Rsi Markandeya Purohitro Kerajaan Mataram kuno Raja Sanjaya abad ke VIII, telah membawa peradaban sejarah (pertanian, kesehatan, keamanan, agama dan banyak ketrampilan) bermukim & mendirikan pethirtaan di wilayah. lereng Gn. Raung, disekitar gumuk Kancil, Bumiharjo, Kec. Glenmore dalam waktu relatif lama, ikut meramaikan lalulintas penyeberangan di Balambangan menuju ke Bali.(Thomas Racharto)


Komentar