BANYUWANGI- Sejarah perkembangan agama islam di Desa Krasak, Kecamatan Tegalsari pada pertengahan abad ke 20, tidak bisa terlepas dari sosok K.H Abdul Majid. Kyai kharismatik yang dikenal warga sebagai Ulama Pendiri Ponpes Mamba’ul Huda tersebut, memiliki jasa besar terutama dalam mengajarkan ilmu agama islam lewat metode nyantri serta ngaji ‘door to door’ selama masa hidupnya.
K.H Abdul Majid sendiri lahir di Dusun Jombokan, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Abdul Majid yang menjadi yatim sejak kecil, menghabiskan masa kanak-kanak hingga muda dengan menimba ilmu sekolah di tempat kelahirannya, termasuk belajar ilmu agama islam. Menurut keterangan K.H Muhammad Khozin (60) yang juga merupakan putra keempatnya, Abdul Majid muda baru hijrah ke Banyuwangi pada tahun 1929.
“ Saat pertama kali datang ke Banyuwangi pada awal tahun 1929, tujuan beliau adalah untuk bekerja di salah satu kantor kepegawaian dan pernah memiliki gaji bulanan tetap,” kata Muhammad Khozin yang juga pengasuh Ponpes Mamba’ul Huda Unit 3, Selasa (19/10/2021).
Namun keinginan untuk memperdalam ilmu agama islam yang semakin kuat, membuat Abdul Majid muda akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut dan memilih untuk mondok di wilayah desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.
“ Setelah menimba ilmu, beliau kemudian mulai mengajar di mushola kecil dan hanya memiliki jumlah santri yang masih terbilang sedikit,” terang Khozin yang tidak ingat kapan pertama kali ayahnya mulai mengajarkan ilmu agama di Dusun Krasak.
Meski begitu dengan ketelatenan dan keuletan yang dimilikinya, lambat laun jumlah santrinya mulai bertambah dari tahun ke tahun. Selain mengajar kepada santri, Abdul Majid juga menerapkan metode pengajian ‘door to door’ kepada warga, dari yang 1 minggu sekali hingga 1 bulan sekali yang selalu rutin digelar.
“ Ciri khas beliau yakni setiap kali berdakwah selalu mengajak warga untuk membaca kalimat syahadat serta istighfar. Dan beliau selalu membawa Al-Qur’an kecil kemanapun dirinya bertamu dan selalu membacanya, termasuk saat silaturahmi di kediaman warga yang beragama lain,” kenang Khozin.
Setelah memiliki banyak santri dan pengikut, pada tanggal 17 Agustus 1944 K.H Abdul Majid kemudian mendirikan Pondok Pesantren Mam’baul Huda yang dikenal banyak orang hingga saat ini. Barulah pada akhir tahun 1970 santrinya sudah mencapai ratusan orang lebih dan pengikutnya mencapai ribuan orang.
“ Teringat saat beliau wafat pada tahun 1984, jenazahnya tidak ditandu melainkan dibopong dari pelayat satu ke pelayat lainnya yang jumlahnya ribuan orang. Dimana jarak pondok hingga ke tempat peristirahatan terakhir berjarak hampir 500 meter,” ingat Khozin.
Karomah yang dimiliki
Pernah suatu ketika K.H Abdul Majid pulang ke kampung halaman di Yogyakarta dengan 5 orang pengikutnya melakukan perjalan dari stasiun menuju tempat kelahirannya yang berjarak 45 km dengan berjalan kaki, tidak ada 1 orang pun yang merasakan lelah. Bahkan menurut Khozin yang saat itu ikut rombongan, ada satu waktu ketika menempuh jarak 5 km K.H Abdul Majid meminta rombongan untuk berlari dan anehnya tidak ada satupun dari mereka yang berkeringat apalagi kecapekan.
“ Ada juga saat malam hari ketika perjalanan pulang, beliau meminta 2 daun kelapa kering atau dalam istilah jawanya ‘blarak’ kepada penduduk sebagai lampu penyinaran, dimana saat dinyalakan dan digunakan untuk menempuh jarak sekitar 10 km, daun kelapa kering terebut masih utuh dan 1 daun kering yang ditaruh diketiak beliau juga masih utuh,’’ ungkapnya.
‘’ Saat itu pernah bercerita bahwa di persawahan dekat sungai Kalisetail di dusun Krasak nantinya bakal ada kota yang ramai. Dan cerita itu saat ini menjadi kenyataan dengan berdirinya salah satu sekolah kejuruan negeri atau SMK yang memiliki murid hingga lebih dari 1500 siswa’’ pungkas Khozin.
Reporte : Eko Purwanto
Editor : J. Subhan


Komentar