BANYUWANGI – Kelangkahan pupuk bersubsidi membuat para petani terancam gagal untung, pupuk subsidi semakin terus menjadi perbincangan hangat oleh para petani. Senin (03/10/2022).
Terhitung mulai bulan Juli hingga bulan September 2022, stok pupuk subsidi bantuan pemerintah diduga mengalami kelangkaan dikios pertanian yang melayani pupuk subsidi.
Kelangkaan pupuk subsidi membuat para petani terhambat dalam proses pemupukan tanaman yang dimiliki, tak hanya itu petani harus merogoh kocek lebih karena pupuk non subsidi harganya cukup tinggi.
Ketua “Aliansi Timur Raya” Sahrir mengatakan adanya kelangkahan pupuk subsidi membuat petani pada masa panen tahun ini terancam gagal untung.
“dampak kelangkahan pupuk subsidi membuat para petani kecil kebingungan, mereka menggunakan pupuk organik, ada juga yang memakai garam dapur.” Jelasnya.
Seharusnya, kata Sahrir, Komisi pengawas pupuk dan pestisida tidak hanya melihat stok pupuk subsidi yang disalurkan, tapi juga turun kelapangan bagaimana pupuk di kios bisa kehabisan stok.
“Padahal secara regulasi penyaluran sudah sesuai dengan e RDKK dan yang mendapatkan adalah anggota kelompok tani yang mempunyai kartu tani. Tapi masih bisa kehabisan stok, berarti ada yang tidak pas dalam penyaluran.” Terangnya.
Mestinya, lanjut Sahrir,“ Pengawasanya mulai hulu ke hilir, dilihat berapa stok di PT Pusri Banyuwangi, lalu distributor dan kios. Terus bagaimana penyalurannya ke petani. Sehingga bisa diketahuan jika ada kenakalan,” Tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi yang juga Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida, M.Khoiri menyampaikan, kelangkahan pupuk karena ada pengurangan kuwota berdasarkan aturan Permentan no 41 tahun 2021.
“Sebenarnya tidak langka hanya berkurang, untuk pupuk subsidi komoditasnya berdasar Permentan no 41 tahun 2021 terdapat 70 komoditas. Permentan no 10 tahun 2022 terdapat 9 komoditas yaitu padi, jagung, kedelai, cabe, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao rakyat, kopi rakyat. Hanya itu yang lain tidak dapat subsidi.” Terangnya.
Khoiri menambahkan, Berdasar SK Gubernur, Banyuwangi mendapatkan tambahan realokasi pupuk subsidi sampai dengan bulan Desember 2022 Urea 12.000 ton, NPK 15.000 ton.
“Untuk 18 Kecamatan kuota Urea dan NPK masih tersedia. Sedangkan 7 Kecamatan kuotanya sudah habis. Karena penebusanya sudah melebihi e RDKK.” Jelasnya.
Menurut Khoiri,” untuk yang 18 Kecamatan di kios – kios penyalur pupuk subsidi yang masih tersedia kuotanya saya pastikan akan mendapatkan jatah sesuai sisa alokasi pupuk subsidi dan akan dikirim oleh Distributor. Tetapi sebaliknya apabila di kios tersebut kuotanya sudah habis maka sudah tidak akan mendapatkan jatah pupuk subsidi sampai dengan Desember 2022.” Terangnya.
Sementara pemilik kios Yudi, sampai hari ini mengaku pupuk subsidi dikiosnya tidak ada lagi, itu sejak bulan Juli 2022, pupuk subsidi semua jenis kosong.
“Di kios saya, sejak bulan Juli kosong dan tidak ada kiriman dari distributor. Disini sesuai e RDKK, kami melayani dua kelompok tani,” terangnya. (Ry//JN).


Komentar