Patrol dulunya berasal dari nama musik Thethek, total menggunakan alat yang terbuat dari Bambu, dimainkan malam hari di bulan Puasa untuk hiburan dan membangunkan orang untuk melakukan sahur.
Musik patrol terbuat dari bambu yang terdiri dari Penthongan, Bumbung, Titir, Theruthuk dan lainya. Tabuhan musik Patrol biasanya diikuti oleh lebih dari lima hingga sepuluh orang. Patrol selain sebagai hiburan untuk membangunkan sahur juga bisa dimanfaatkan untuk Sistem Keamanan Lingkungan atau Siskamling.

Menurut tokoh adat budaya dari Kopat Sanusi Marhaedi patrol adat tradisi yang setiap tahun ada terutama di musim bulan Ramadhan. Musik patrol itu dari pentongan jajang/bambu. Jadi Patrol itu dari Pentongan Openino Tanah Osing Blambangan dan berakhir membuat Kopat pertanda hari raya Idul Fitri.
“Patrol itu kepanjangan dari papan anak turune raja osing lahir kudu ono peringatene angger tahun kopat, “kata Sanusi.
Acara Lomba Patrol 2021 yang akan di selenggarakan di area Waroeng Kemarang, diikuti 13 group peserta dari berbagai wilayah di Banyuwangi. Setelah tampil di Panggung Omprok selama 10 menit, perserta diberi kesempatan keliling di area Warung Kemarang, dan terakhir tampil di joglo utama rumah adat Osing selama 5 menit. Hal ini sebagai tempat mewadahi untuk para seniman budyawan karena tahun ini festival Patrol tidak masuk dalam Banyuwangi Festival karena Pandemi Covid.
Sebelum dimulai penampilan grup musik patrol owner Warung Kemarang Wowok Meirianto dalam sambutannya mengatakan Bahwa dalam lomba patrol ini ada sedikit pergeseran yaitu dari aturan panitia alat musik harus dari bambu, penilaiannya ada penampilan gerakan, koreo, harmonisasi, sehingga kesenian patrol menjadi hiburan untuk semua dalam menyambut kedatangan tamu, baik tamu lokal maupun internasional bukan hanya dimainkan pada bulan Ramadhan saja.
“Jurinya dari berbagai macam budaya, diharapkan nantinya juaranya adalah juara-juara yang tangguh. Mari berkompetesi dengan sehat sehingga bisa presh lagi sehingga musik tradisional patrol bisa maju dan tetap lestari, “harap Wowok Meirianto.
Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi M. Yanuarta Bramuda, M.Si. Dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan festival Patrol 2021 di grand final pada Sabtu (08/05/2021) ini akan melihat lomba dengan protokol kesehatan karena covid belum berakhir jadi perlu dipahami.
“Saya setuju yang model-model sekarang sudah sekarang adalah bagaimana menjadi sesuatu yang bisa dinikmati, hari ini adalah kami melihat sesuatu yang bisa dinikmati dan salah satunya nanti masuk juara 1 akan ditampilkan di silaturahmi online sekarang, nggak boleh ada open house nggak boleh ada halal bihalal, nanti akan ketemu sama kawan-kawan di Australia di Amerika dengan hari ini yang masuk final Tampilkan ditonton oleh budaya lama dengan keinginan itu yang saya sampaikan Insya Allah semoga ini menjadi budaya kita, “pungkasnya.

Dalam sambutannya Wakil Bupati Sugirah sebelum menyerahkan piala kepada para pemenag lomba music patrol mengatakan bahwa musik patrol sebagai musik penggunggah sahur harus dilestarikan sebagai warisan adiluhung.
“Musik patrol sebagai penggugah bagi masyarakat agar bisa sahur dan bisa melaksanakan ibadah puasa nantinya, sehingga pemusik akan memeroleh pahala berkat jasanya tersebua dan salah satu terobosan di dalam rangka melestarikan seni budaya Karena bagaimanapun juga seni budaya ini kita pertahankan dan melestarikannya,”ungkap Sugirah Senin (09/05/2021).
Jadi musik patrol sekarang dulunya hanya sebagai musik tadisional untuk membangunnkan orang berpuasa untuk makan sahur diharapkan oleh para seniman budayawan sekarang bukan hanya itu, akan tetapi bisa untuk hiburan menyambut tamu lokal maupun internasional sehingga musik patrol otomatis bisa lestari.(AM)


Komentar