Meriahnya pembukaan bertajuk gesah lontar yusup, performa teater pertunjukan, dan pembacaan puisi diiringi musik akustik. Sore harinya Kirab Budaya menampilkan Barong diiringi jidor mampu menghipnotis warga sekitar Desa Jelun yang dilalui arak-arakan 9 ( sembilan ) pelukis yang akan berpameran di N. Kojin Art Studio Jelun terus menunjukkan konsistensinya dalam menjaga adat tradisi.
Selepas isyak dilanjut penampilan seni pertunjukan teater Melati anak didik Pramoe Sukarno dan musik akustik Jaz Patrol Kawitan menandai pembukaan Pameran lukisan Kelompok Satu Sama.
Tema tersebut diambil untuk menghidupkan kembali kearifan lokal di tengah-tengah budaya nusantara yang belakangan mulai redup tergerus budaya dari luar. Pameran akan diselenggarakan hingga 30 Juli 2022.

Narasi kisah dan kode-kode simbolik dalam lontar Yusup, baik secara tekstual maupun tradisi pelantunan tembangnya, amat menarik untuk dimaknai dan direspon dalam wujud karya seni rupa / seni lukis oleh seniman dengan gaya dan gairah personal masing masing.
Pameran lukisan Satu Sama resmi dibuka oleh Nasrudin Sarkowi, Kepala Desa Jelun , Minggu 24 Juli 2022. Tampak juga hadir Ainur Rofiq, Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, Slamet Sugiono Wakil Ketua 3 Dewan Kesenian Blambangan (DKB), pelukis, seniman , budayawan Banyuwangi dan masyarakat umum.
Bertema ” Gesah Lontar Yusup”, kelompok perupa “Satu Sama” memamerkan 20 karya lukis dari 9 perupa di Desa Jelun Kecamatan Licin Banyuwangi. Gesah Lontar Yusup tema tersebut diambil untuk menghidupkan kembali kerarifan lokal di tengah-tengah budaya nusantara yang belakangan mulai redup tergerus budaya dari luar. Pameran akan diselenggarakan hingga 30 Juli 2022.
Menurut Nasrudin Sarkowi, Kepala Desa Jelun, dari pameran ini dapat menjadi sarana edukasi dan hiburan
untuk para pengunjungnya.
Nasrudin juga berharap melalui pameran ini dapat kembali merealisasikan dan mengembangkan seni serta membuktikan bahwa seniman memiiliki karya – karya yang mengagumkan penikmatnya, khususnya masyarakat awam.
Ainur Rofiq, Kabid Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi meluangkan waktu untuk menghadiri dan menyaksikan langsung pameran karya seni rupa tersebut didampingi Alimi yang gak asing bagi para perupa Banyuwangi. Dalam kesempatan tersebut Alumni Fisipol Universitas Jember ini menyampaikan rasa bangga atas inovasi dan kreativitas yang tiada batas para seniman dan perupa dalam mengekspresikan karya-karya mereka.

“Ini merupakan pameran seni lukis yang sangat kreatif, dengan tempat di sebuah desa daerah perbukitan namun bisa disulap menjadi sebuah pameran karya lukis. Rasa memasyarakatkan lukisan dari desa ke desa. Dengan harapan dari 9 pelukis tahun depan bisa berkembang dari desa ke desa. Tentu inilah yang patut dicontoh bahwa berkesenian itu dapat dilakukan tanpa batas,” ujar Ainur Rofiq.
“Mudah-mudahan ini bisa membuka ruang seluas-luasnya, Saya percaya kegiatan pameran ini akan menginspirasi banyak seniman, tidak hanya seni rupa, tetapi semua seniman yang ada di Kabupaten Banyuwangi untuk berkreasi bersama,” pungkas Ainur Rofiq.
Komunitas Perupa yang tergabung dalam kelompok Satu Sama, diantaranya: Ben Hendro, Elyeze, Fafan Ariyadi, Ilyasin, Lilok Winardi, N Kojin, Susilowati, Sarwo Prasojo, dan Troy Herman.
Slamet Sugiono mewakili Ketua DKB yang berhalangan hadir, menyatakan dengan bahasa kurotarial yang santai, Komunitas 9 pelukis anggota kelompok ini bebas menafsirkan tema kurasi sesuai gayanya masing-masing yang sudah dikenal dikalangan pencinta seni lukis. Pameran lukisan kali ini akan memacu dan memberi semangat para seniman untuk melangkah berkarya dlm berkreatifitas.
“Mudah-mudahan semangat yang digoreskan oleh seniman melalui pameran seni lukis ini memberikan semangat untuk kita semua, tidak hanya komunitas seni rupa tapi membuka ruang seluas-luasnya bagi para pelaku ekonomi kreatif termasuk seniman. Mari kita bekerja sama memanfaatkan pengembangan ekonomi kreatif pada beberapa sektor, salah satunya adalah pameran lukisan ini salah satu bentuk nyata kegiatan ekonomi kreatif,” terangnya.
Sementara N. Kojin sebagai tuan rumah kurator titik ke 5 , menjelaskan tema yang diangkat kali ini adalah untuk mengingatkan masyarakat kembali bahwa di sebuah Desa Jelun Kecamatan Licin ini , diharapkan banyak Karya Lukisan yang sesungguhnya bisa belajar banyak dari kearifan tradisi untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan hidup kekinian,” tambah N. Kojin mewakili 9 pelukis untuk menyampaikan kurotarialya.
Ketua Panitia pelaksana kegiatan pameran karya lukis yang digelar oleh sembilan seniman dan perupa Banyuwangi kedepan akan digelar di 9 lokasi yang berbeda dalam sebulan sekali.
“Pameran ini nantinya diselenggaranakan di 9 tempat selama sebulan sekali. Pameran yang digelar saat ini merupakan yang kelima kalinya. Pertama di Curah Krakal, di Jajag, di Grajagan, di Siliragung dan sekarang di Jelun , Tentunya pameran memasyarakatkan seni rupa dari desa ke desa, ini juga dalam upaya mencari bibit-bibit perupa di pelosok-pelosok daerah yang akan kita gandeng supaya bisa berkembang,” ujar N. Kojin
N. Kojin juga sebagai Ketua Komite Seni Rupa dan ekonomi kreatif menjelaskan, ada juga tema lukisan yang mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa peradaban modern tidak selalu selaras dengan kehidupan bumi yang berkelanjutan. “Dan tampaknya 9 pelukis itu telah melakukan upaya tersebut melalui pameran lukisan ini, “tambahnya.
Dalam pameran ini, N. Kojin
menilai antusiasme masyarakat Licin dan sekitarnya sangat tinggi untuk mengapresiasi karya-karya dalam pameran ini.
“Saya kira antusiasme masyarakat sangat bagus, pembukaan ini bersinergi dengan masyarakat desa sejak sore mengarak 9 pelukis yang sedang berpameran dengan iring-iringan barong dan jidor. Semoga perkembangan seni rupa di Banyuwangi semakin maju, saya berharap teman-teman lainnya juga untuk menampilkan karya mereka,” pungkasnya.
Selama pameran diadakan melukis potret on the spot , gesah lontar yusup, performa teater pertunjukan , pembacaan puisi , musik akustik dan sarasehan bedah karya dengan mengundang siswa siswi baik SMP, SMA berikut para guru seni budaya di sekitar N. Kojin art studio dengan anggota kelompok Satu Sama yang sedang menggelar pameran.
Kelompok Satu Sama berharap dengan gerakan pameran simultan ini membawa perkembangan seni rupa Banyuwangi makin berkembang, kreatif dan membuka peluang pasar global.(Ilham Triadi)


Komentar