Banyuwangi kembali menggelar Festival Padi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, setiap tamu yang mau memasuki pintu masuk terlebih dahulu diperiksa suhu tubuhnya dan diberi cairan Hand sanitizer. Rangkain Festival lama tidak terselenggara di Banyuwangi, hal ini disebankan karena wabah pandemi covid-19 melanda negeri Indonesia dan bahkan dunia. Covid-19 telah meninabobokkan agenda rutin berbagai festival di Banyuwangi dan hari ini festival mulai lagi di gelar yang diawali dengan penyelenggaraan Festival Padi yang bertempat di dusun Rembangan desa Banjar Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi-Jatim.
Pembukaan Festival Padi hari ini (Senin 20/09/2021) diisi berbagai hiburan seni tradisional dengan menampilkan pertunjukan Kebo Keboan yang ditampilkan oleh group penari dari desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh. Tari Kebo Keboan ini adalah merupakan tarian yang bertujuan pariwisata. Para penari berjumlah 10 Orang dengan kostum menyerupai Kebo (kerbau) seakan sedang membajak sawah secara tradisional.

Selanjutnya pengunjung di beri suguhan tari Dewi Sri yang dimainkan oleh kelompok tari Dwi Sri , Jenggirat tangi dan Langlang buana serta ditampilkan pula atraksi tari Gandrung Galengan yang dimainkan oleh 100 Orang penari, mereka menari di galengan (pembatas) persawahan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas dalam sambutannya mengatakan bahwa Festival Padi di dusun Rembang desa Banjar Kecamatan Licin adalah merupakan festival perdana yang digelar sebagai upaya untuk menghidupkan budaya agraris tanam padi secara tradisional di tengah modernisasi pertanian, pasca pandemi covid-19 dan semoga kita juga bisa melaksanakan festival festival yang lainnya apabila pandemi covid-19 benar benar sirna.

Lebih lanjut kata Bupati “Saya ingin tunjukkan kepada semua orang bahwa di Banyuwangi masih ada budaya agraris yang melingkupi kehidupannya, yang mana budaya itu telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan, “ujarnya.
Lebih lanjut Ipuk “Festival Ternak di Banyuwangi diselenggarakan secara firtual dan ini merupakan satu satunya festival ternak yang ada di ilIndonesia dengan juri dari Universitas Airlangga.
Menurut Sarpin “Dalam Festival ini ditunjukkan cara petani mulai dari tradisi cocok tanam secara tradisional maupun secara modern, cara merawat sampai panen dan ternyata mereka lebih mengedepankan penggunaan pupuk organik maupun non organik. Selain itu dalam festival padi ini juga di pamerkan Tanaman bunga, Tanaman buah, Budi daya Ikan tawar, Budi daya Ternak unggulan (Sapi dan Kambing),” ujarnya.
Sebelum menutup sambutannya, Bupati menitipkan desa Banjar kepada Kepala desa Banjar untuk tetap dijaga dan melaksanakan Peraturan desa yang mengatur tentang pemanfaatan lahan efektif di areal pertanian maupun perkebunan.
Arief Setiawan selaku Kepala Dinas Pertanian dan pangan yang didampingi oleh Kabid Tanaman pangan, Kabid Perkebunan dan Hortikultura, Kabid Kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, Kabid Budidaya kelembagaan dan usaha peternakan mengatakan dalam sambutannya bahwa : “Festival padi adalah juga sebagai ajang konsolidasi berbagai sektor. Festival ini melibatkan banyak pihak, mulai dari pelaku di sektor Pertanian, ketahanan pangan, bidang pengairan, hingga sektor pariwisata yang bisa memberikan nilai tambah pada bidang pertanian ini, Selain itu lewat festival ini kami ingin menumbuhkan kebanggan terhadap profesi petani, yang dampaknya bisa menumbuhkan kebanggaan warga akan desanya. Petani generasi muda juga bisa bangga akan profesinya, ” pungkasnya.
Setelah acara seremonial ditutup, kemudian Bupati yang didampingi oleh unsur Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), Ketua Team penggerak PKK kabupaten, Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan dan tamu undangan meninjau langsung taman bunga dan buah.
Area sawah yang dipergunakan untuk festival ini luasnya sekitar 3 Ha, ditata dengan apik dan indah serta dipinggir pinggir galengan ditanam kembang warna warni menambah kesan sebagai tempat destinasi wisata pertanian yang baru dan patut dikunjungi.
(Hariyanto)


Komentar