BANYUWANG, Jurnal News —Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bamyuwangi undang hadirkan murid tingkat TK, SD & SMP dalam gerakan Seruni Wangi.
Gebrakan Kadis Dr.Alfian, S. Pd, M. Pd yang dimulai uji coba sejak liburan semester kemarin. ” Bagaimana mendekatkan bacaan dan literasi pada siswa dengan inovasinya yang bertajuk Seruniwangi. Seruniwangi kepanjangan dari Sepekan Literasi Unik dan Inspiratif Banyuwangi.” Ujar mantan Kepala SMP Bustanul Makmur Gentengi yang juga Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten ini pada sambutan yang diberikan saat sesi zoom sebulan lalu.
Program yang digagas oleh Dr. Alfian, M.Pd merupakan serangkaian program yang sudah disusun selama satu semester yakni dari Juni sampai Desember 2026.Kadis disamping didampingi Pustakawan H. Yusuf Khoiri juga Agus Hermanto, S. Pd dan Waritsin, S.Pd.
Materi kegiatan berupa literasi baca tulis, literasi budaya, literasi sains, literasi IT, literasi finansial, Holiday Learning Class dan Bedah Buku.
Peserta yang dihadirkan berasal dari sekolah di wilayah zona kantor depan Stadion Diponegoro ini. Adapun secara ringkas setiap hari Selasa berasa dari TK, Rabu berasal dari siswa SD dan setiap hari Kamis siswa SMP.
Kamis (23/7/26) ini pas jadwalnya murid SMP Negeri 1 kebagian dengan materi baca tulis. Temanya mengenal budaya, lagu dan puisi dalam bahasa Using.
Momentumnya bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026. Tahun ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.
Pemateri yang berasal dari MGMP Bahasa Using, namun menariknya mata pelajaran bahasa Using sudah banyak sekolah yang tidak mengajarkan mata pelajaran tersebut.
Namun rasa cinta guru guru yang merasa hidup di tanah Using, memanggil untuk terus melestarikan bahasa leluhur yang adigung adiguna. Diantaranya dengan membuat komunitas Bahasa Using untuk siswa siswi di sekolah masing-masing.
“Begitu juga di SMPN 1 dengan komunitas yang mereka sebut kemuning “Kata Bu Holip guru IPS yang juga mentor Balai Bahasa Jawa Timur sekaligus pembimbing komunitas kemuning. “Kaya nemu ndaru. Pas dikasih tahu materinya Bahasa Using.” Ujar beliau penuh haru dengan mata berbinar seperti padang ulan.
Belajar Pakai ‘Pemantik’ dan Permainan
Kegiatan dibuka fasilitator dari MGMP Bahasa Using, Rudy Tjahjono Rijanto.
Kalimat pertama yang dilontarkan langsung menjadi pemantik diskusi: “Paran kang nggarahi sira mongkog teka Banyuwangi iki?” – Apa yang membuatmu bangga jadi orang Banyuwangi?” tanya penyiar radio yang juga guru PPKN di SMPN 2 Banyuwangi ini.
Spontan anak-anak menjawab kompak. “Alam dan budayanya,” kata Julian Artanti dari bangku paling belakang. Disusul teriakan lain, “Kuliner!” “Sega tempong!”
“Jawaban anak-anak semua benar. Tidak ada yang salah. Ini ibarat menyalakan api, harus ada bara dulu. Dalam pembelajaran namanya pemantik,” jelas Rudi yang sekretaris MGMP USING SMP.
Setelah pemanasan, anak-anak dibagi menjadi lima kelompok. Mereka memainkan Quartets Game versi Banyuwangi. Kaftu tersebut berisi kartu bergambar dengan materi upacara adat, makanan, kesenian, sayur, hewan, hingga tempat wisata khas Banyuwangi.
Aturannya sederhana. Setiap anak mendapatkan empat kartu. Giliran pertama meminta kartu ke lawan dengan menyebut nama gambarnya. Jika punya, harus diberikan. Jika tidak, ambil dari tengah. Yang berhasil mengumpulkan seri kartu yang sama berjumlah empat dan terbanyak, maka dialah pemenangnys.
Sorak-sorai pecah setiap ada yang berhasil melengkapi seri. “Ternyata mereka bisa fokus tanpa distraksi gadget. Sambil main, tanpa mereka sadari mereka juga latihan bertanya, konsentrasi, kejujuran, daya ingat dan kerja sama,” ungkap Yeti Chotimah–penulis yang juga pegiat Lembaga Pendidikan Seni Nusantara dan seorang Guru Pendamping Khusus Anak Difabel ini.
Nulis dan Maca Geguritan Pakai Ejaan Hasan Ali
Usai bermain, kegiatan berlanjut praktik menulis oleh Yeti Chotimah selaku ketua MGMP Bahasa Using tingkat SMP sekaligus gutu IPA SMPN 3 Rogojampi.
Dengan media soundmini anak-anak diminta mendengarkan lagu Banyuwangi, lalu menulis liriknya di kertas.
Qonita Ruby Humaira, siswi yang dulu juara 1 lomba cerpen saat SD, maju ke layar lcd di depan menunjuk kesalahan penulisan dari lahu yang ditayangkan di youtube. “Yang salah tulisan seperti ‘koco’ harusnya ‘kaca’. ‘Podho teko’ harusnya ‘padha teka’,” ucapnya disambut tepuk tangan dari teman sejawatnya.
Ejaan yang dipakai mengacu pada Kamus Bahasa Using karya Hasan Ali.
Kegiatan tersebut semakin meriah karena para narasumber memberikan reward bagi tulisan yang kesalahannya paling sedikit. Reward nya berupa buku berjudul Keboan, puter kayun dan Mantu kucing terbitan Erlangga Kid Jakarta untuk menambah wawasan budaya Banyuwangi bagi yang membacanya.” Ujar Yeti selaku salahsatu penulis buku tersebut
Penutup kegiatan diisi materi membaca puisi oleh Sufyan Syah wakil ketua MGMP Bahasa Using sekaligus guru Matematika SMPN 2 Rogojampi.
Dua siswi, Elfrida Juwan dan Akilah Bilah, maju membacakan puisi yang dismbil dari E_book Buku berjudul Gotong Royong. Buku antologi puisi karya Guru guru Se-Kabupaten Banyuwangi dari hasi pelatihan membuat puisi satu tahun lalu dari programnya MGMP Bahasa Using. “Tinggi rendah suara saat baca puisi bisa membawa pendengar masuk ke rasa yang berbeda. Maka jika membaca berilah puisi itu nyawa dari kekuatan kata kata” tambah Sufyan yang muridnya meraih prestasi geguritan.
Harapan: Bahasa Using Kembali Masuk Kurikulum
Bagi para fasilitator, kegiatan ini menjadi bukti bahwa belajar tidak harus di dalam kelas dan bisa memanfaatkan media apa saja yang sudah banyak tersedia di wra sekarang.
“Sayangnya Bahasa Using sudah tidak diajarkan di SMP. Padahal di SD dulu ada. Ibarat pisau, kalau tidak diasah akan tumpul. Harusnya ada kelanjutannya sampai SMA,” ujar Rudy.
Antusiasme siswa sebagai buktinya. Saat kegiatan selesai, mereka justru kompak meminta tambahan waktu.
“Pak, sekalian sampai jam 1 saja ya,” pinta Damar Putra Cahyadi, disambut sorak teman-temannya.
Dari SERUNI WANGI, terlihat jelas. Anak-anak tidak butuh gadget untuk bahagia. Cukup diberi ruang bermain, mereka mau belajar, bahkan untuk bahasa daerahnya sendiri. [Bung Aguk)


Komentar