oleh

Sarasehan oleh FPK dengan Tema “Membina Kerukunan Lintas Etnis, Suku sebagai Pengejawantahan Bhineka Tunggal Ika dalam Memperkokoh NKRI”

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyuwangi merajut keberagaman, hal itu ditandai dengan diadakannya pertemuan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Banyuwangi di Aula/Gedung Pertemuan TITD Hoo Tong Bio Karangrejo  Kabupaten Banyuwangi-Jatim (21/10/2021).

Kegiatan yang mengusung tema : “Membina Kerukunan Lintas Etnis, Suku sebagai Pengejawantahan Bhineka Tunggal Ika dalam Memperkokoh NKRI”. Sarasehan ini dalam acara pembukaannya dipimpin oleh Adi Sugiyanto dan Indah C., diawali dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan menyanyikan Mars Forum Pembauran Kebangsaan.

Muhamad Rusdi kepala bidang Idiologi mewakili kepala Bakesbangpol kabupaten Banyuwangi menyatakan dalam sambutannya : “FPK dalam menyelenggarakan Sarasehan seperti ini sangat bagus karena dapat menjalin Keeratan antar ertis maupun agama yang ada di Banyuwangi, “katanya.

20211021_095257

Lebih lanjut beliau juga mengatakan  bahwa kegiatan sarasehan seperti ini juga dapat dipakai sebagai alat untuk menciptakan NKRI.  Sarasehan ini dihadiri berbagai lintas etnis, suku dan agama yang ada di Banyuwangi diantaranya selain suku Osing juga dihadiri oleh Suku Makasar, Bugis, Minang, Padang, Bali, Madura, Arab, China, Mataraman, dll. Ada juga dari Kelompok Islam, Kristen, Hindu, Budha, Khong Hu chu, Aliran Kepercayaan dll.

Miskawi selaku Ketua FPK kabupaten Banyuwangi mengatakan dalam sambutannya  “Banyuwangi adalah pantas disebut Miniaturnya Indonesia, karena Banyuwangi banyak dihuni oleh berbagai macam Suku, Etnis dan Agama, diantara masyarakat Banyuwangi yang berbeda Suku, Etnis dan Agama, tidak ada sekat diantara mereka dalam menjalani hidupnya, “ungkapnya.

Masih kata Miskawi  Banyuwangi bangkit bukan hanya wisatanya saja tetapi juga budaya nya, inilah yang kemudian dapat mewujudkan NKRI.

Dalam kegiatan ini dilanjutkan dengan sarasehan dengan narasumber Indrayana, ST., MT.,  dari perwakilan Tionghoa dan Drs. Suminto dari PHDI Banyuwangi yang dimoderatori oleh Yeny Puspa Juwita dari perwakilan etnis Menado Sulawesi Utara.

Indrayana dalam penyampaian materinya banyak menceritakan peran orang-orang Tionghoa yang juga ikut berjuang melawan penjajah di Indonesia dan juga mewujudkan Indonesia merdeka.

Sementara Suminto banyak menjelaskan tentang perbedaan yang ada dapat dipersatukan dengan Bhineka Tunggal Ika (Tan Hana Dharma Mengwa) yang ada di dalam kitab Sutasoma karangan dari Empu Tantular di jaman kejayaan kerajaan Majapahit.

Acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab atau tanggapan dari apa yang narasumber telah sampaikan tadi. Disini rata-rata peserta hanya menegaskan bahwa perbedaan suku Agama dan juga ras sudah tidak perlu diperdebatkan dan lebih melihat pada sisi kemanusiaan.  Acara berakhir dengan para peserta menyanyikan lagu Padamu Negeri.  (Hariyanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *