Forum Gesah ini dihadiri oleh 20 peserta, yang merupakan perwakilan dari Dewan Kesenian Blambangan , MGMP seni budaya SMP dan SMA Kabupaten Banyuwangi. Salah satu kegiatan pra riset tersebut adalah dengan mengadakan Silaturahmi dan Gesah Bareng Dosen pasca sarjana ISI Yogya dengan budayawan yang tergabung dalam Dewan Kesenian Blambangan ( DKB ) pukul 18.00 di Galeri Kawitan S. Yadi K. Lingkungan Karangasem- Banjarsari Glagah , Jumat, (29/10/2021) malam.
Forum ini bertujuan untuk menggali informasi tentang keberadaan dan pelestarian kebudayaan di Banyuwangi. Tim pra riset dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta saat ini tengah melakukan pra risetnya selama 3 hari di Banyuwangi adalah :
1. Suwarno Wisetrotomo, lukis
2. Koes Yuliadi, teater
3. Prayanto, desain visual

Hasan Basri, Ketua DKB mewakili tuan rumah menyampaikan selamat datang kepada tamunya, Berkesenian modal semangat dengan militansi yang tinggi akan lebih ideal ada Perguruan Tinggi , agar bisa keluar dari tempurung memposisikan Banyuwangi dengan memotret Yogyakarta, Bandung, bagaimana peran pemikir dari elit seniman kurang kuat kearah perkembangan yang positif lebih mengalir ke arah tradisional.
“Kebudayaan sesuatu yang tidak boleh berhenti dan terus bergerak. Soal-soal sepele tentang kebudayaan bergerak lamban dengan pengalaman di Yogyakarta Kami berharap ada solusi potret arah gerak yg kita harapkan. B- fest hanya selebrasi kebudayaan belum mengarah ke prinsip pada umumnya, mudah- mudahan ada perhatian dari pemerintah daerah ,” tuturnya.
“Perhatian itu penting untuk memberikan gairah kesenian yang nantinya bisa jadi ‘mercusuar’ pada seniman. Beri kami ruang gerak yang sama,” imbuhnya. “Seniman dengan karya-karyanya, pemerintah membantu dengan wahananya, sehingga bisa tampil dan membawa pengaruh pada pembangunan anak bangsa dan Banyuwangi khususnya secara bangunkan kesadaran, buatlah hidup yang menghidupi banyak orang,” ujarnya menandaskan.

Ketua Dewan Pengarah DKB, Samsudin Adlawi juga mempertegas apa yang disampaikan Hasan Basri bahwa festival-festival yang digelar secara terpola dan terencana merupakan sebuah bagian besar dari revolusi kesenian yang nantinya akan memeprkuat posisi seni di dalam gempuran ‘mega tren’ dunia.
“Jadi seni tidak boleh dibiarkan di ruang kesendiriannya. Tidak hanya berhenti di ruang pameran tapi harus ada di ruang-ruang media sosial. Dan festival adalah wadah bagi ekosistem kesenian dan pemanfaatan digital media adalah harapan sekaligus tantangan bagi revolusi kesenian,’ terangnya.
“Seni budaya berperan penting dalam mengembangkan sektor pariwisata,” katanya.
“Oleh karena itu perlu dukungan semua pihak termasuk seniman, budayawan dan pelaku industri kreatif untuk mengembangkannya,” tambahnya.
Menurut Suwarno mewakili 2 temannya menuturkan bahwa sejak lama melihat ada ruang gerak dan perhatian dari pemerintah kepada seniman di Banyuwangi, untuk mengakomodir seniman tradisi dan non tradisi.
Kegiatan di Banyuwangi adalah pra riset , pemerintah mempunyai peran besar dalam menyediakan ruang-ruang berkesenian bagi para seniman terutama seniman tradisi di Banyuwangi. Akademisi dari ISI Yogyakarta ini pun menekankan pada proses komodifikasi pada seni dan tradisi , dengan proses yang berbasiskan nilai-nilai yang terkandung didalamnya menuju kepada ekonomi kreatif.
“Kembali lagi kemasan dan tampilan baru memerlukan jejaring dan penggunaan teknologi digital,” jelasnya.
Sementara itu Kus Yuliadi dosen teater ISI Yogyakarta menjelaskan tema yang diangkat diharapkan menjadi sebuah khasanah gagasan tentang perspektif kita tentang kesenian lintas batas, mulai dari tradisi, kepercayaan, ingga ritual.
“Kita harapkan ajang ini menjadi panggung bagi tokoh-tokoh yang benar-benar sungguh melakukan kerja kesenian. Ini adalah panggung bagi mereka yang sungguh menata lelaku seni, berbagi dengan sesama , ajang dialektika untuk memajukan seni Indonesia,” ujarnya.
“Tak hanya penyair, sastrawan, teater modern hingga musik dengan beragam genrenya bisa tampil untuk pembelajaran dan kreativitas,” tambahnya.
Koes pun berharap dengan keberadaan para seniman yang tampil akan bisa semakin mumpuni, semakin modern dengan perkembangan terkini serta bisa mandiri.
“Dan jangan dilupakan untuk bisa kembali ke jati dirinya, berkepribadian secara budaya, masih baru berjalan, mari kita semua pemerintah bersama akademisi, seniman untuk menjaga bersama agar festival ini bisa berjalan sesuai dengan koridornya,” pintanya.
Menutup paparan malam itu Prayanto dosen Desain Visual di hadapan puluhan peserta juga mengharapkan ke depannya seorang seniman, agar bisa ngempu (ngemong, red) orang-orang di sekitarnya, memberikan vibrasi positif lewat karya-karyanya, agar berperan menjadikan kehidupan yang damai dan harmonis. Tema yang diangkat diharapkan menjadi sebuah khasanah gagasan tentang perspektif kita tentang kesenian lintas batas, mulai dari tradisi, kepercayaan, ingga ritual konservasi budaya lokal.
“Kita harapkan ajang ini menjadi panggung bagi tokoh-tokoh yang benar-benar sungguh melakukan kerja kesenian. Ini adalah panggung bagi mereka yang sungguh menata lelaku seni, berbagi dengan sesama , ajang dialektika untuk memajukan seni Indonesia,” ujarnya.(Ilham Triadi)


Komentar