Perwakilan penggiat kopi dari 11 wilayah penghasil kopi di kabupaten Banyuwangi berkumpul dan melakukan selebrasi penyatuan kopi dalam rangka memperingati Hari Kopi Sedunia di desa Tamansari kecamatan Licin Banyuwangi, Jum’at (1/10/2021).
11 perwakilan tersebut antara lain berasal dari Kalibaru, Glenmore, Songgon, Tamansari, Papring, Gombengsari, Pakel, Telemung, Kalibendo, Kaliklatak, dan Sumbermanis. Selain itu, beberapa komunitas juga turut hadir diantaranya Kokawangi, Go Destinasi, Banyuwangi roastery (Bares), serta Pemuda Papring.
Novian Dharma Putra, salah satu penggiat kopi menginginkan adanya common brand untuk produk kopi Banyuwangi.

“Dengan Common Brand, kopi Banyuwangi akan lebih mudah dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia”,tegas owner Mobil café (MOCA).
Sementara itu, Agus Hari Hadi, perwakilan dari wilayah Kalibaru mengatakan, kopi robusta Banyuwangi memiliki kualitas yang baik dan sangat berbeda dengan kopi manapun. Hal ini dipengaruhi oleh geografis dan tipografi wilayah.
“Kopi Robusta Banyuwangi memiliki karakter yang sangat berbeda dari daerah lain. Tidak ada yang sama, bahkan dibanding dengan kopi manapun dari seluruh dunia, ”ucapnya bersemangat.

Menurutnya Banyuwangi juga memiliki Bean Belt, yaitu wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik ideal untuk kopi. “Karena Bean Belt tersebut berbentuk huruf ‘L’ maka kami menyebutnya ‘Bean Belt Lingga Rotation, yaitu Kalibaru, Glenmore, Pesanggrahan, Songgon, Kalipuro, Licin dan Wongsorejo, ”terang pria yang sedang menyelesaikan program Doktoralnya di Institut Pertanian Bogor ini.
Agus menegaskan, seharusnya cukup untuk 11 perwakilan dari Lingga Rotation ini untuk melaksanakan konferensi kopi di Banyuwangi. Kemeriahan dalam acara Internasional Coffee Day, di iringi dengan lagu lagu khas banyuwangi dan tanyak jawab sepeutar kopi dan di tutup dengan selebrasi pengumpulan biji kopi dari masing-masing wilayah. (Abe)


Komentar