oleh

Ibu Penjual Baju Nyambi Jadi Pengrajin Kembang Telur Dadakan

Jumaati (50), warga asal Dusun Klontang, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu kebanjiran order kembang endok.

Ibu 2 anak tersebut juga memiliki usaha toko baju di Pasar gendoh kiini mulai kewalahan dengan lonjakan permintaan sejak 3 hari belakangan ini.

” Sampai saya bawa ke toko sekalian nyambi buat disini, banyak soalnya yang pesan, kata Jumaati kepada wartawan pada Rabu (12/10/2021).

Untuk mensiasati lonjakan permintaan yang mencapai ribuan, Jumaati hingga mempekerjakan kakak dan juga 2 orang anaknya.

“Kita kerjakan bersama kakak dan 2 anak saya, supaya mampu memenuhi target ordernya.” Ujarnya.

Jumaati menyebut,” ada 9 toko yang sudah menjadi langganan tetap, setiap toko bervariasi jumlah pengambilannya. Mulai dari pengambilan 700 biji hingga yang terbanyak 1500 biji,” kata jumaati kepada wartawan.

Untuk harga sendiri Dibanderol dengan harga yang bervariasi. kualitas standart per 100 biji dijual dengan harga Rp 30.000, sedangkan yang kualitas premium dijual dengan harga Rp 80.000 per seratus biji.

“Beda beda harganya, kalau dijual kembali harga ikut grosir namun jika pengambilan sedikit harganya ikut eceran,” Tambahnya.

Meski omzetnya meningkat pada perayaan Maulid kali ini, jika dibandingkan sebelum pandemi bisa dibilang masih menurun.

“Dulu sebelum pandemi omzet bisa mendapat Rp 5 juta, kalau sekarang dapat Rp 2,5 Juta agak ngoyo,” ungkap Jumaati.

Jumaati yang sudah 5 tahun menjadi pengrajin Kembang telur dadakan tersebut, mengaku sejak Hari Raya Idul Adha sudah menyicil bahan pembuatnya. Mulai dari kertas klobot, bambu, kawat, hingga lem sebagai bahan perekat.

 

Reporter  : Eko Purwanto

Editor       : J. Subhan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *