Batik Banyuwangi Kuatkan Ekonomi Masyarakat

Batik Banyuwangi Kuatkan Ekonomi Masyarakat
Spread the love

Industri batik banyak tersebar hampir di setiap daerah di seluruh Banyuwangi dan telah dikuasai secara turun temurun dengan ciri khasnya masing-masing, antara lain di Kemiren, Temenggungan, Labanasem, Sempu, dan Simbar. Bahkan, pelestarian batik ini telah mendorong masyarakat Banyuwangi menyadari dan menghargai budaya yang mempunyai nilai luhur sebagai identitas daerahnya tersebut .

Namun, kondisi sekarang regenerasi pembatik Banyuwangi semakin berkurang, pembatik yang ada sudah berusia lanjut. Mutu dan desain belum sepenuhnya sesuai dengan permintaan pasar. Standardisasi mutu masih kurang tersosialisasi.

Berdasarkan permasalahan ini, penting untuk dilakukan pertama, kaderisasi pembatik yang berkualitas antara lain melalui pelatihan yang diarahkan guna meningkatkan sumberdaya manusia yang mampu menghasilkan produk yang dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang. Pengembangan batik dapat dilakukan dengan mengaplikasikan hasil penelitian, pengembangan desain dengan mengeksplor corak dan motif setempat yang disesuaikan tuntutan masyarakat. Adapun metode pelatihan yang dapat digunakan dengan segera, antara lain pelatihan bagi industri yang sudah tumbuh diarahkan ke pemecahan masalah yang ada di lapangan seperti teknik pelilinan, pewarnaan, pencelupan, penjemuran dan sebagainya.
Kedua, pelatihan pada tarap penumbuhan diarahkan untuk membuat produk yang jelas dengan pasar yang jelas.

Pelaku batik Banyuwangi harus diberikan akses untuk mengomunikasikan produk batiknya di setiap kesempatan baik melalui festival, pameran, workshop, dan lain sebagainya. Selanjutnya, pelaku batik Banyuwangi harus mampu meyakinkan bahwa yang diproduksi adalah batik bukan tekstil bermotif batik, hal ini dapat dibuktikan melalui batikmark atau diskripsi mutu produk tersebut, sehingga dengan informasi yang jelas menarik akan memberi nilai tambah harga batik.

Selanjutnya, sosialisasi mutu batik Banyuwangi ini diarahkan pada desain batik Banyuwangi yang lahir dari pesan-pesan moral yang tertuang dalam karya seni yang berbasis budaya. Filosofi dari nama, makna, dan warna yang tertuang berasal dari hati. Kain batik dengan motif tertentu, seperti gajah oling, kangkung setingkes, sembruk cacing, galaran, alas kobong, blarak semplak, atau semanggian mempunyai makna sesuai dengan peran dan struktur hubungan sosial yang digunakan dalam upacara adat dan ritual di banyak daerah Banyuwangi, antara lain untuk keluarga priyayi, upacara pernikahan, acara keagamaan, asesoris, produk interior, dan produk kreatif, yang digunakan sebagai identitas suatu daerah. Di sini orang Banyuwangi lahir dalam budaya, hidup dengan budaya, mati dengan budaya, menyisakan peninggalan budaya. Batik sebagai bagian dari budaya Banyuwangi mengiringi perjalanan hidup orang using dengan seni dan keindahannya. Akhirnya, batik sebagai jati diri orang using bermanfaat dan menjanjikan kesejahteraan bagi yang menggeluti, yaitu akan menyejahterakan masyarakat pembatik, yang dapat menumbuhkembangkan industri batik itu sendiri.(Dr. Bambang Suharto, Dosen Pariwisata Unair Surabaya)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan